Lant** marmer hitam di Aula Dekanat Kegelapan memantulkan bayangan diriku dengan kejernihan yang menyakitkan. Setiap langkah yang kuambil bergema, memantul di antara pilar-pilar tinggi yang tersusun dari tumpukan buku-buku tebal bersampul kulit manusia. Aroma di tempat ini adalah campuran antara debu perpustakaan kuno, tinta yang mengering, dan sesuatu yang jauh lebih tajam—aroma keputusasaan yang diformalkan.
Di ujung ruangan, di atas takhta yang dipahat dari ribuan lembar kertas revisi yang membatu, duduk Sang Dekan Kegelapan. Ia tidak tampak seperti monster bertaring; ia mengenakan toga akademik berwarna obsidian dengan jahitan benang emas yang membentuk pola sitasi rumit. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan tudung, namun tatapannya terasa seperti mata penguji yang siap merobek-robek argumen paling logis sekalipun.
"Selamat datang, Mahasiswa Doni," suaranya berat, bergulir seperti guntur di kejauhan. "Atau haruskah kupanggil... Paduka?"
Aku melirik Athesia yang berdiri di sampingku. Cahaya perak dari tubuhnya—perwujudan dari draf skripsiku yang berdarah-darah—tampak meredup di ruangan ini. Jemarinya yang dingin menggenggam tanganku, sebuah jangkar di tengah badai intimidasi ini.
"Aku bukan raja," sahutku, mencoba menelan ludah yang terasa seperti pasir. "Aku hanya ingin pulang. Aku punya revisi yang harus dikumpulkan sebelum tenggat waktu besok pagi."
Sang Dekan tertawa, suara yang lebih mirip gesekan amplas pada kayu. Ia berdiri, jubahnya menyapu lant** dengan suara *swish* yang mengancam. Dengan lambaian tangan, dinding di belakangnya memudar, digantikan oleh pemandangan yang membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.
Itu adalah sebuah kerajaan. Bukan sekadar kastil, tapi sebuah peradaban yang dibangun di atas logika dan estetika sempurna. Aku melihat ribuan orang membungkuk hormat, kebun-kebun bunga yang kelopaknya terbuat dari sajak-sajak indah, dan sebuah istana megah yang puncaknya menembus awan.
"Di dunia asalamu, Doni, kau hanyalah butiran debu di bawah sepatu birokrasi kampus," ucap Sang Dekan sembari melangkah mendekat. "Kau adalah pemuda yang menghabiskan malam dengan mi instan dingin, dihantui rasa takut akan masa depan yang tidak pasti. Gelar sarjana? Itu hanya secarik kertas yang akan membawamu ke antrean panjang pencari kerja."
Ia berhenti tepat di depanku. Hawa dingin menguar dari tubuhnya. "Tetaplah di sini. Jadilah Raja di Kerajaan Bibliografi. Di sini, setiap perkataanmu adalah hukum. Kau tidak perlu lagi menyusun daftar pustaka; kau adalah sumber dari segala pengetahuan. Athesia akan mendampingimu, bukan sebagai draf yang tidak sempurna, tapi sebagai permaisuri abadi. Tidakkah itu lebih baik daripada kembali ke kamar kosmu yang sempit dan pengap?"
Aku tertegun. Bayangan kamarku yang berantakan—tumpukan cucian kotor, kabel laptop yang nyaris putus, dan kalender yang penuh dengan tanda silang merah—muncul di benakku. Aku teringat wajah ibuku di pangg***n video terakhir, matanya yang lelah penuh harap bertanya, *"Kapan sidang, Nak?"*
Dadaku sesak. Tawaran ini adalah prokrastinasi tingkat dewa. Jika aku menerima ini, aku tidak perlu lagi menghadapi ketakutan akan kegagalan. Aku tidak perlu lagi merasa malu saat bertemu teman-teman yang sudah lebih dulu mengunggah foto memakai toga. Di sini, aku sudah menang.
"Doni..." suara Athesia berbisik pelan, hampir tak terdengar. Aku menoleh padanya. Matanya yang jernih menunjukkan kesedihan yang mendalam. "Jika kau memilih ini, aku akan menjadi sempurna. Tapi aku bukan lagi *milikmu*. Aku hanya akan menjadi patung emas yang diam. Skripsi yang tidak pernah selesai adalah skripsi yang tidak punya jiwa."
