Napas gasku keluar dalam bentuk uap abu-abu, seolah-olah paru-paruku baru saja memproses tumpukan fotokopi referensi yang usang. Setiap langkah yang kuambil di Puncak Analisis ini terasa seperti mendaki tumpukan tangga yang terbuat dari barisan angka nol dan satu yang tidak stabil. Di bawah sepatuku, tanahnya tidak berupa batu atau tanah, melainkan kristal-kristal data yang berpendar redup, membentuk grafik tren yang menanjak curam.
"Sedikit lagi, Doni. Jika kita mencapai puncaknya, semua data yang kau kumpulkan dari Hutan Metodologi dan Rawa Tinjauan Pustaka akan terproses secara otomatis," suara Athesia terdengar merdu namun ada nada kecemasan yang terselip di sana.
Gadis itu berjalan di sampingku. Gaun putihnya yang menyerupai lembaran-lembaran kertas draf skripsi berkibar tertiup angin kencang. Cahaya keemasan yang biasanya memancar dari tubuhnya tampak sedikit meredup, seolah-olah eksistensinya terancam oleh tekanan atmosfer di ketinggian ini.
"Kau bilang ini 'sedikit lagi' sejak dua jam yang lalu, Athes," gerutuku sambil menyeka keringat dingin di dahi. Tanganku gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi karena tas ransel di punggungku—yang berisi kristal temuan penelitian—terasa semakin berat. "Setiap kali aku merasa sudah dekat, puncaknya seolah-olah bergeser lebih jauh. Ini persis seperti saat aku mengira bab empatku sudah selesai, lalu dospem bilang 'tambahkan analisis uji T'."
Athesia berhenti melangkah dan menatapku dengan mata birunya yang dalam. "Karena kau masih meragukan hasilmu sendiri, Doni. Di dunia ini, kebenaran bukan hanya soal fakta, tapi soal keyakinanmu pada validitas argumenmu."
Baru saja aku hendak membalas ucapannya, langit yang tadinya berwarna biru pucat tiba-tiba berubah menjadi abu-abu pekat yang menyeramkan. Angin yang tadinya hanya berdesir, kini berubah menjadi raungan yang m****akkan telinga. Suaranya bukan seperti badai biasa, melainkan seperti suara ribuan orang yang berbisik secara serentak: *“Apakah ini signifikan? Apakah ini kebetulan? Apakah datamu valid?”*
"Badai Ketidakpastian!" teriak Athesia. Dia berusaha mencengkeram lenganku, tapi angin kencang mendorongnya menjauh. "Alpha nol koma nol lima sedang menyerang!"
Seketika, pandanganku mengabur. Salju mulai turun, tapi ini bukan salju air. Ini adalah butiran-butiran angka desimal yang tajam seperti silet. Setiap kali butiran itu mengenai kulitku, aku merasakan keraguan yang luar biasa hebat menyengat sarafku.
*Bagaimana jika metode yang kupilih salah? Bagaimana jika ukuran sampelku terlalu kecil? Bagaimana jika semua perjalananku di dimensi ini hanyalah halusinasi seorang mahasiswa yang kurang tidur?*
"Doni, jangan dengarkan mereka!" teriak Athesia. Suaranya terdengar jauh, teredam oleh gemuruh 'p-value' yang meledak-ledak di sekeliling kami. "Jika tingkat signifikansimu jatuh di bawah ambang batas, kau akan terhapus dari dimensi ini sebagai 'error'!"
Aku berlutut, berusaha melindungi tas ranselku. Di depanku, jalan setapak yang tadinya jelas kini mulai retak dan menghilang, digantikan oleh jurang margin of error yang tak berdasar. Aku melihat bayangan ibuku di dalam badai itu. Beliau sedang duduk di meja makan, menatap kursi kosongku dengan wajah sedih, memegang selembar tagihan UKT yang belum terbayar.
"Maafkan aku, Bu..." bisikku parau. Rasa bersalah yang selama ini kusimpan—rasa takut menjadi beban karena kelulusan yang tertunda—menghantamku lebih keras daripada badai mana pun.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat memegang pipiku. Aku mendongak. Athesia ada di sana, berlutut di depanku meski tubuhnya mulai transparan tertembus badai. Wajahnya yang cantik tampak pucat, tapi matanya memancarkan ketegasan yang mutlak.
"Lihat aku, Doni," perintahnya. "Kau bukan sekadar angka di dalam statistik mereka. Kau adalah peneliti yang bertahan hidup di Hutan Metodologi. Kau adalah orang yang berani menghadapi Singa Plagiarisme dengan tangan kosong. Apakah semua itu tidak berarti apa-apa bagimu?"
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Aku teringat malam-malam tanpa tidur, kopi yang sudah dingin, dan bagaimana aku tetap mengetik meski mataku perih. Aku teringat keputusasaanku, tapi aku juga teringat kepuasan kecil saat sebuah paragraf akhirnya terasa 'pas'.
"Aku... aku sudah berusaha," kataku, suaraku menguat.
"Maka buktikan secara empiris!" Athesia berteriak melawan angin. "Tolak hipotesis nol-mu! Yakinkan dunia bahwa keberadaanmu di sini memiliki pengaruh yang signifikan!"
Aku berdiri dengan kaki gemetar. Aku merogoh tas ranselku dan mengeluarkan Kristal Temuan Utama yang kudapatkan di bab sebelumnya. Kristal itu berdenyut dengan cahaya biru yang tidak stabil.
"Aku menolak keraguan ini!" teriakku ke arah langit yang kelabu. "Data ini valid! Proses ini reliabel! Dan aku... aku akan pulang dengan hasil yang nyata!"
Aku mengangkat kristal itu tinggi-tinggi. Saat butiran 'Alpha 0.05' mencoba menghantamku, aku membayangkan semua argumen yang telah kususun dengan susah payah. Aku memvisualisasikan korelasi antar variabel hidupku. Cahaya biru dari kristal itu tiba-tiba meledak, memancarkan gelombang kejut yang menyapu bersih kabut ketidakpastian di sekeliling kami.
Langit perlahan tenang. Angin kencang menyusut menjadi sepoi-sepoi yang lembut. Di depan kami, hanya beberapa langkah lagi, terletak puncak tertinggi—sebuah altar batu berbentuk meja sidang yang megah, dikelilingi oleh pilar-pilar cahaya yang menembus awan.
Aku terengah-engah, menatap Athesia yang kini kembali memadat dan bersinar lebih terang dari sebelumnya. Dia tersenyum, sebuah senyuman yang membuat semua rasa lelahku menguap begitu saja.
"Kita berhasil melewatinya," bisiknya.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Saat kami melangkah menuju altar tersebut, sebuah bayangan besar jatuh menaungi kami. Dari balik pilar cahaya, muncul tiga sosok berjubah hitam dengan wajah yang tertutup kabut. Di tangan mereka masing-masing memegang sebuah palu besar yang terbuat dari kayu jati tua—palu sidang.
"Doni dari Dunia Fana," suara mereka bergema seperti suara duniaku yang paling kutakuti. "Kau telah mencapai Puncak Analisis. Namun, tidak ada temuan yang bisa diterima tanpa validasi dari Dewan Penguji Dimensi. Bersiaplah, karena sidangmu dimulai... sekarang."
Jantungku mencelos. Aku belum sempat mengatur napas, dan sekarang, ujian akhir yang sebenarnya sudah berdiri tegak di depanku, siap menghakimi setiap kata yang pernah kutulis.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!