Leherku terasa kaku, seolah-olah seseorang baru saja mencoba memutar kepalaku tiga ratus enam puluh derajat. Bau apek kertas tua dan aroma pembersih lant** yang tajam menyeruak ma**k ke indra penciumanku, menggantikan bau debu kosmik dan sisa-sisa sihir bibliografi yang baru saja kuhirup di Kerajaan Academia. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menghalau bayangan buram yang menari-nari di pandanganku.
Dingin. Permukaan meja kayu perpustakaan ini terasa sedingin es di pipiku yang mati rasa. Aku mengangkat kepala dengan susah payah, mendengar bunyi *krek* yang tidak mengenakkan dari persendian leherku. Di hadapanku, layar laptop yang masih menyala memancarkan cahaya biru yang menusuk mata di tengah keremangan sudut perpustakaan lant** tiga yang mulai sepi.
"Athesia?" gumamku pelan. Suaraku parau, seperti baru saja menelan segenggam pasir.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada dewi cantik dengan jubah transparan yang terbuat dari jalinan sitasi. Tidak ada ksatria berkuda yang menuntut konsistensi referensi. Yang ada hanyalah deretan rak buku tua yang membisu dan seorang petugas perpustakaan di kejauhan yang sedang sibuk menyusun kembali ensiklopedia.
Aku menatap layar laptopku dengan jantung yang berdegup kencang. Jari-jariku yang gemetar meraih tetikus, menggerakkannya perlahan untuk mematikan mode *sleep*. Sebuah dokumen Microsoft Word terbuka lebar. Judulnya masih sama: *Analisis Hubungan Empiris antara Ekspektasi Realita dan Tingkat Kebahagiaan Mahasiswa Tingkat Akhir*.
Namun, ada yang berbeda.
Aku menggulir kursor ke bawah dengan cepat. Halaman demi halaman terlewati. Bab tiga yang tadinya hanya berisi coretan frustrasi kini penuh dengan tabel distribusi frekuensi yang rapi. Bab empat—bagian yang menjadi medan tempurku di Academia—kini berisi analisis data yang begitu tajam, begitu presisi, seolah-olah dikerjakan oleh mesin superkomputer yang memiliki perasaan.
Lalu, aku sampai di bagian Kesimpulan. Di sana, di paragraf terakhir, tertulis sebuah kalimat yang membuat nafasku tertahan: *“Bahwa pada akhirnya, validitas sebuah hubungan tidak hanya diukur melalui koefisien korelasi, melainkan melalui keberanian subjek untuk mengakui eksistensi objek dalam realitas yang paling pahit sekalipun.”*
Itu kalimat Athesia. Itu bukan kalimatku.
"Ini... ini nyata," bisikku. Air mata hampir saja tumpah kalau aku tidak melihat jam di sudut kanan bawah layar.
15:42.
Jantungku serasa melompat ke tenggorokan. Profesor Handoko. Beliau adalah tipe dosen yang akan mengunci pintu ruangannya tepat pukul 16:00, tidak peduli jika gedung departemen sedang terbakar atau ada meteor yang jatuh di halaman kampus. Dan hari ini adalah batas akhir pengumpulan draf untuk pendaftaran sidang periode ini. Jika aku tidak menyerahkannya sekarang, aku harus menunggu semester depan. Itu berarti enam bulan lagi menjadi beban bagi kiriman uang orang tuaku yang semakin menipis.
"Sial, sial, sial!"
Aku menyambar *flashdisk* dari tas, mencolokkannya dengan tangan gemetar, dan menyalin file tersebut. Proses *copying* terasa berjalan selama berabad-abad meskipun hanya memakan waktu lima detik. Setelah itu, aku menyambar ranselku, mema**kkan laptop tanpa mematikannya—pers**** dengan *hard drive* yang rusak—dan berlari menuju lift.
Liftnya mati. Tentu saja. Semesta tidak akan membiarkanku pulang dari dimensi isekai tanpa satu ujian terakhir yang bersifat fisik.
Aku berbalik menuju tangga darurat. Aku melompat turun dua anak tangga sekaligus. Bunyi sepatuku yang menghantam semen menggema di lorong tangga yang sunyi. Paru-paruku mulai terasa terbakar. Keringat dingin mengucur dari pelipisku, membasahi kerah kemeja yang sudah kusut karena dipakai tidur (atau berpetualang antar dimensi).
Saat mencapai lant** satu, aku tidak berhenti. Aku menerjang pintu kaca perpustakaan, mengabaikan tatapan heran dari mahasiswi baru yang sedang duduk di lobi.
"Maaf! Permisi!" teriakku sambil berkelit menghindari sekelompok mahasiswa yang berjalan sant**.
Gedung Departemen Ilmu Sosial berada di seberang lapangan utama. Jaraknya mungkin sekitar lima ratus meter, tapi dengan sisa tenaga setelah bertarung melawan monster birokrasi di Academia, jarak itu terasa seperti lari maraton menanjak. Matahari sore yang terik menusuk kulitku, tapi aku terus memacu kakiku.
Pikiranku berputar. Bagaimana jika Profesor Handoko sudah pergi? Bagaimana jika draf yang 'ajaib' ini malah dianggap plagiat karena terlalu sempurna? Bagaimana jika Athesia sebenarnya hanya manifestasi dari stres berlebihku?