Sang Dekan menyodorkan sebuah pena bulu angsa yang ujungnya bersinar merah darah. "Tandatangani kontrak ini, Doni. Jadilah abadi. Lepaskan beban realita yang menghimpit pundakmu."
Aku menatap pena itu. Tanganku gemetar. Logika pragmatisku berteriak agar aku mengambilnya. Siapa yang waras menolak kekuasaan mutlak demi kehidupan pengangguran terdidik? Aku membayangkan diriku duduk di takhta itu, memerintah dimensi ini, melupakan semua revisi metodologi yang memuakkan itu.
Namun, di sudut pikiranku yang paling dalam, sebuah insting penelitian muncul. Aku mulai menganalisis situasi ini seperti aku menganalisis data mentah. Jika aku menjadi raja di sini, apakah itu valid secara empiris sebagai keberhasilan hidup? Ataukah ini hanyalah *outlier* dalam distribusi normal takdirku?
"Kau menawarkan kenyamanan," kataku, suaranya mulai stabil meski masih ada getaran di sana. "Tapi kau tidak menawarkan pertumbuhan. Kerajaan ini... ini hanyalah *echo chamber* raksasa. Jika aku tidak punya hambatan, jika aku tidak punya penguji yang menyebalkan, maka argumenku tidak akan pernah teruji."
Wajah Sang Dekan mengeras. Bayangan di sekelilingnya bergejolak, berubah menjadi bentuk-bentuk monster birokrasi dengan taring berupa stempel "Ditolak".
"Kau lebih memilih menjadi pecundang di duniamu daripada menjadi dewa di sini?" tanyanya dengan nada menghina.
"Aku lebih memilih menjadi manusia yang berproses daripada fiksi yang sempurna," balasku, meski lututku lemas. Aku menatap Athesia, lalu kembali menatap Sang Dekan. "Dan sebagai seorang peneliti, aku tahu satu hal: setiap teori harus diuji di lapangan. Lapanganku bukan di sini. Lapanganku adalah dunia di mana skripsiku bisa memberi manfaat, bukan sekadar jadi hiasan takhta."
Sang Dekan menggeram, dan tiba-tiba seluruh aula berguncang hebat. Rak-rak buku raksasa mulai tumbang, menumpahkan ribuan kertas yang terbang seperti badai salju yang tajam.
"Begitu sombong!" teriak Sang Dekan. "Jika kau menolak menjadi raja, maka kau akan menghadapi ujian terakhir sebagai pesakitan! Kau bilang ingin pulang? Baiklah. Mari kita lihat apakah argumen cintamu pada realita c**up valid untuk melawan Hukum Inkonsistensi yang akan menghancurkan eksistensimu!"
Tiba-tiba, lant** di bawah kakiku retak. Sebuah lubang hitam yang berisi ribuan huruf yang berputar-putar terbuka lebar. Athesia berpegangan erat pada lenganku, wajahnya pucat pasi.
"Doni! Dia mencoba menghapus draf kita!" teriak Athesia di tengah kebisingan badai kertas.
Aku melihat ke bawah. Di dalam lubang itu, aku melihat bukan kegelapan, melainkan meja sidanku di dunia nyata. Namun, di sana tidak ada dosen penguji. Yang duduk di kursi penguji adalah versi diriku yang lain—diriku yang terlihat depresi, tua, dan penuh penyesalan karena telah menyerah.
"Jika kau ingin pulang," suara Sang Dekan bergema dari segala arah, "kau harus mengalahkan penyesalanmu sendiri dalam Sidang Akhir Dimensi. Dan ingat, Doni... di sidang ini, tidak ada revisi kedua. Jika kau gagal, kau akan terhapus dari kedua dunia selamanya!"
Tubuhku tersedot ke dalam lubang hitam itu. Angin kencang menyambar-nyambar, merobek kemejaku, namun aku tidak melepaskan tangan Athesia. Di tengah jatuh bebas yang mengerikan itu, aku hanya memikirkan satu hal: aku belum mencantumkan sumber kutipan untuk pernyataan cintaku pada kenyataan ini.
Cahaya menyilaukan meledak dari dasar lubang, dan hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku memudar adalah suara dentuman palu sidang yang menghantam meja dengan keras.
*Tok! Tok! Tok!*
"Saudara Doni, silakan paparkan argumen keberadaan Anda... sekarang."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!