Tanganku gemetar saat menyentuh permukaan dingin *Ocular of Veritas*, sebuah proyektor sihir berbentuk bola kristal yang bertumpu pada kaki perunggu berukir. Di dalam ruangan aula persiapan yang megah ini—dengan langit-langit setinggi sepuluh meter yang dihiasi konstelasi bintang-bintang kutipan—suaraku bergema, terdengar asing di telingaku sendiri.
"Oke, mari kita coba sekali lagi," bisikku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada Athesia yang berdiri di sampingku.
Athesia, dewi yang merupakan manifestasi dari ratusan jam begadang dan ribuan baris kalimat yang pernah kuhapus dan tulis ulang, hanya menatapku dengan mata peraknya yang tenang. Gaun putihnya berpendar lembut, mencerminkan kejernihan argumen yang telah kami susun bersama. Ia meletakkan tangannya di bahuku. Dingin, tapi entah bagaimana, memberikan sedikit kepastian.
"Konsentrasi, Doni. Ingat, metodologimu adalah fondasi dunia ini sekarang," ucapnya lembut.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungku yang berpacu seperti printer rusak. Aku menyalurkan sedikit energi mana ke arah bola kristal itu. Seketika, cahaya biru berpendar keluar, memproyeksikan diagram kerangka pemikiran di udara. Gambar itu melayang, transparan namun tajam.
*Slide 1: Latar Belakang Masalah – Fenomena Ketidakpastian Eksistensial di Academia.*
"Bagus," gumamku. "Sekarang, geser ke rumusan masalah."
Aku menjentikkan jari, sebuah gestur yang setara dengan menekan tombol 'Next' di laptop lamaku. Namun, bukannya beralih ke slide berikutnya, proyektor itu mendenging keras. Suaranya seperti ribuan lebah yang terjebak dalam kaleng biskuit. Cahaya biru itu berkedip-kedip liar, berubah warna menjadi merah darah yang tidak menyenangkan.
"Apa yang terjadi?" seruku, panik.
Gambar di udara mulai terdistorsi. Diagram kerangka pemikiranku yang rapi perlahan-lahan berubah menjadi coretan tak beraturan yang menyerupai wajah dosen pembimbingku di dunia nyata yang sedang marah. Tulisan-tulisan ilmiah itu luruh, berganti menjadi tumpukan kata 'REVISI' yang bertumpang tindih hingga tak terbaca.
"Stabilitas mana-mu terganggu oleh kecemasanmu, Doni!" teriak Athesia. Ia mencoba merapal mantra untuk menstabilkan aliran energi di sekitar proyektor, tapi bola kristal itu justru mulai mengeluarkan asap tipis berwarna hitam. "Tekanan psikologis dari Dewan Tetua sudah mulai merembes ke ruangan ini, padahal mereka bahkan belum datang!"
Aku memukul sisi proyektor itu dengan telapak tanganku, sebuah kebiasaan buruk dari dunia lama saat menghadapi remot TV yang macet. "Ayo dong! Jangan sekarang! Ini Sidang Akhir, bukan seminar proposal!"
Tiba-tiba, proyeksi itu meledak kecil dalam bentuk percikan cahaya, lalu berubah total. Bukannya data penelitian, yang muncul justru gambar diriku sendiri di dunia nyata—terkapar di atas meja perpustakaan dengan air liur yang hampir mengenai keyboard laptop. Itu adalah memori kegagalanku yang paling memalukan.
"Kenapa proyektor ini menampilkan *cringe* masa laluku?!" teriakku frustrasi. Aku mencoba menutup lensa proyektor dengan jubahku, tapi gambar itu justru menembus kain, memancarkan fragmen-fragmen memori tentang setiap kali aku menunda pekerjaan.
"Doni, dengarkan aku!" Athesia memegang kedua pipiku, memaksaku menatap matanya yang bersinar tajam. "Proyektor ini tidak hanya membaca data sihir, dia membaca validitas batinmu. Jika kau merasa dirimu adalah sebuah kegagalan yang sedang menyamar, maka proyektor ini akan memproyeksikan penyamaran itu. Kau harus menyinkronkan keyakinanmu dengan datamu!"
