Aroma kopi saset yang basi dan debu perpustakaan yang menyesakkan mendadak hilang, berganti dengan udara yang terlampau bersih—begitu murni hingga paruparu saya terasa perih saat menghirupnya. Saya mengerjap, berusaha mengusir bayangan hitam yang menari-nari di pelupuk mata. Hal terakhir yang saya ingat adalah punggung saya yang pegal luar biasa dan kursor yang berkedip mengejek di halaman empat puluh dua draf skripsi saya.
"Sial, apa AC perpustakaan mati lagi?" gumam saya sambil mencoba bangkit.
Namun, telapak tangan saya tidak menyentuh meja kayu yang lecet atau karpet tipis yang berbau apek. Alih-alih, saya merasakan permukaan dingin dan halus seperti pualam yang dipoles sempurna. Saya membuka mata sepenuhnya, dan jantung saya seakan berhenti berdetak seketika.
Saya tidak lagi berada di ruang referensi lant** tiga. Saya berdiri di sebuah pelataran luas yang seolah-olah menggantung di atas lautan awan. Di depan saya, menjulang sebuah gerbang raksasa setinggi gedung lima lant** yang terbuat dari tumpukan buku raksasa yang membatu. Di atas lengkungan gerbang itu, terpahat sebuah tulisan dalam font yang sangat saya kenal—*Times New Roman*, ukuran raksasa, lengkap dengan spasi 1,5 yang presisi: **GERBANG REGISTRASI KERJAAN ACADEMIA.**
"Ini tidak mungkin," bisik saya, meraba saku celana jins saya. Kosong. Dompet, ponsel, dan kunci motor saya raib. "Gue pasti halusinasi karena kurang tidur. Ya, benar. Ini fase *micro-sleep* yang ekstrim."
Saya mencubit lengan keras-keras. Sakitnya nyata. Sangat nyata.
Baru saja saya hendak melangkah mundur, tanah di bawah kaki saya bergetar. Suara deru mesin tua yang dipaksa bekerja bergemuruh dari balik gerbang. Bongkahan batu obsidian hitam besar mulai bergerak, menyusun diri dari tumpukan di samping gerbang. Dalam hitungan detik, sesosok makhluk setinggi tiga meter berdiri tegak di depan saya. Tubuhnya kotak-kotak, kaku, dengan garis-garis cahaya biru yang mengalir di sela-sela sendi batunya seperti sirkuit elektronik. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya sebuah layar datar yang memancarkan cahaya putih statis.
"Identifikasi subjek!" suara makhluk itu menggelegar, kering dan tanpa emosi seperti suara *Google Assistant* yang sedang marah. "Tunjukkan bukti eksistensi dalam format yang sah!"
Saya menelan ludah, tenggorokan saya terasa kering seperti padang pasir. "Eksistensi? Saya... saya Doni. Mahasiswa semester akhir. Saya tidak tahu kenapa saya di sini."
Golem itu melangkah maju. Setiap hentakan kakinya membuat ubin pualam di bawah saya bergetar. Sebuah sinar laser merah keluar dari dahinya, memindai tubuh saya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Saya membeku, menahan napas seolah-olah gerakan sekecil apa pun akan membuat saya terhapus dari dunia ini.
"Pemindaian selesai," Golem itu bersuara lagi. "Subjek terdeteksi: Entitas Tanpa Judul. Status: Draft Kasar. Peringatan! Format tidak dikenali. Ma**kkan Kartu Tanda Penduduk Digital dalam format PDF!"
"PDF?" saya melongo. "Maksudmu KTP fisik? Saya tidak membawanya! Dan bagaimana caranya memberikan PDF di dunia nyata—maksudku, di tempat ini?"
Layar di wajah Golem itu berubah menjadi merah menyala. Sebuah tanda seru raksasa berkedip-kedip di sana. "Kesalahan Sistem! Data yang diterima adalah *Plain Text*. Kerajaan Academia tidak menerima input di luar format *.pdf* yang terstandarisasi. Anda dianggap sebagai *Spam* atau *Corrupted File*."
