Gema langkah kakiku di atas lant** marmer hitam Aula Bibliografi terdengar seperti detak jantung yang berpacu melawan waktu. Ruangan ini tidak memiliki langit-langit yang pasti; di atas sana, ribuan buku terbang berputar-putar membentuk pusaran galaksi kertas yang mendesis pelan. Udara terasa dingin, berbau kertas tua dan tinta basah yang menyengat indra penciumanku. Di ujung ruangan, sebuah meja batu melayang menampung tiga sosok berjubah abu-abu dengan wajah yang tertutup bayangan tudung. Mereka adalah Dewan Kurator, algojo intelektual yang akan menentukan apakah aku layak pulang atau selamanya menjadi catatan kaki di dimensi ini.
Aku melirik ke samping. Athesia berdiri di sana, mengenakan gaun putih yang permukaannya dipenuhi tulisan tangan halusβdraf skripsiku yang dulu kubuang ke tempat sampah. Wajahnya pucat, namun matanya yang sebiru tinta cerdas itu menatapku dengan binar penuh harap. Jemarinya yang ramping menyentuh lenganku pelan, dingin namun memberikan sengatan keberanian yang kubutuhkan.
"Saudara Doni," suara itu tidak datang dari mulut salah satu penguji, melainkan bergema langsung di dalam tengkorakku. "Sajikan premis utama Anda. Mengapa entitas di samping Anda ini harus dianggap sebagai realitas yang valid, bukannya sekadar residu halusinasi dari seorang mahasiswa yang mengalami gangguan saraf akibat tekanan akademik?"
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti parutan kayu. Aku membuka draf fisik yang membara di tanganku, merasakan panas dari setiap kata yang telah kupahat dengan darah dan air mata.
"Athesia bukan sekadar draf," suaraku bergetar di awal, namun segera kutemukan pijakan yang lebih stabil. "Dia adalah sintesis dari dedikasi dan kegagalan yang bertransformasi. Secara empiris, dia memiliki otonomi yang melampaui variabel asli dalam kerangka teori saya. Dia bereaksi terhadap stimuli emosional yang tidak pernah saya tuliskan dalam draf awal."
Penguji di tengah, yang memiliki jari-jari panjang seperti pena bulu, mengetukkan kukunya ke meja batu. Suaranya terdengar kering, seperti kertas yang diremas. "Argumentasi yang lemah, Saudara Doni. Anda menggunakan terminologi 'cinta' dalam metodologi Anda. Jelaskan secara logis: bagaimana mungkin sebuah 'perasaan' yang bersifat subjektif dan abstrak bisa dianggap sebagai bukti validitas keberadaan sebuah entitas di dimensi hukum logika murni ini?"
"Cinta adalah anomali data yang paling konsisten," jawabku cepat, otakku mulai membedah memori-memori saat kami dikejar oleh Monster Plagiarisme di Hutan Referensi. "Dalam setiap simulasi bahaya yang kami hadapi, Athesia melakukan tindakan pengorbanan diri yang tidak logis jika dia hanya sebuah program atau proyeksi ego saya. Menurut hukum termodinamika emosional, energi yang dia keluarkan untuk melindungi saya tidak bisa diciptakan dari kekosongan. Itu berasal dari eksistensi yang nyata."
"Namun," sela penguji di sisi kanan, suaranya tajam seperti silet, "bukankah dia hanyalah cermin dari apa yang Anda inginkan? Dia cantik karena Anda kesepian. Dia pintar karena Anda merasa bodoh. Dia ada karena Anda takut menghadapi kenyataan bahwa di dunia nyata, Anda hanyalah seorang pengangguran potensial. Anda menciptakan dewi ini sebagai mekanisme pertahanan. Jadi, secara ontologis, jika kami menghapus ketakutan Anda, maka 'dia' akan lenyap. Apakah Anda siap membuktikan bahwa dia tetap ada saat Anda tidak lagi membutuhkannya?"
Pertanyaan itu menghantamku tepat di ulu hati. Aku menoleh ke arah Athesia. Dia tidak tersenyum. Ada ketakutan yang murni di matanyaβketakutan akan ketiadaan. Aku teringat malam-malam di perpustakaan kampus, saat aku merasa sendirian di dunia ini. Apakah aku benar-benar mencint**nya, atau aku hanya mencint** cara dia membuatku merasa tidak sendirian?
