Bima mengenalku sebelum aku belajar menyembunyikan diri.
Kami satu sekolah, satu kelompok olimpiade akuntansi, dan pernah sama-sama dihukum karena mengoreksi guru di papan tulis. Ia tidak pernah menganggap diamku sebagai kelemahan. Karena itu, ketika aku butuh bantuan menelusuri perusahaan vendor, namanya menjadi pilihan paling aman.
Kami duduk di perpustakaan lant** tiga setelah tutup. Bima membuka laptop, menyusun data alamat, kepemilikan, dan nomor pajak.
“Tiga vendor ini baru dibuat enam bulan lalu,” katanya. “Direkturnya berbeda, tapi nomor telepon administrasinya sama.”
Aku mencatat. “Bisa lacak hubungan dengan pengurus BEM?”
“Perlu data lebih dalam. Aku punya teman magang di kantor legal.”
Pukul sebelas, kami masih bekerja. Bima menawarkan mengantar pulang karena hujan. Aku menerima tanpa berpikir tentang kontrak.
Kesalahan pertama.
Ketika kami keluar, Aksa berdiri di bawah kanopi dengan payung hitam. Ia seharusnya rapat di rektorat. Wajahnya tetap tenang, tetapi suaranya memakai bentuk keempat yang belum pernah kudengar: terlalu pendek.
“Sudah selesai?”
“Sudah,” jawabku.
Bima mengulurkan tangan. “Bima.”
“Aksa.”
Mereka berjabat tangan. Tidak ada yang salah. Namun keduanya menilai satu sama lain dengan cara laki-laki yang berpura-pura sedang membahas cuaca.
“Aku mengantar Nara,” kata Bima.
“Aku juga datang untuk itu.”
“Aku sudah janji.”
“Aku tidak tahu ada janji.”
Aku menyela, “Aku bisa memilih siapa yang mengantar.”
Keduanya diam.
Aku menoleh kepada Bima. “Terima kasih. Aku pulang dengan Aksa. Ada hal kontrak yang harus dibahas.”
Bima mengangguk tanpa drama. “Kabar kalau sampai.”
Setelah ia pergi, Aksa membuka payung. Kami berjalan berdampingan. Payung itu c**up besar, tetapi bahu kami tetap bersentuhan karena angin.
“Dia selalu mengantarmu?” tanya Aksa.
“Klausul kelima.”
“Aku hanya bertanya.”
“Kamu bertanya seperti sedang memeriksa saksi.”
“Dia membantu audit?”
Aku berhenti. “Kenapa itu masalah?”
“Aku belum mengenalnya.”
“Bukan berarti aku tidak boleh percaya.”
Aksa mengembuskan napas. “Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu ingin mengatakan begitu.”
Hujan memukul payung. Di bawah cahaya lampu, wajahnya terlihat lebih jujur daripada kata-katanya.
“Selena kembali,” kataku. “Aku tidak bertanya apakah dia selalu berdiri terlalu dekat saat rapat.”
“Itu berbeda.”
“Karena?”
“Karena hubungan kami selesai.”
“Hubunganku dengan Bima bahkan tidak pernah dimulai.”
Jawaban itu seharusnya menenangkannya. Justru rahangnya mengeras.
Aku melanjutkan berjalan. “Kita tidak punya hak saling mempertanyakan.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
“Tapi mengetahui aturan tidak otomatis menghilangkan perasaan.”
Aku menoleh. Aksa tampak seolah baru menyadari kalimat itu keluar.
“Apa perasaan?” tanyaku.
Ia melepas lanyard, meski kami tidak sedang di ruangan. Gerakan itu kecil, tetapi selalu berarti ia ingin berhenti menjadi ketua.
“Tidak penting,” katanya.
“Kalau tidak penting, jangan mengatur siapa yang mengantarku.”
“Aku tidak mengatur.”
“Lalu kenapa kamu datang?”
Ia diam terlalu lama.
Kami tiba di depan kosku. Aksa menyerahkan payung agar aku tidak kehujanan saat membuka pagar. Aku tidak mengambilnya.
Ponselku bergetar sebelum aku ma**k. Pesan dari Aksa, padahal ia masih berdiri satu meter dariku.
Apakah dia selalu mengantarmu pulang?
Aku mengangkat layar agar ia bisa melihat.
“Serius?”
Aksa memandang ponselnya, lalu aku. Untuk pertama kalinya, Ketua BEM yang selalu punya jawaban terlihat tertangkap basah oleh dirinya sendiri.
“Klausul kelima,” kataku.
Ia menatap hujan, bukan aku. “Mungkin klausul itu ditulis terlalu optimistis.”
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!