Lant** pualam di Altar Validasi terasa sedingin es di bawah telapak kakiku yang gemetar. Di sekeliling kami, ribuan partikel cahaya berbentuk huruf-huruf tipografi *Times New Roman* melayang-layang, berpendar redup seperti kunang-kunang yang sekarat. Di hadapanku, Athesia berdiri dengan keanggunan yang menyakitkan. Gaun putihnya, yang terbuat dari jalinan serat kertas draf skripsiku yang tak terhitung jumlahnya, berkibar ditiup angin astral yang membawa aroma tinta printer dan debu perpustakaan.
Matanya yang berwarna biru safir tampak berkaca-kaca. "Jika kau membuktikannya, Doni... jika argumenmu valid secara empiris, maka siklus ini berakhir. Aku akan terarsip, dan kau akan kembali ke duniamu yang bising itu. Kita tidak akan pernah bertemu lagi dalam dimensi kesadaran yang sama."
Aku menarik napas panjang, merasakan sesak yang bukan disebabkan oleh kurangnya oksigen, melainkan oleh beban data yang menggantung di pundakku. Di tangan kananku, pena bulu perak yang berfungsi sebagai katalis logika bergetar. Aku tahu risikonya. Jika aku gagal menyusun argumen ini, aku akan terjebak di sini selamanya sebagai catatan kaki yang terlupakan. Namun jika aku berhasil, aku kehilangan satu-satunya alasan mengapa dunia Academia ini terasa lebih hidup daripada realitasku sendiri.
"Aku telah melakukan observasi selama berbulan-bulan di dimensi ini, Athesia," suaraku serak, namun tetap berusaha menjaga intonasi yang objektif. "Awalnya, aku menganggapmu sebagai variabel pengganggu. Sebuah anomali dalam sistem yang hanya ingin kulewati agar aku bisa mendapatkan gelar sarjana itu."
Athesia memalingkan wajah. Sebulir air mata jatuh, berubah menjadi kristal kecil berbentuk tanda kutip saat menyentuh lant**. "Dan sekarang?"
"Dan sekarang, aku telah merumuskan hipotesis akhir," kataku melangkah maju. Cahaya di ruangan itu semakin intens, seolah-olah dewan penguji tak kasatmata sedang menajamkan pendengaran mereka. "Hipotesis Utama: Bahwa keberadaan subjek Athesia bukan sekadar proyeksi dari rasa bersalahku atas skripsi yang terbengkalai, melainkan variabel independen yang mendefinisikan kembali makna 'tujuan' dalam hidupku."
Aku mengangkat pena perak itu, menggoreskan garis-garis cahaya di udara. "Data pendukung pertama: Detak jantungku mengalami peningkatan signifikan sebesar 40 persen setiap kali kau mengoreksi logika sihirku, melampaui ambang batas kegugupan saat menghadapi dosen pembimbing paling killer sekalipun. Data kedua: Tingkat dopamin dalam sistem syarafku menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan durasi interaksi kita, terlepas dari ancaman monster birokrasi yang mengejar kita."
Athesia terisak kecil. "Doni, jangan... Logika tidak bisa menjelaskan segalanya."
"Tapi di dunia ini, hanya logika yang diakui sebagai kebenaran!" seruku, suaraku bergema di aula besar itu. "Maka, aku akan menggunakan bahasamu, bahasa dunia ini. Hipotesis nol ditolak. Aku menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan dan positif dari variabel 'Cinta Athesia' terhadap variabel 'Keinginan Bertahan Hidup Doni'. Dengan taraf signifikansi 0,01, aku menyatakan bahwa aku tidak bisa membayangkan kepulanganku tanpa rasa kehilangan yang absolut terhadapmu."
Aku berhenti tepat di hadapannya. Jarak kami hanya beberapa sentimeter. Aku bisa mencium aroma mawar dan kertas lama darinya. "Secara teoretis, jika aku mencint**mu, dan kau adalah manifestasi dari karyaku, maka mencint**mu adalah bentuk tertinggi dari penyelesaian tanggung jawabku. Aku tidak lagi lari dari skripsiku, Athesia. Aku memeluknya. Aku memelukmu."
