Cahaya remang dari lilin-lilin aromaterapi beraroma tinta printer yang biasanya menenangkan, kini terasa mencekam. Di atas ranjang berkelambu sutra yang ditenun dari serat-serat naskah kuno, Athesia terbaring lemas. Wajahnya yang biasanya seputih porselen kini tampak mengerikan; bercak-bercak hitam menyerupai *pixel* yang pecah merambat dari leher hingga ke pipinya.
Setiap kali dia bernapas, suaranya terdengar seperti distorsi kaset yang rusak.
"Athesia, bertahanlah," bisikku, menggenggam tangannya yang terasa dingin dan bergetar. Tekstur kulitnya berubah-ubah, terkadang halus, terkadang terasa kasar seperti kertas buram yang terendam air.
"D-Doni..." Suaranya patah-patah, tumpang tindih dengan suara bising statis. "Logikanya... tidak... konsisten. Argumennya... goyah..."
Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Aku tahu persis apa yang terjadi. Ini bukan virus biologis, ini adalah korupsi metadata. Sejak semalam, pikiranku memang tidak tenang. Aku mulai mempertanyakan apakah aku benar-benar ingin pulang. Di sini, aku adalah pahlawan, calon raja, seseorang yang dianggap penting. Di dunia nyata? Aku hanyalah mahasiswa abadi yang hobi menunda pekerjaan dan takut menghadapi pertanyaan 'kapan lulus' dari paman dan bibiku.
Keraguanku adalah racun bagi Athesia. Sebagai perwujudan dari draf skripsiku, dia hidup dari keyakinan dan validitas pemikiranku. Begitu aku ragu, pondasi eksistensinya mulai runtuh.
"Kau harus melakukan... *data cleaning*," Athesia terbatuk, dan dari mulutnya keluar butiran debu hitam berbentuk simbol-simbol *syntax* yang error. "Hapus... kebisingannya..."
Aku menelan ludah. Melakukan *data cleaning* pada jiwa seseorang bukan seperti menyeleksi kolom di Excel lalu menekan tombol *delete*. Aku harus ma**k ke dalam arus kesadarannya dan mencabut paksa anomali yang ada di sana.
Aku memejamkan mata dan menempelkan dahi ke dahi Athesia yang panas. Seketika, duniaku berputar. Aku tidak lagi berada di kamar mewah, melainkan berdiri di tengah badai angka dan huruf yang beterbangan liar. Di sekelilingku, potongan-potongan kalimat dari bab pendahuluanku melayang seperti pisau tajam.
*“Tujuan penelitian ini adalah untuk…”* – Kalimat itu terpotong, ujungnya menghitam dan mengeluarkan asap.
*“Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh…”* – Nama pakar di sana berubah-ubah menjadi simbol aneh yang tidak terbaca.
"Sial, ini berantakan sekali," gumamku.
Aku melihat 'inti' dari masalah ini. Di tengah pusaran data itu, ada gumpalan hitam besar yang berdenyut-denyut. Itu adalah manifestasi dari prokrastinasiku dan ketakutanku akan kegagalan. Gumpalan itu menyerap data-data valid milik Athesia dan mengubahnya menjadi *outliers* yang merusak sistem.
Aku melangkah maju, kakiku terasa berat seolah menginjak lumpur hisap yang terbuat dari catatan kaki yang salah format. Aku harus menyentuh gumpalan itu. Aku harus membersihkannya dengan tangan kosong.
Saat jemariku menyentuh permukaan hitam yang dingin itu, sebuah kilasan memori menghantamku. Aku melihat diriku sendiri duduk di depan laptop di perpustakaan kampus pukul tiga pagi, menatap layar kosong dengan mata merah. Aku melihat tumpukan mie instan dan gelas kopi yang sudah dingin. Aku merasakan kembali rasa mual setiap kali melihat notifikasi email dari dosen pembimbing.
"Ini bukan aku yang sekarang!" teriakku, meski suaraku seolah tertelan oleh deru angin kode-kode biner.
