Cahaya di puncak Menara Bibliografi tidak pernah terasa semenyilaukan ini. Bukan karena sinar matahariβkarena di dimensi Academia, matahari hanyalah representasi dari tenggat waktu yang terus mengejarβmelainkan karena pancaran tubuh Athesia. Pagi ini, dia tampak berbeda. Gaun putihnya yang biasanya terlihat seperti tumpukan kertas kusut kini halus tanpa cela, berkilau seperti kertas kalkir premium yang baru keluar dari segel. Rambut peraknya mengalir seperti tinta emas yang tumpah di atas perkamen.
Aku berdiri di hadapannya dengan tangan gemetar, memegang jilidan draf terakhir yang terasa lebih berat dari pedang manapun yang pernah kugunakan untuk menebas Monster Plagiarisme di Hutan Sitasi.
"Semuanya sudah lengkap, Doni," suara Athesia lembut, namun bergema di dadaku. Ada nada bangga dalam suaranya, tapi juga sesuatu yang tertahan, seperti paragraf yang sengaja dipotong demi memenuhi batasan kata. "Metodologimu valid. Analisis datamu reliabel. Kau telah membuktikan bahwa cinta dan logika bukanlah dua variabel yang saling bertolak belakang."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering, persis seperti saat aku lupa membawa botol minum ke ruang bimbingan di dunia nyata. "Berarti... ini akhirnya?"
Athesia tersenyum kecil. Ia melangkah mendekat, aroma buku tua dan vanila yang menenangkan menyeruak dari sosoknya. Ia mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, sebuah segel cahaya berbentuk tanda tangan melayang-layang. Inilah dia. *Acc Final*. Kunci portal yang akan membawaku keluar dari keg***an isekai ini dan mengembalikanku ke kursi kayu perpustakaan pusat kampusku.
"Kau akan kembali ke duniamu," ucap Athesia. Matanya yang berwarna biru safir menatapku dalam-dalam. "Kembali ke realita di mana aku hanya akan menjadi tumpukan kertas di dalam tasmu, atau sekadar file PDF yang terkunci di dalam folder 'REVISI_FINAL_FIX_BANGET'."
Hatiku mencelos. Di dunia ini, dia adalah dewi yang menuntunku melewati lembah keputusasaan metodologi. Dia adalah teman bicara saat aku nyaris g*** menghadapi birokrasi kerajaan yang lebih rumit dari urusan administrasi kampus. Jika aku pulang, apakah dia akan menghilang? Apakah semua percakapan kami hanya akan menjadi memori yang memudar seiring berjalannya waktu?
"Ikutlah denganku," kataku tiba-tiba. Suaraku parau. "Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sini sendirian. Kau bukan sekadar draf bagiku, Athesia. Kau adalah... bagian dari jiwaku."
Athesia mengelus pipiku dengan jemarinya yang dingin namun lembut. "Aku tidak bisa pergi, Doni. Aku adalah manifestasi dari karyamu. Eksistensiku di sini terikat pada batas-batas dimensi ini. Di duniamu, aku adalah pemikiranmu, argumenmu, dan kerja kerasmu. Aku akan tetap bersamamu, tapi tidak dalam bentuk seperti ini."
Satu tetes air mata jatuh dari sudut mataku, membasahi sampul draf yang kupegang. Ironis. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun membenci skripsi ini, menganggapnya sebagai beban yang menghambat hidupku. Namun sekarang, saat aku harus berpisah dengan personifikasinya, rasanya seperti kehilangan separuh dari diriku sendiri.
"Bagaimana jika aku gagal di sana?" bisikku. "Bagaimana jika setelah semua ini, aku tetap menjadi pengangguran terdidik yang hanya bisa meratapi nasib? Di sini, aku adalah pahlawan. Di sana, aku hanyalah mahasiswa semester tua yang telat lulus."
Athesia menggeleng kuat-kuat. Ia meraih tanganku, lalu perlahan menempelkan segel cahaya itu ke punggung tanganku. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, memicu detak jantung yang liar.
"Kau bukan lagi Doni yang suka menunda-nunda," tegasnya. "Kau telah menaklukkan Naga Inkonsistensi. Kau telah melewati Labirin Referensi. Kekuatanmu bukan terletak pada gelar yang akan kau dapatkan, tapi pada ketangguhanmu untuk menyelesaikan apa yang telah kau mulai. Pulanglah, Doni. Selesaikan sidang akhirmu di dunia nyata. Buatlah orang tuamu bangga."
Athesia menarik tangannya kembali. Segel di tanganku kini bersinar terang, menciptakan pusaran angin di tengah ruangan. Lant** menara mulai bergetar. Portal dimensi mulai terbuka tepat di belakangku, menampakkan kilasan-kilasan bayangan dunia nyata: meja perpustakaan yang berantakan, kabel *charger* laptop yang menjunt**, dan bau kopi instan yang sudah dingin.
"Athesia!" teriakku di tengah deru angin.
Dia melangkah mundur, tubuhnya perlahan mulai memudar menjadi partikel-partikel cahaya putih. "Cari aku dalam setiap kalimat yang kau tulis, Doni! Aku akan ada di sana, di balik setiap argumen yang kau pertahankan!"
"Aku mencint**mu!" Teriakanku pecah, menembus batas antara logika dan emosi yang selama ini kupertahankan secara empiris.
Athesia hanya tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah kulihat, sebelum akhirnya ia hancur menjadi ribuan serpihan cahaya yang terbang ma**k ke dalam tubuhku. Portal itu menyedotku dengan kekuatan yang tak terelakkan. Pandanganku kabur, gravitasi seolah menghilang, dan suara bising dunia Academia digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
*B**K!*
Kepalaku terhentak. Rasa dingin meja kayu menyentuh pipiku. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. Bau debu perpustakaan menusuk hidungku. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Masih di sini. Perpustakaan pusat kampus. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi.
Aku menatap layar laptopku yang masih menyala redup. Di sana, kursor berkedip-kedip di akhir sebuah paragraf. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di pojok kanan bawah dokumen MS Word-ku, sebuah jendela *pop-up* muncul, sesuatu yang seharusnya mustahil ada di sana.
Sebuah ikon stempel berwarna emas dengan tulisan: **"VALIDATED BY ATHESIA. READY FOR FINAL DEFENSE."**
Jantungku berdegup kencang. Itu bukan mimpi. Aku meraba punggung tanganku, dan meskipun tidak ada tanda fisik, aku bisa merasakan kehangatan yang tertinggal. Namun, kegembiraanku terhenti seketika saat ponselku bergetar hebat di atas meja. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*βDoni, jangan senang dulu. Dewan Penguji sudah menunggumu di gerbang dimensi. Sidangmu bukan di kampus ini, tapi di ruang antara. Cepat ke Ruang Senat sekarang, atau kau akan terjebak dalam revisi abadi selamanya.β*
Aku tertegun. Baru saja aku menginjakkan kaki di realita, ancaman baru sudah menanti. Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat aku melihat ke arah pintu keluar perpustakaan, sosok dosen pembimbingku yang paling ditakuti berdiri di sana, menatapku dengan mata yang memancarkan cahaya biru yang sama dengan mata Athesia.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!