Aroma kapur barus dari toga sewaan yang kupakai terasa menusuk hidung, bercampur dengan bau parfum bunga-bungaan yang terlalu menyengat dari ratusan wisudawan di dalam aula besar ini. Suhu udara di dalam ruangan sebenarnya c**up sejuk berkat deretan AC sentral yang bekerja maksimal, namun keringat dingin tetap merembes di balik kemeja putihku. Leherku terasa gatal, tercekik kerah kaku yang sudah lama tidak kugunakan.
Aku menatap ujung sepatu pantofelku yang meng***p, bayanganku terpantul samar di sana. Rasanya baru kemarin aku berdarah-darah di Kerajaan Bibliografi, mengayunkan argumen metodologi untuk membelah monster-monster birokrasi yang mencoba mengonsumsi jiwaku. Sekarang, aku berdiri di sebuah barisan rapi, menunggu namaku dipanggil untuk melakukan ritual pemindahan kuncir toga yang konon adalah simbol kebebasan.
“Don, sant** sedikit. Muka kamu pucat sekali, seperti baru melihat hantu,” bisik Budi yang berdiri di sampingku. Dia menyikut lenganku, nyengir lebar dengan wajah tanpa beban.
“Aku hanya... merasa aneh,” jawabku singkat. Suaraku terdengar parau di telingaku sendiri.
Aneh adalah kata yang meremehkan. Sejak aku terbangun di depan laptop di perpustakaan kampus sebulan yang lalu—dengan draf skripsi yang tiba-tiba sudah selesai dan sempurna—aku merasa seperti hidup dalam dua realitas yang tumpang tindih. Logika pragmatisku bersikeras bahwa petualangan di dimensi Academia hanyalah manifestasi dari stres ekstrem dan kurang tidur. Namun, bekas luka tak kasat mata di dadaku saat berpisah dengan Athesia terasa jauh lebih nyata daripada ijazah yang akan kuterima sebentar lagi.
“Selanjutnya, Doni Arisandi. Predikat: Dengan Pujian,” suara moderator menggema melalui pengeras suara, memantul di dinding-dinding aula yang tinggi.
Langkahku terasa berat, seolah gravitasi di bumi ini mendadak naik dua kali lipat. Aku berjalan menuju panggung utama. Di sana, Rektor tersenyum ramah, memegang map ijazah dengan tangan yang terlihat terlalu halus untuk seseorang yang (dalam fantasiku) seharusnya memegang tongkat sihir birokrasi.
Saat kuncir togaku dipindahkan dari kiri ke kanan, sebuah sensasi menggelitik menjalar di tengkukku. Itu adalah perasaan yang sama saat aku pertama kali mema**ki dimensi Academia. Mataku secara refleks menyapu barisan penonton, melewati ratusan wajah orang tua yang bangga, kamera-kamera ponsel yang menyala, hingga berhenti pada satu titik di barisan paling belakang.
Jantungku berhenti berdetak selama satu milidetik.
Di antara kerumunan itu, di dekat pintu keluar yang terbuka sedikit, berdiri seorang wanita. Dia tidak memakai kebaya atau pakaian formal seperti tamu lainnya. Dia mengenakan gaun putih sederhana dengan potongan yang sangat akrab di ingatanku—potongan draf skripsi yang pernah menjadi zirah sekaligus lambang keanggunannya. Rambutnya yang berwarna perak keemasan tertimpa cahaya lampu aula, berpendar dengan cara yang tidak ma**k akal untuk manusia biasa.
“Doni? Silakan turun lewat sebelah sana,” tegur sang Rektor dengan suara pelan namun tegas, menyadarkanku bahwa aku sudah berdiri mematung terlalu lama di atas panggung.
Aku mengangguk cepat, hampir tersandung jubah togaku sendiri saat menuruni tangga. Mataku tidak lepas dari titik di belakang sana. Wanita itu menatapku. Jarak kami mungkin tiga puluh meter, dipisahkan oleh lautan manusia, namun aku bisa merasakan tatapannya yang tajam sekaligus lembut. Tatapan seorang dewi yang pernah menjadi perwujudan dari seluruh usaha keras, air mata, dan revisiku.
Athesia?
“Permisi, maaf, lewat...” aku menyikut beberapa orang saat kembali ke barisan, mengabaikan gerutu kesal mereka. Aku harus memastikannya.