Aku mulai menarik keluar benang-benang hitam itu. Rasanya seperti menarik kawat berduri dari dalam daging. Sakit, bukan hanya untukku, tapi aku bisa mendengar jeritan Athesia bergema di dimensi ini.
"Maafkan aku, Athesia. Aku tidak akan membiarkan draf ini hancur!"
Satu per satu, data yang korup aku buang. Aku melakukan *filtering* secara manual, memisahkan mana emosi yang valid dan mana ketakutan yang tidak rasional. Aku menghapus variabel-variabel pengganggu yang selama ini menghambat kemajuan penelitian kami—maksudku, perjalanan kami.
Tanganku gemetar. Peluh bercucuran, membasahi kemejaku di dunia nyata yang kini terasa sangat jauh. Setiap kali aku membuang satu bagian korupsi, cahaya di dalam dimensi itu sedikit demi sedikit kembali terang. Huruf-huruf yang tadinya acak mulai menyusun diri kembali menjadi kalimat yang koheren.
Namun, di dasar gumpalan hitam itu, aku menemukan sesuatu yang lebih keras dari yang lain. Sebuah kode merah yang berkedip-kedip dengan peringatan: **FATAL ERROR: SENSE OF BELONGING NOT FOUND.**
Jantungku mencelos. Ini bukan sekadar keraguan soal skripsi. Ini adalah pertanyaan mendasar tentang di mana tempatku yang sebenarnya. Jika aku membersihkan ini, apakah itu berarti aku harus melepaskan kenyamanan di dunia ini selamanya?
Aku menoleh ke arah sosok cahaya yang merupakan esensi murni Athesia. Dia tampak memudar, menungguku mengambil keputusan.
"Doni... pilih..." suaranya terdengar sangat lembut, nyaris hilang.
Aku memejamkan mata erat-erat, menggenggam kode merah itu. Aku tahu apa yang harus kulakukan, meski itu berarti aku harus menghadapi pahitnya realita yang selama ini kuhindari. Dengan satu sentakan kuat, aku menghancurkan kode error terakhir itu.
Seketika, ledakan cahaya putih membutakan segalanya.
Aku tersentak bangun, kembali ke kamar tidur di kerajaan. Nafasku tersenggal-senggal. Di depanku, Athesia tidak lagi bergetar. *Pixel-pixel* hitam di wajahnya menghilang, digantikan oleh rona merah di pipinya. Dia membuka mata, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak lagi memancarkan cahaya biru digital, melainkan warna cokelat hangat yang terasa sangat... manusiawi.
"Kau berhasil," bisiknya, suaranya kini jernih dan merdu. "Datanya... sudah bersih. Signifikansinya sekarang mencapai 99 persen."
Aku menghela napas lega, namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Tiba-tiba, lant** kamar berguncang hebat. Suara terompet yang berat dan parau terdengar dari luar istana, diikuti oleh suara gemuruh ribuan langkah kaki.
Pintu kamar terbanting terbuka. Seorang prajurit dengan zirah yang terbuat dari tumpukan map plastik ma**k dengan wajah pucat.
"Tuan Doni! Lady Athesia!" serunya terengah-engah. "Dewan Penguji Dimensi telah tiba lebih awal dari jadwal! Mereka membawa Tentara Plagiarisme untuk mengepung gerbang kota karena mereka mendeteksi adanya manipulasi data besar-besaran di dalam istana ini!"
Aku menoleh ke Athesia. Wajahnya yang baru saja pulih kini dipenuhi ketakutan yang lebih besar. "Doni... Sidang Akhirmu... sepertinya mereka tidak ingin menunggu sampai kau siap."
Aku melihat tanganku sendiri. Di sana, bekas luka hitam akibat membersihkan korupsi tadi masih membekas, berdenyut dengan warna merah peringatan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sidang ini bukan lagi soal tanya jawab, ini adalah perang terbuka.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!