Selena tahu cara berjalan mema**ki ruangan seolah kamera sudah menyala.
Rapat sponsor hari kedelapan kontrak berlangsung di ruang media. Ia duduk di seberangku, memutar tablet, dan menjelaskan kampanye baru tanpa sekali pun kehilangan perhatian ruangan. Nara berada di ujung meja, meninjau anggaran publikasi. Ia hampir tidak bicara, tetapi setiap kali Selena menyebut angka, Nara menandainya.
Aku seharusnya fokus pada festival.
Sebaliknya, aku memperhatikan jarak Nara.
Sejak malam bersama Bima, ia bersikap sangat profesional. Pesannya pendek. Senyum untuk kamera muncul tepat waktu lalu hilang. Ia tidak lagi menggenggam tanganku setelah orang berhenti melihat.
Selena menyadarinya.
Ketika rapat istirahat, ia mendekat sambil membawa kopi. “Kalian bertengkar?”
“Tidak.”
“Berarti kamu sedang cemburu.”
“Aku tidak cemburu.”
“Kamu memakai suara rapat untuk menjawab pertanyaan pribadi. Dulu kamu melakukan itu padaku.”
Aku tidak suka dibandingkan dengan versi diriku dalam hubungan lama. Selena dan aku pernah menjadi pasangan yang terlalu publik. Setiap ketidaksepakatan berubah konten. Setiap permintaan ruang dibaca sebagai skandal. Setelah putus, aku bersumpah tidak akan lagi membiarkan hubungan menjadi alat citra.
Lalu aku membuat kontrak pacaran.
“Hubungan ini berbeda,” kataku.
“Ya,” jawab Selena. “Kamu tidak pernah menatapku seperti kamu menatap dia.”
Aku menoleh tanpa sadar. Nara sedang bicara dengan Bima melalui pangg***n video, menunjukkan tabel vendor. Ia tersenyum kecil pada sesuatu yang dikatakan laki-laki itu.
Rasa panas yang tidak ma**k akal muncul di dada.
Selena mengikuti pandanganku. “Itu dia?”
“Siapa?”
“Alasan klausul cemburu perlu dibuat.”
Aku berdiri. “Kita kembali rapat.”
Setelah rapat, Nara mengemasi dokumen. Aku menawarkan mengantar ke perpustakaan. Ia menolak karena Bima sudah menunggu.
“Kamu mempercayainya dengan data audit?” tanyaku.
“Aku percaya kemampuannya.”
“Aku bisa minta tim legal BEM—”
“Tidak. Semakin banyak orang organisasi terlibat, semakin besar risiko bocor.”
Aku tahu ia benar, tetapi cara ia menyebut Bima membuatku ingin mengatakan sesuatu yang tidak punya hak untuk kukatakan.
Selena ma**k sebelum aku sempat bicara. Ia memberikan flashdisk kepada Nara.
“Ini metadata foto pertama,” katanya. “Aku dapat dari akun yang mengunggah ulang sebelum file dikompresi.”
Nara menatapnya curiga. “Kenapa membantu?”
“Karena dulu orang menganggap aku membocorkan semua masalah hubunganku dengan Aksa. Beberapa memang salahku. Sebagian bukan. Aku tahu rasanya dijadikan tokoh jahat karena cerita butuh perempuan yang bisa disalahkan.”
Nara menerima flashdisk. Ketegangan di wajahnya sedikit berubah.
Aku melihat dua perempuan yang pernah dijadikan narasi publik memilih tidak mengulang pola yang sama. Itu seharusnya melegakan.
Anehnya, aku justru merasa tidak dibutuhkan.
Di lorong, Selena berjalan di sampingku. “Jangan jadikan Nara versi lain dari proyek komunikasimu.”
“Aku tidak.”
“Kamu membuat kontrak untuk mengendalikan cerita.”
“Dia menyetujuinya.”
“Persetujuan bukan alasan berhenti memeriksa dampak.”
Aku berhenti. “Kenapa kamu peduli?”
“Karena kali ini kamu benar-benar suka. Dan kalau kamu mengacaukannya dengan cara yang sama, kamu akan menyebutnya pengorbanan padahal sebenarnya kontrol.”
Kalimatnya tepat mengenai bagian yang selama ini kuhindari.
Di bawah, Nara berdiri bersama Bima. Ia mengenakan jaketku karena hujan, tetapi tertawa pada orang lain.
Aku tidak pernah menatap Selena seperti itu, katanya.
Aku baru memahami maksudnya ketika Nara menoleh dan matanya langsung mencari aku.
Untuk satu detik, seluruh ruangan menghilang.
Selena berbisik, “Lihat? Itu bukan akting.”
Masalahnya, aku tidak tahu apakah yang lebih menakutkan adalah ia benar—atau bahwa Nara mungkin belum menyadarinya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!