Pikiranku berperang hebat. *Ini delusi, Doni. Kamu hanya merindukannya karena dia adalah bagian dari pencapaian terbesarmu. Athesia adalah personifikasi skripsimu, dia tidak mungkin ada di dunia ini. Dia hanya data dan logika yang diberi nyawa oleh sihir antardimensi.*
Namun, wanita itu tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang sangat khas, dengan sedikit kerutan di sudut mata yang selalu muncul setiap kali aku berhasil membuktikan sebuah hipotesis yang rumit. Dia mengangkat tangannya, seolah memberi salam, lalu berbalik dan melangkah keluar menuju lobi aula yang terang benderang oleh sinar matahari siang.
“Athesia!” teriakku, namun suaraku tenggelam oleh tepuk tangan meriah untuk wisudawan berikutnya.
Aku tidak peduli lagi pada protokol. Aku keluar dari barisan, mengabaikan tarikan tangan Budi yang mencoba menahanku. Aku berlari menyusuri gang di antara kursi-kursi penonton, jubah togaku berkibar-kibar seperti sayap kelelawar yang kikuk.
“Don! Mau ke mana kamu?” sayup-sayup kudengar suara ibuku memanggil dari barisan depan, tapi aku tidak berhenti.
Aku sampai di pintu keluar, napas seakan habis. Aku memindai lobi yang luas dan ramai oleh keluarga yang sedang berfoto. Di sana, di dekat pilar besar yang menghadap ke taman kampus, aku melihat punggungnya lagi. Dia berjalan dengan tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk di sekelilingnya.
Aku mengejarnya, langkahku bergema di lant** marmer. “Tunggu!”
Wanita itu berhenti tepat di bawah pohon akasia yang sedang berbunga. Dia berbalik perlahan. Sinar matahari menerpa wajahnya, dan untuk sesaat, aku benar-benar buta oleh cahaya itu. Ketika penglihatanku kembali jernih, aku berdiri hanya tiga meter darinya.
Wajah itu. Struktur tulang pipi itu. Mata berwarna abu-abu jernih yang tampak menyimpan seluruh referensi perpustakaan dunia. Dia memang sangat mirip dengan Athesia. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Dia tidak lagi memancarkan aura magis yang mengintimidasi. Dia terlihat... manusiawi. Di tangannya, dia tidak memegang gulungan perkamen atau pedang metodologi, melainkan sebuah map cokelat tua yang sangat tebal.
“Selamat atas kelulusannya, Doni Arisandi,” suaranya lembut, namun memiliki resonansi yang membuat bulu kudukku berdiri. Itu adalah suara yang sama yang membimbingku melewati ujian-ujian mematikan di Kerajaan Bibliografi.
Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. “Siapa kamu sebenarnya? Apakah ini... halusinasi pasca-trauma? Apakah aku masih tertidur di perpustakaan?”
Wanita itu terkekeh kecil, sebuah bunyi yang sangat merdu namun menyakitkan karena terasa begitu nyata. Dia melangkah maju, satu langkah yang menghapus jarak di antara kami. Bau kertas lama dan tinta basah tercium darinya—aroma yang selalu kusebut sebagai 'bau kemenangan'.
“Bukankah kamu sendiri yang menulis dalam bab penutupmu?” tanyanya, matanya berkilat jahil. “Bahwa sebuah penelitian tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya mencapai titik di mana peneliti harus melepaskannya ke dunia nyata agar bisa diuji secara empiris oleh kehidupan?”
Dia menyodorkan map cokelat yang dipegangnya kepadaku. Tanganku gemetar saat menerimanya. Di sampul map itu, tertulis sebuah judul yang membuat jantungku nyaris copot: *Ujian Lanjutan: Implementasi Cinta dan Logika dalam Struktur Realitas Non-Linear.*
“Itu...” suaraku tercekat.
“Draft baru,” bisiknya, mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Dan kali ini, Doni, tidak ada tombol revisi. Pilihannya hanya satu: Apakah kamu berani mempertahankan argumenmu di hadapan 'penguji' yang jauh lebih kejam daripada dewan dosen?”
Aku menatap map itu, lalu menatapnya kembali. Namun, saat aku ingin bertanya lebih lanjut, aku menyadari sesuatu yang ganjil. Di kerah gaun putihnya, tersemat sebuah bros kecil berbentuk pena bulu emas—identitas resmi para petinggi di Kerajaan Bibliografi.
Sebelum aku sempat bersuara, dia mundur selangkah dan menghilang di balik kerumunan wisudawan yang baru saja keluar dari aula, meninggalkanku berdiri mematung dengan sebuah naskah yang beratnya terasa seperti beban seluruh dimensi di tanganku. Aku baru saja lulus, tetapi entah mengapa, aku merasa ini hanyalah awal dari sidang yang jauh lebih mengerikan.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!