Aku berkeringat dingin. Di luar pintu aula yang besar, aku bisa mendengar suara langkah kaki yang berat dan berwibawa. Itu adalah para Dewan Tetua Academia—kumpulan penyihir birokrasi yang memiliki kuasa untuk meluluskanku kembali ke dunia nyata atau membuangku ke dimensi 'Limbah Skripsi' selamanya.
"Tapi datanya benar, Athesia! Aku sudah mengujinya dengan uji reliabilitas tingkat tinggi!" pembelaku dengan suara serak.
"Lalu kenapa kau masih takut?" tantangnya.
Aku terdiam. Proyektor di depanku masih berkedip-kedip, sesekali menampilkan pesan *'Error 404: Confidence Not Found'*. Masalahnya bukan pada alatnya. Masalahnya adalah aku masih merasa seperti mahasiswa abadi yang hanya beruntung bisa sampai sejauh ini. Aku takut saat aku membuka mulut nanti, yang keluar bukan argumen brilian, melainkan permohonan maaf karena telah lahir ke dunia.
"Si****," umpatku pelan. Aku memejamkan mata, membayangkan setiap tetes keringat dan kopi pahit yang kuhabiskan untuk menyusun bab demi bab di dunia ini. Aku mengingat monster-monster sitasi yang harus kutebas dan labirin plagiarisme yang berhasil kulewati.
Aku meletakkan tangan kembali di atas *Ocular of Veritas*. Kali ini, aku tidak menyalurkan energi dengan paksa. Aku membiarkan rasa lelahku, ambisiku, dan keinginanku untuk pulang mengalir dengan tenang.
"Aku adalah peneliti utama dari takdirku sendiri," bisikku mantap.
Bola kristal itu berhenti bergetar. Suara denging lebah itu hilang, digantikan oleh senandung rendah yang harmonis. Cahaya merah darah itu perlahan memudar, kembali menjadi biru safir yang jernih. Proyeksi di udara mulai tertata kembali. Kata 'REVISI' menghilang, digantikan oleh barisan data yang solid dan grafik yang menunjukkan korelasi signifikan antara cinta dan keberanian empiris.
Athesia tersenyum, tubuhnya sedikit berpendar lebih terang. "Itu baru drafku yang tangguh."
Namun, tepat saat aku hendak menghela napas lega, pintu aula besar di ujung ruangan terbuka dengan dentuman keras. Udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat dingin, hingga napas kaku berubah menjadi kabur putih.
Tiga sosok berjubah berat dengan topi persegi yang kaku ma**k dengan langkah serempak. Mereka membawa tongkat yang di ujungnya terdapat segel lilin merah berukuran raksasa—simbol otoritas mutlak. Di tengah-tengah mereka, seorang pria tua dengan janggut yang menyentuh lant** menatapku melalui kacamata yang tampaknya bisa melihat hingga ke sel terkecil di tubuhku.
"Saudara Doni," suara sang Ketua Dewan menggelegar, membuat proyektor sihirku kembali berkedip sekali, seolah-olah ikut ketakutan. "Waktu persiapan habis. Kami tidak menerima ralat setelah presentasi dimulai. Apakah kau siap mempertanggungjawabkan eksistensimu, atau kau akan menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam sejarah kami?"
Aku menatap proyektor itu sekali lagi. Di sudut slide pertama, muncul sebuah garis hitam kecil yang tidak seharusnya ada di sana. Garis itu bergerak, seperti retakan yang merambat perlahan di layar sihir. Retakan itu bukan berasal dari proyektor, tapi seolah-olah ada sesuatu yang mencoba merobek presentasiku dari sisi lain.
"Ketua Dewan," jawabku, mencoba menjaga suaraku tetap stabil meskipun mataku terpaku pada retakan yang kian membesar di udara. "Saya siap."
Tepat saat aku melangkah maju, proyektor itu mengeluarkan suara *'ctak'* yang tajam. Slide pertamaku mendadak terbalik, dan seluruh teks di dalamnya berubah menjadi bahasa kuno yang bahkan tidak bisa dibaca oleh Athesia. Wajah para dewan langsung berubah gelap.
Ini bukan sekadar gangguan teknis. Seseorang sedang menyabotase sidangku dari dalam sistem. Dan jika aku tidak bisa memperbaikinya dalam hitungan detik, aku tidak hanya akan gagal lulus—aku akan terhapus dari bibliografi alam semesta.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!