Kursor itu berkedip-kedip dengan ritme yang konstan, seolah-olah sedang menertawakan sisa kewarasanku yang kian menipis. Di layar laptop 14 inci yang silau ini, sebuah dokumen Word berjudul *REVISI_FINAL_BISMILLAH_V12_FIX_BANGET.docx* tampak seperti sebuah nisan digital bagi masa mudaku. Putih, kosong, dan sangat mengintimidasi.
Aku melirik jam di sudut kanan bawah layar. Pukul 02:14 pagi. Enam jam lagi menuju batas waktu pengiriman email ke Pak Bambang, dosen pembimbingku yang memiliki reputasi bisa mencium aroma plagiarisme dari jarak tiga kilometer. Jika revisi Bab 4 ini tidak mendarat di *inbox*-nya tepat pukul 08:00, aku bisa mengucapkan selamat tinggal pada wisuda periode ini, dan selamat datang pada gelar "Mahasiswa Abadi" yang sudah menghantuiku selama dua semester terakhir.
"Ayo, Don... cuma analisis data. Tinggal interpretasi tabel," bisikku pada diri sendiri. Suaraku parau, pecah di tengah keheningan lant** empat perpustakaan pusat yang sudah lama kosong.
Hawa dingin dari AC sentral merayap ma**k ke balik jaket *hoodie*-ku yang mulai bau apek. Aku meraih gelas plastik di samping laptop, berharap masih ada seteguk kafein yang tersisa. Nihil. Hanya ada noda cokelat kering di dasarnya dan butiran gula yang tidak larut. Aku menghela napas panjang, mengusap wajah dengan kasar hingga kulit pipiku terasa panas.
Mataku terasa seperti ditaburi pasir malang. Setiap kali aku mencoba membaca baris data SPSS di layar, angka-angka itu seolah-olah melompat dan berdansa, mengejek kemampuanku yang sudah di ambang batas. *Signifikansi 0,05... Hipotesis diterima... Atau ditolak?* Fokusku buyar. Pikiranku justru melayang ke wajah Ibu di kampung yang minggu lalu menelepon hanya untuk bertanya apakah kebaya untuknya perlu dijahit sekarang. Rasa bersalah menghantam dadaku lebih keras daripada debaran jantung akibat overdosis kopi instan.
"Sial," umpatku pelan. "Kenapa gue hobi banget numpuk kerjaan sampai detik terakhir begini?"
Aku mencoba mengetik satu kalimat.
*Berdasarkan hasil uji regresi linier sederhana, ditemukan bahwa...*
Aku berhenti. Jariku menggantung di atas tombol *backspace*. Kalimat itu terasa hambar. Tidak valid. Tidak reliabel. Otakku benar-benar buntu, seperti ada tembok beton yang baru saja dibangun tepat di tengah-tengah lobus frontalku. Kelelahan ini bukan lagi sekadar kantuk; ini adalah rasa lelah eksistensial. Rasanya seperti seluruh energiku telah dihisap oleh ribuan referensi jurnal yang aku kutip tapi tidak benar-benar aku baca.
Tiba-tiba, lampu di lorong rak buku di belakangku berkedip sekali, lalu mati. Kegelapan merayap maju, menyisakan hanya pendar cahaya biru dari layar laptop sebagai satu-satunya sumber kehidupan di duniaku saat ini.
Dengung kipas laptopku terdengar semakin keras, berubah menjadi suara desis yang aneh. Aku mengerutkan kening, mencoba membetulkan posisi dudukku yang sudah membungkuk seperti udang. Namun, gravitasi seolah-olah mendadak berlipat ganda. Kepalaku terasa seberat bola meriam.
"Bentar... merem lima menit aja..." gumamku.
Aku tahu itu adalah kebohongan terbesar yang pernah diucapkan oleh seorang mahasiswa tingkat akhir. Tapi kelopak mataku tidak lagi mau berkompromi. Mereka menutup dengan paksa, seberat pintu lemari besi bank.
