Cahaya biru pudar dari panel holografik memantul di lensa kacamata Doni yang mulai berkerak karena keringat dan debu perpustakaan. Di hadapannya, ribuan baris data menari-nari, berputar dalam spiral matematis yang rumit. Ini bukan sekadar angka; ini adalah aliran energi *mana* yang membentuk fondasi dimensi Academia. Namun, sekeras apa pun Doni mengutak-atik model regresinya, hasilnya tetap sama: *Error 404: Soul-Component Not Found.*
Doni mengacak rambutnya frustrasi. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara dingin Menara Silabus. Di sudut ruangan, Athesia berdiri mematung. Jubahnya yang terbuat dari lembaran-lembaran kertas draf skripsi Doni tampak berkilau perak, namun ekspresinya sedingin es. Dia adalah manifestasi dari seluruh kerja kerasβdan kemalasanβDoni selama empat tahun terakhir. Cantik, namun tidak lengkap.
"Kau masih berkutat dengan angka, Doni?" suara Athesia terdengar seperti gesekan kertas perkamen yang halus. "Metodologimu sudah sempurna. Validitasmu tak terbantah. Tapi kenapa gerbang kepulangan itu masih tertutup rapat?"
Doni tidak menoleh. Jarinya gemetar saat menyentuh ikon 'Analisis Deskriptif'. "Harusnya ini berhasil, Thesia. Aku sudah mema**kkan variabel Pengabdian, variabel Konsistensi, bahkan variabel Ketahanan Mental di bawah tekanan revisi. Secara statistik, model ini punya nilai R-Square sebesar 0,99. Ini hampir sempurna!"
"Hampir," potong Athesia. Dia melangkah mendekat, aroma tinta basah dan aroma buku tua menguar darinya. "Dunia ini tidak dibangun hanya di atas logika Aristoteles atau statistik Pearson. Kau sedang berada di pusat bibliografi semesta. Di sini, kebenaran bukan hanya soal apa yang bisa dihitung."
Doni terdiam. Dia menatap kolom kosong di baris terbawah tabel datanya. Baris itu berkedip-kedip merah, menanti input yang sejak tadi gagal dia definisikan. Dia tahu apa yang diminta oleh sistem dimensi ini. Sensor kejujuran di Menara Silabus telah mendeteksi adanya variabel laten yang sengaja dia sembunyikan: *Ketulusan*.
Masalahnya, bagaimana cara mengukur ketulusan?
Bagi Doni, ketulusan adalah konsep abstrak yang mengerikan. Selama ini, dia memandang skripsinya sebagai beban, sebuah rintangan administratif yang harus disingkirkan demi ijazah. Cintanya pada Athesia pun terasa seperti paradoks. Apakah dia mencint** Athesia karena dia adalah perwujudan mimpinya, atau hanya karena dia butuh bantuannya untuk pulang?
"Aku butuh angka, Thesia," gumam Doni, suaranya parau. "Berikan aku skala Likert satu sampai lima. Berikan aku rata-rata populasi. Bagaimana mungkin aku mema**kkan 'perasaan' ke dalam sistem yang menuntut objektivitas mutlak?"
Athesia menyentuh pundak Doni. Sentuhannya terasa hangat, kontras dengan udara dingin di sekitar mereka. "Kau selalu takut pada hal-hal yang tidak bisa kau kontrol, bukan? Kau bersembunyi di balik angka karena angka tidak pernah menuntutmu untuk jujur pada dirimu sendiri."
Doni memejamkan mata. Bayangan orang tuanya di rumah terlintasβharapan mereka, tatapan lelah ayahnya, dan doa-doa ibunya yang tak putus. Selama ini, dia memalsukan antusiasmenya. Dia berpura-pura peduli pada topik penelitiannya hanya agar pembimbingnya puas. Di dimensi ini, kepura-puraan itu adalah racun.
Dia mencoba mengetikkan angka '1.0' pada kolom Ketulusan. Namun, sistem langsung mengeluarkan bunyi berdenging yang menyakitkan telinga.
*WARNING: INCONSISTENT DATA DETECTED.*
"Lihat?" Doni tertawa getir, nyaris histeris. "Bahkan sistem ini tahu kalau aku bohong. Aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar tulus ingin lulus, atau aku hanya takut dicap gagal."
"Lalu, apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Athesia lembut. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Doni. Mata dewi itu mencerminkan seluruh ketakutan dan keraguan yang selama ini Doni simpan rapat-rapat.
Doni menatap mata itu. Untuk pertama kalinya, dia tidak melihat Athesia sebagai 'objek penelitian' atau 'kunci pulang'. Dia melihat seorang wanita yang telah menemaninya di saat-saat paling gelap, yang menampung segala keluh kesahnya tentang dosen pembimbing yang menyebalkan dan revisi yang tak ada habisnya.
Jantungnya berdegup kencang. Itu bukan degup jantung karena panik dikejar *deadline*. Itu adalah getaran yang lebih dalam, sesuatu yang tidak memiliki rumus, tidak memiliki deviasi standar.
"Aku... aku takut kehilanganmu kalau aku pulang," bisik Doni. Suaranya pecah. "Itu ketulusanku yang paling nyata. Aku ingin lulus, tapi aku tidak ingin menghapusmu sebagai sekadar draf yang sudah selesai."
Tiba-tiba, panel holografik di hadapannya berhenti berkedip merah. Cahayanya berubah menjadi putih terang yang menyilaukan. Kolom Ketulusan itu mulai terisi, bukan dengan angka, melainkan dengan denyut cahaya yang selaras dengan detak jantung Doni.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat. Alarm di puncak Menara Silabus tiba-tiba meraung kencang. Langit di luar jendela perpustakaan yang tadinya tenang berubah menjadi ungu pekat, dengan petir-petir berbentuk simbol integrasi menyambar-nyambar.
"Doni!" teriak Athesia. Wajahnya tampak pucat pasi. "Kau telah mema**kkan variabel yang terlalu kuat! Keseimbangan dimensi ini tidak bisa menangani ketulusan yang tidak terkuantifikasi!"
Lant** di bawah kaki mereka bergetar hebat. Rak-rak buku raksasa mulai tumbang, menumpahkan ribuan literatur ke lant**. Di tengah kekacauan itu, sebuah portal raksasa mulai terbuka di langit-langit, namun alih-alih menampilkan jalan pulang ke kamarnya yang berantakan, portal itu justru menunjukkan sebuah ruang sidang yang gelap, dikelilingi oleh lima bayangan juri berjubah hitam dengan wajah yang tertutup kabut.
"Dewan Penguji Terakhir," bisik Athesia dengan ketakutan. "Mereka datang untuk memverifikasi datamu secara langsung. Jika kau tidak bisa membuktikan ketulusan itu secara empiris di hadapan mereka, bukan hanya skripsimu yang akan dihancurkan..."
Doni menelan ludah, tangannya mencengkeram pinggiran meja kontrol. "Tapi bagaimana caranya? Aku belum siap!"
"...tapi keberadaanmu di kedua dunia akan dihapus selamanya dari daftar pustaka kehidupan," lanjut Athesia, saat sosok-sosok berjubah itu mulai melayang turun, membawa palu sidang yang terbuat dari batu nisan para mahasiswa abadi.
Doni menatap layar yang kini hanya menampilkan satu pesan singkat dalam huruf kapital yang berdenyut: **SIDANG DIMULAI SEKARANG.**
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!