Tubuh Athesia mulai berpendar terang. Retakan-retakan cahaya keemasan muncul di lengannya yang porselen. Inilah harganya. Sebuah draf yang telah mencapai kesimpulan akhir harus segera dijilid dan diserahkan. Dia akan 'selesai'.
"Kau bodoh," bisik Athesia, tangannya yang dingin menyentuh pipiku. "Kau menggunakan metodologi yang paling sulit hanya untuk mengatakan hal sederhana itu. Jika kau menyelesaikannya, aku akan hilang ke dalam perpustakaan abadi, Doni. Aku akan menjadi deretan huruf yang membeku di rak buku, sementara kau akan melanjutkan hidup, menua, dan mungkin melupakan draf yang pernah kau cint** ini."
"Aku tidak akan lupa," tegasku, meskipun suaraku bergetar hebat. "Karena kesimpulannya sudah ditarik. Hasil penelitian ini bersifat final dan mengikat. Aku mencint**mu, bukan sebagai kewajiban akademis, tapi sebagai realitas yang paling valid yang pernah kutemui."
Tiba-tiba, ruang di sekitar kami berguncang hebat. Lant** pualam retak, menyingkap hamparan kehampaan hitam di bawahnya yang mulai menyedot partikel-partikel cahaya. Sebuah pintu gerbang raksasa berbentuk sampul buku tebal mulai terbuka di belakangku. Itu adalah jalan pulang. Angin kencang mulai menarik tubuhku menuju gerbang itu.
Athesia mulai memudar, tubuhnya perlahan berubah menjadi lembaran-lembaran kertas yang terbang tertiup badai dimensi. Ia tersenyum, sebuah senyum paling tulus yang pernah kulihat, meski matanya penuh duka.
"Selamat, Doni," bisiknya di tengah gemuruh angin. "Sidangmu... selesai. Kau lulus."
"Athesia! Ikutlah denganku!" aku berteriak, mencoba menggapai tangannya, namun jemariku hanya menembus butiran cahaya.
"Aku adalah drafmu, Doni. Aku milik dimensi ini," suaranya semakin menjauh, seolah tertelan oleh ruang dan waktu. "Tapi ingat satu hal... setiap kali seseorang membaca namamu di sampul itu, aku akan hidup kembali di pikiranmu."
Cahaya menyilaukan meledak dari pusat Altar. Aku merasa tubuhku ditarik paksa melewati lorong sempit yang penuh dengan suara ketikan keyboard dan aroma kopi instan. Detik-detik terasa seperti selamanya saat kesadaranku terombang-ambing antara dua dunia.
Tepat sebelum semuanya menjadi gelap, aku mendengar suara asing yang dingin membisik di telingaku, bukan suara Athesia, melainkan suara berat yang bergema dari kedalaman Kerajaan Bibliografi.
"Pengajuan diterima. Namun, setiap kesimpulan memiliki implikasi yang tak terduga. Apakah kau siap membayar royalti atas kebenaran ini, Sang Penulis?"
Pandanganku memutih. Hal terakhir yang kurasakan adalah sensasi dingin meja kayu perpustakaan di pipiku dan bunyi *bip* pelan dari baterai laptopku yang hampir habis. Namun, saat aku membuka mata, aku tidak berada di kursiku yang biasa.
Aku masih di perpustakaan, tapi suasana di sana terlalu sunyi. Terlalu pucat. Dan di atas layar laptopku, deretan kalimat yang baru saja kuketik dalam mimpiβatau kenyataan ituβmulai bergerak sendiri, membentuk sebuah pesan baru yang tidak pernah kusemprotkan di sana.
*Revisi diperlukan: Definisi 'Cinta' belum menyertakan pengorbanan nyawa subjek.*
Aku menoleh ke samping, dan jantungku seolah berhenti berdetak. Di atas meja, di sebelah kopiku yang sudah dingin, tergeletak sebuah pita rambut berwarna biru safirβpersis seperti yang dikenakan Athesia. Di dunia nyata ini, seharusnya benda itu tidak ada.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!