Aku mencoret klausul kelima dengan pena merah.
Tidak langsung. Sebelum itu, aku dan Aksa bertengkar selama empat belas menit di tangga rektorat, di bawah hujan yang membuat setiap kalimat terdengar lebih dramatis daripada seharusnya.
Masalahnya dimulai dari unggahan Selena. Ia memajang foto rapat sponsor bersama Aksa. Caption-nya profesional. Komentar publik tidak. Orang-orang mulai membandingkan aku dengan mantannya: Selena lebih cocok, lebih percaya diri, lebih selevel dengan Ketua BEM.
Aku membenci bahwa komentar asing bisa mengubah suhu tubuhku.
Sore itu, Aksa melihat Bima menyentuh bahuku ketika menunjukkan sesuatu di laptop. Sentuhan singkat. Tidak romantis. Namun setelah Bima pergi, Aksa bertanya, “Dia perlu sedekat itu?”
Aku menutup laptop. “Selena perlu mengunggah foto kalian berdua?”
“Itu kampanye sponsor.”
“Dan ini audit.”
“Dia menyentuhmu.”
“Selena memegang lenganmu.”
“Kami sedang merekam.”
“Kami sedang melihat satu layar.”
Aksa melepas lanyard. “Baik. Kita jelas sedang membicarakan hal lain.”
“Apa?”
“Bahwa aku tidak suka dia dekat denganmu.”
Hujan mulai turun saat kami keluar. Aku membuka payungku sendiri. Aksa berjalan di samping tanpa berteduh.
“Kamu tidak punya hak,” kataku.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa bicara?”
“Karena kamu juga tidak suka Selena dekat denganku.”
Aku berhenti di tangga. “Aku tidak bilang begitu.”
“Kamu tidak harus bilang. Kamu menatapnya seperti sedang mencari kesalahan pembukuan pada wajahnya.”
Meski marah, aku hampir tertawa. “Itu bukan bukti.”
“Cara kamu menarik tangan saat dia datang itu bukti.”
“Cara kamu menginterogasi Bima juga.”
Kami berdiri terlalu dekat. Air hujan menetes dari rambut Aksa. Tanpa lanyard, tanpa kamera, ia hanya laki-laki yang tampak lelah menahan sesuatu.
“Ini tidak seharusnya terjadi,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kontraknya jelas.”
“Aku tahu.”
“Kita harus berhenti?”
Pertanyaan itu membuat ekspresinya berubah. Semua kecemburuan hilang, digantikan ketakutan yang terlalu nyata.
“Apakah kamu ingin berhenti?” tanyanya.
Aku memikirkan kembali kehidupan sebelum foto: tenang, tidak diperhatikan, aman. Lalu aku membayangkan tidak menerima pesan Aksa, tidak menunggu suara ketiganya, tidak melihatnya melepas lanyard ketika ingin jujur.
“Aku tidak tahu.”
Ia mengangguk, meski jelas tidak menyukai jawabannya. “Kamu punya hak berhenti.”
“Kamu selalu mengatakan itu.”
“Karena itu harus tetap benar, bahkan ketika aku tidak ingin kamu menggunakannya.”
Kalimat itu menghentikan amarahku.
Kami kembali ke sekretariat dalam diam. Aku membuka salinan kontrak di meja, mengambil pena merah, dan mencoret klausul kelima.
Aksa berdiri di belakangku. “Apa artinya?”
“Artinya klausul ini gagal.”
“Kita menulis pengganti?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Aku menatap garis merah yang membelah kalimat tidak ada cemburu.
“Karena mungkin kita harus mengakui perasaan yang muncul, bukan pura-pura bisa melarangnya.”
Aksa menarik kursi dan duduk berhadapan. “Jadi kamu cemburu pada Selena?”
Aku menutup pena. “Jangan rakus.”
Senyumnya muncul perlahan. “Itu bukan penyangkalan.”
“Dan kamu cemburu pada Bima?”
Ia menatapku tanpa strategi. “Ya.”
Kejujuran itu membuat ruang terasa lebih kecil.
Ponsel kami berbunyi bersamaan. Jadwal festival diperbarui. Sponsor meminta kami tampil bersama di panggung utama dan menjawab rumor secara langsung.
Aksa membaca pesan, lalu menatap kontrak yang sudah kucoret.
“Besok kita harus lebih meyakinkan dari biasanya,” katanya.
Aku menyadari ironi paling buruk dari hubungan palsu kami.
Saat perasaan mulai nyata, kami justru harus berakting lebih keras.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!