"Saya... saya tidak membutuhkannya untuk merasa utuh," bisikku, namun suaraku bergema keras di ruangan itu. "Saya mencint**nya karena dia adalah satu-satunya bagian dari hidup saya yang benar-benar saya selesaikan dengan jujur. Dia adalah kebenaran yang saya temukan di antara tumpukan kebohongan akademik saya."
"Kebenaran harus bisa diuji secara universal, Doni," ujar Penguji Tengah. "Mari kita lakukan pengujian silang. Jika dia adalah entitas yang mandiri, maka dia harus mampu membatalkan keberadaan penciptanya demi kelangsungan hidupnya sendiri. Itu adalah hukum dasar evolusi entitas."
Tiba-tiba, sebuah belati yang terbuat dari kristal kutipan muncul di depan Athesia. Gagangnya berukirkan namaku.
"Athesia," suara Dewan Kurator menggelegar. "Tusukkan belati ini ke jantung Doni. Jika kau melakukannya, kau akan mendapatkan status penduduk tetap di Kerajaan Bibliografi sebagai individu merdeka, dan kau tidak akan pernah lagi terikat pada nasib draf yang bisa dihapus kapan saja. Jika kau menolak, kau akan dianggap sebagai 'eror sistem' dan akan dimusnahkan saat sidang ini berakhir."
Ruangan menjadi sunyi senyap. Aku bisa mendengar suara detak jam dinding raksasa di kejauhan yang berdetak mundur. Aku menatap Athesia, jantungku berdegup kencang. Ini adalah jebakan logika yang mematikan. Jika dia membunuhku, aku mati (mungkin secara permanen di kedua dunia). Jika dia tidak membunuhku, dia akan musnah, dan argumenku tentang eksistensinya dianggap gagal karena dia dianggap hanya 'alat' yang patuh padaku.
Athesia memandang belati itu, lalu memandangku. Tangannya gemetar saat dia meraih gagang kristal tersebut. Aku melihat air mata tinta hitam mengalir di pipinya yang porselen.
"Doni..." bisiknya parau.
"Lakukan, Athesia," kataku, meski suaraku nyaris hilang. "Buktikan bahwa kamu punya kehendak. Buktikan bahwa kamu bukan cuma sekadar barisan kalimat yang aku tulis."
Dia mengangkat belati itu tinggi-tinggi. Cahaya dari pusaran buku di atas kami memantul di mata pisaunya yang tajam. Para penguji mencondongkan tubuh ke depan, seolah-olah mereka adalah penonton di sebuah koloseum yang menantikan darah.
Athesia mengayunkan tangannya dengan gerakan yang sangat cepat. Namun, belati itu tidak mengarah ke dadaku. Dia membalikkan mata pisaunya dan mengarahkannya ke jantungnya sendiri.
"Tidak!" teriakku, mencoba menerjang maju, namun rant**-rant** teks transparan tiba-tiba muncul dari lant** dan melilit kakiku, menahanku di tempat.
"Jika aku membunuhnya, aku membuktikan bahwa aku adalah egois yang diciptakan dari kegagalannya," teriak Athesia kepada Dewan Kurator, suaranya bergetar dengan kekuatan yang sanggup meretakkan pilar-pilar di ruangan itu. "Tapi jika aku membunuh diriku sendiri, aku membuktikan bahwa cinta ini adalah variabel yang tidak bisa kalian kontrol!"
Namun, sebelum mata pisau itu menyentuh dadanya, Penguji Tengah menjentikkan jarinya. Belati itu hancur menjadi debu.
"Menarik," gumam penguji itu. "Pengorbanan diri adalah argumen yang kuat, namun tetap tidak logis dalam kerangka kelulusan. Namun, Saudara Doni, ada satu masalah kecil dalam skripsi Anda yang baru saja kami temukan. Sebuah plagiarisme eksistensial."
Aku terpaku. "Apa maksud Anda?"
Penguji itu melambaikan tangannya, dan sebuah cermin besar muncul di hadapan kami. Di dalam cermin itu, aku tidak melihat bayanganku sendiri. Aku melihat sosok lain, seorang pria paruh baya yang tampak sangat mirip denganku, sedang menangis di depan sebuah laptop yang rusak di sebuah kantor tua.
"Athesia bukan berasal dari drafmu, Doni," suara penguji itu menjadi sangat dingin, membuat bulu kudukku berdiri. "Lihatlah baik-baik. Dia adalah draf yang dicuri. Dan kau... kau bukan siapa yang kau kira."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!