Tidak. Aku tidak boleh ragu sekarang. Aku sudah melewati ujian metodologi mematikan di dimensi lain. Menghadapi satu orang profesor tua seharusnya lebih mudah daripada melawan Naga Plagiarisme, bukan?
Aku sampai di depan gedung departemen. Nafasku tersengal-sengal, suaranya terdengar seperti mesin tua yang hampir mati. Aku melirik jam tangan. 15:55. Lima menit lagi.
Aku berlari menyusuri koridor lant** dua menuju ruang 204. Bau kopi dan tumpukan kertas dokumen memenuhi udara. Aku melihat pintu kayu dengan papan nama perak bertuliskan: *Prof. Dr. Ir. Handoko, M.Sc.*
Pintunya sedikit terbuka. Ada celah cahaya dari dalam.
Aku berhenti tepat di depan pintu, mencoba menstabilkan nafasku agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja melarikan diri dari kejaran penagih hutang. Aku merapikan rambutku yang berantakan dengan tangan, menyeka keringat di dahi, dan mengetuk pintu perlahan.
"Ma**k," suara berat dan dingin itu terdengar dari dalam.
Aku mendorong pintu. Profesor Handoko sedang merapikan tas kulitnya. Beliau mengenakan kacamata tebalnya dan menatapku melalui bingkai emasnya dengan tatapan yang bisa membuat nyali mahasiswa tingkat satu menciut.
"Doni?" beliau melirik jam dinding di belakangnya. "Tepat waktu. Saya baru saja mau mengunci pintu."
"Maaf, Prof. Ini... ini draf revisi terakhir saya," kataku sambil menyodorkan map plastik yang entah kapan sudah kusiapkan di dalam tas. Tangan asliku masih gemetar hebat di balik map itu.
Beliau menerimanya dengan enggan. Beliau membuka map itu, membalik halaman demi halaman dengan kecepatan yang membuat jantungku berdegup mengikuti ritme bunyi kertas yang bergeser. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan bunyi detak jam dinding yang seolah-olah sedang menghitung mundur sisa hidupku.
Alisnya bertaut. Beliau berhenti di Bab Empat. Matanya menyipit, membaca baris demi baris analisis yang kubawa dari dimensi lain. Keheningan itu berlangsung selama satu menit, dua menit... yang bagiku terasa seperti sepuluh tahun di pengasingan.
"Doni," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas itu.
"I-iya, Prof?"
"Analisis korelasi di halaman empat puluh dua ini... kamu menggunakan pendekatan apa untuk memvalidasi variabel afektifnya? Saya belum pernah melihat model logika seperti ini di draf kamu sebelumnya."
Darahku mendesir. Itu adalah bagian yang didiktekan Athesia saat kami berada di Lembah Hipotesis. Aku menelan ludah, berusaha mengingat argumen logis yang kami bangun di sana.
"Itu... itu menggunakan metode triangulasi dimensi, Prof. Saya mencoba membedah bahwa emosi subjek tidak bisa dianggap sebagai variabel statis, melainkan dinamis yang dipengaruhi oleh sirkuit umpan balik dari realitas mereka sendiri," jawabku, berusaha terdengar seilmiah mungkin.
Profesor Handoko terdiam. Beliau perlahan melepaskan kacamatanya, lalu menatapku dengan tajam. Ada sesuatu yang berbeda di matanya—bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih mirip dengan kecurigaan yang bercampur rasa kagum.
"Menarik," gumamnya pelan. "Tapi kamu tahu kan, kalau argumen ini berani? Kamu harus bisa membuktikannya di depan dewan penguji. Jika kamu gagal menjelaskan ini secara empiris, kamu bukan cuma tidak lulus, tapi kamu akan dicoret dari program ini karena dianggap mengada-ada."
Beliau menutup map itu dengan bunyi *plak* yang keras.
"Saya akan jadwalkan sidangmu lusa pagi. Jam delapan tajam."
Lusa? Itu terlalu cepat! Aku bahkan belum sempat mencuci baju keberuntunganku. Tapi sebelum aku sempat memprotes, Profesor Handoko sudah berdiri dan memakai jasnya.
"Satu lagi, Doni," beliau berhenti di ambang pintu, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Siapa yang membantumu menulis bagian kesimpulan ini? Kalimatnya... terasa sangat personal. Seolah-olah ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengenalmu."
Aku tertegun. Wajah Athesia terlintas di benakku—senyum tipisnya sebelum aku tersedot kembali ke duniaku.
"Hanya... seorang teman, Prof. Teman yang sangat jauh," jawabku lirih.
Profesor Handoko mengangguk singkat, lalu melangkah pergi, meninggalkanku sendirian di ruangan yang mulai gelap. Aku menghela nafas panjang, merasa beban seberat satu ton terangkat dari bahuku. Namun, saat aku hendak meninggalkan ruangan, ponselku di saku celana bergetar.
Ada sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak dikenal. Hanya berisi satu baris kalimat pendek yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri:
*“Variabel pengganggu terdeteksi di koordinatmu. Jangan berpikir sidang ini hanya tentang skripsi, Doni. Mereka datang untuk mengambil kembali datanya.”*
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!