Dalam detik-detik sebelum kesadaranku benar-benar terputus, aku merasakan sesuatu yang ganjil. Layar laptopku tidak meredup. Sebaliknya, cahaya putih dari dokumen Word itu memancar semakin terang, menyilaukan mata meski kelopak mataku tertutup rapat. Ada sensasi aneh di ujung jariku yang masih menempel di atas *keyboard*βrasanya bukan lagi plastik keras, melainkan sesuatu yang dingin dan bergetar, seperti menyentuh permukaan air yang tenang.
Lalu, bunyi dengung kipas laptop itu berubah. Bukan lagi suara putaran mekanis, melainkan suara ribuan bisikan orang yang sedang merapal doa atau... membacakan daftar pustaka?
*Doni...*
Sebuah suara, lembut namun bergema seperti di dalam aula besar, memanggil namaku. Aku ingin membuka mata, tapi tubuhku terasa seperti sedang ditarik ma**k ke dalam lubang hitam yang sempit. Rasa mual menghantam perutku saat sensasi jatuh bebas mengambil alih. Aku tidak lagi merasakan kursi kayu perpustakaan di bawah bokongku. Aku tidak lagi mencium bau buku tua dan debu.
Bau yang terhirup sekarang adalah aroma mawar yang sangat kuat bercampur dengan bau tinta basah dan perkamen kuno.
Aku terkesiap, mencoba menarik napas, tapi paru-paruku terasa penuh dengan udara yang terlalu bersih, terlalu oksigenasi. Dengan sisa tenaga yang ada, aku memaksa mataku terbuka.
Bukan lagi langit-langit perpustakaan yang retak-retak yang aku lihat. Di atasku, terbentang langit berwarna ungu lembayung dengan dua bulan yang menggantung rendah. Dan di depanku, bukan lagi layar laptop yang kusam, melainkan seorang perempuan dengan gaun putih yang terbuat dari jalinan kertas-kertas bercahaya. Rambutnya panjang, mengalir seperti aliran tinta emas di atas udara.
Ia menatapku dengan mata yang sedalam sumur pengetahuan, lalu mengulurkan tangannya yang jemarinya tampak seperti pena bulu angsa yang halus.
"Selamat datang, Sang Penulis Draf yang Terbengkalai," ucapnya, suaranya seperti denting lonceng perak. "Aku adalah Athesia. Dan kau baru saja melewati batas metodologi untuk sampai ke sini."
Aku mengerjap, mencoba mencerna keg***an ini. Tanganku meraba ke bawah, mencari laptopku, tapi yang kutemukan hanyalah hamparan rumput berwarna perak yang gemerisik saat kusentuh. Di kejauhan, aku melihat sebuah kastil raksasa yang strukturnya tersusun dari tumpukan buku-buku raksasa yang menjulang menembus awan.
"Gue... gue pasti mati ya? Gue serangan jantung karena kebanyakan ngopi?" tanyaku dengan suara gemetar, lebih kepada diriku sendiri.
Perempuan itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah kenapa mengingatkanku pada komentar pedas Pak Bambang di kolom margin skripsiku. "Tidak, Doni. Kau tidak mati. Kau hanya sedang menjalani sidang yang sesungguhnya. Dan kau punya waktu enam jam sebelum duniakuβdan duniamuβterhapus karena kegagalan validasi."
Tepat saat itu, di cakrawala, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Seekor makhluk raksasa berbentuk gumpalan tinta hitam dengan ribuan mata merah mulai merayap mendekat, menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.
"Apa itu?" teriakku, refleks berdiri meski kakiku terasa seperti jeli.
"Itu adalah 'Revisi Tanpa Akhir'," jawab Athesia tenang. "Jika kau tidak bisa mengalahkannya dengan argumen yang valid sekarang, kau akan terjebak di dimensi ini selamanya sebagai catatan kaki yang terlupakan."
Aku menelan ludah. Tiba-tiba saja, menghadapi Pak Bambang di ruang sidang terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada di sini. Tapi saat aku melihat ke bawah, sebuah pedang dengan gagang berbentuk pena muncul di tanganku, dan di bilahnya terukir kalimat yang sangat kukenal: *Bab 4: Analisis dan Pembahasan.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!