"Tunggu dulu! Saya bukan *corrupted file*!" seru saya panik. Pikiran saya berputar cepat. Sebagai mahasiswa yang sudah ratusan kali gagal mengunggah revisi karena salah format atau ukuran *file* yang terlalu besar, insting bertahan hidup saya mulai mengambil alih. "Coba cek lagi! Mungkin ada opsi 'Open With' atau semacamnya!"
"Prosedur Pembersihan dimulai," Golem itu tidak mendengarkan. Lengan batunya yang berat terangkat ke udara. Cahaya biru di sirkuit tubuhnya berubah menjadi jingga panas. "Menghapus data tidak valid dalam tiga... dua..."
"Tunggu! Berhenti!" saya berteriak sambil mengangkat tangan, mencoba melindungi kepala. "Saya punya Metadata! Saya punya daftar pustaka yang valid! Saya... saya memiliki pembimbing!"
Golem itu berhenti sesaat. "Menunda penghapusan. Memeriksa validitas referensi. Sebutkan nama Promotor atau Pembimbing Anda untuk verifikasi manual."
Keringat dingin mengucur di pelipis saya. Nama dosen pembimbing saya, Pak Bambang yang galak itu, mendadak hilang dari ingatan karena syok. Tapi kemudian, sebuah aroma harum bunga melati yang sangat lembut tiba-tiba melintasi indra penciuman saya, memotong hawa panas dari tubuh sang Golem.
"Namanya adalah Athesia," sebuah suara feminin yang merdu namun dingin terdengar dari arah belakang saya. "Dan dia adalah draf yang telah lama aku tunggu."
Saya menoleh dan terpaku. Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan jubah putih transparan yang tampak seperti terbuat dari lembaran-lembaran kertas perkamen halus. Rambutnya hitam panjang, terikat oleh pita yang menyerupai pembatas buku emas. Wajahnya cantik, namun matanya yang berwarna perak menatap saya dengan tatapan yang sangat familiar—tatapan penuh tuntutan, persis seperti draf skripsi saya yang sudah dua bulan tidak saya sentuh.
"A-Athesia?" lidah saya kelu.
"Formatnya memang berantakan, dan isinya banyak plagiasi pikiran yang dangkal," ucap wanita itu sambil berjalan mendekat, mengabaikan Golem yang masih dalam posisi siap menyerang. Dia menatap saya tajam, lalu jemarinya yang lentik menyentuh dada saya. "Tapi dia adalah drafku. Dan di dunia ini, draf yang belum selesai adalah dosa yang harus ditebus melalui ujian metodologi."
Si Golem kembali mengeluarkan suara statis. "Otoritas dikenali: Dewi Athesia. Namun, subjek tetaplah *file* yang tidak terbaca. Format PDF diperlukan untuk melewati gerbang."
Athesia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk saya meremang. "Dia tidak punya PDF-nya sekarang, tapi dia punya logikanya. Doni, buktikan pada penjaga ini bahwa eksistensimu valid secara empiris. Jika kau gagal mengonversi 'dirimu' menjadi format yang diterima dalam satu argumen, dia akan menghancurkanmu menjadi partikel data tak berguna."
Golem itu kembali mengangkat tinjunya, kali ini lebih tinggi, siap menghujam. "Input data dalam sepuluh detik, atau eliminasi permanen!"
Saya memandang Athesia, lalu memandang tinju batu yang siap meremukkan saya. Otak saya yang biasanya lambat karena prokrastinasi mendadak bekerja dalam kecepatan penuh. Saya harus melakukan 'Save As' pada nyawa saya sendiri, atau saya akan berakhir menjadi *Error 404* selamanya.
"Oke," saya berteriak, mencoba menenangkan debar jantung saya. "Saya tahu cara kerjanya! Golem, dengarkan argumen ini!"
Namun, saat saya membuka mulut untuk mengeluarkan pembelaan logis saya, layar di wajah Golem itu mendadak berubah menjadi biru total—*Blue Screen of Death*—dan sebuah alarm melengking m****akkan telinga mulai berbunyi dari arah dalam kerajaan. Sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar kesalahan format sedang menuju ke arah kami.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!