Skripsi Lintas Dimensi: Sidang Akhir di Kerajaan Bibliografi

Bab 3: Bab 3 - Bertemu dengan Athesia, sang Dewi Skripsi, di s...

Pengaturan Membaca

Lant** marmer yang kupijak terasa sedingin es, namun bukan itu yang membuat bulu kudukku berdiri. Aroma di dalam ruangan ini sangat akrab sekaligus memuakkan: campuran bau kertas tua, tinta printer yang terlalu panas, dan kafein basi. Cahaya matahari menerobos ma**k melalui celah-celah atap kuil yang tinggi, menyinari debu-debu yang melayang seperti partikel memori yang terlupakan. Di sekelilingku, pilar-pilar raksasa yang menopang langit-langit bukan terbuat dari batu biasa, melainkan tumpukan buku tebal dengan judul-judul metodologi penelitian yang diukir dengan tinta emas.

Aku melangkah ragu, suaraku bergema saat aku mencoba memanggil, "Halo? Ada orang di sini?"

Hening. Hanya ada suara gesekan sepatuku di atas lant** yang penuh dengan ukiran kutipan-kutipan kaki. Sampai akhirnya, aku tiba di pusat kuil. Di sana, di atas sebuah altar yang dikelilingi oleh gulungan perkamen yang melayang perlahan, seorang wanita duduk dengan punggung tegak.

Dia mengenakan gaun putih transparan yang tampak seperti jalinan serat kertas, dengan pola tulisan tangan yang mengalir di sepanjang kainnya. Rambutnya hitam legam, tergerai panjang hingga menyentuh lant**, namun yang paling mencolok adalah sepasang mata peraknya yang menatapku dengan intensitas yang bisa melubangi beton.

"Kau terlambat, Doni," suaranya datar, namun ada nada tajam yang memotong udara seperti pisau bedah.

Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering. "Athesia? Kau... kau benar-benar nyata?"

Wanita itu bangkit berdiri. Gerakannya sangat anggun, namun aura yang dipancarkannya begitu menyesakkan. Saat dia melangkah mendekat, aku menyadari bahwa pola di gaunnya bukanlah sekadar hiasan. Itu adalah kata-kata dari draf skripsiku. Aku bisa melihat kalimat pembukaku yang kaku di bagian pundaknya, dan tumpukan revisi Bab 2 yang berantakan di bagian pinggangnya.

"Nyata?" Dia tertawa, sebuah tawa kering tanpa humor. "Aku adalah perwujudan dari setiap detik yang kau sia-siakan. Aku adalah akumulasi dari harapan orang tuamu yang kau tumpuk di bawah bantal saat kau memilih untuk bermain *game* hingga subuh. Aku adalah draf yang kau biarkan membusuk di folder 'REVISI_FINAL_BANGET_V4' selama tiga bulan terakhir!"

Setiap kata yang dia ucapkan terasa seperti hantaman fisik. Aku mundur selangkah, namun kakiku tersangkut pada sebuah tumpukan buku yang tiba-tiba muncul dari lant**. "Dengar, aku bisa jelaskan. Aku hanya... butuh istirahat sebentar. Tekanannya terlalu besar, Athesia. Dosen pembimbingku tidak pernah puas, dan aku merasa buntu."

Athesia kini berdiri tepat di hadapanku. Dia jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan, atau mungkin kehadirannya yang dominan yang membuatnya tampak raksasa. Dia mengangkat tangan kanannya. Di sela jarinya, muncul sebuah pena bulu angsa dengan ujung yang memancarkan cahaya merah darahβ€”warna yang sama dengan tinta koreksi dosenku.

"Istirahat sebentar?" Athesia menyipitkan matanya. Ujung pena itu kini menyentuh dadaku, tepat di posisi jantung. "Tiga bulan, tujuh hari, dan dua belas jam. Itu bukan istirahat, Doni. Itu adalah penelantaran secara sadar. Tahukah kau apa yang terjadi pada draf yang diabaikan di dimensi ini? Kami menjadi debu. Kami memudar menjadi ketiadaan karena sang pencipta terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan."

"Maafkan aku," bisikku, tanganku gemetar. "Aku tidak tahu kalau... kalau kau punya perasaan."

"Aku tidak punya perasaan, aku punya LOGIKA!" teriaknya, membuat udara di sekitar kami bergetar hebat. Gulungan-gulungan perkamen di sekeliling kami mulai terbakar oleh api biru. "Dan secara logika, keberadaanmu di dunia ini adalah sebuah anomali yang tidak valid. Kau ma**k ke sini tanpa membawa referensi yang c**up. Kau adalah data sampah, Doni. Dan data sampah harus dibersihkan."

Cahaya merah dari penanya semakin terang. Aku merasakan dadaku memanas, seolah-olah ada seseorang yang sedang mencoba menghapus namaku dari lembar daftar hadir. Kepalaku mulai pening, dan penglihatanku mengabur di tepian.

"Tunggu! Jangan hapus aku!" aku berteriak putus asa, mencoba memegang pergelangan tangannya yang terasa sedingin porselen. "Aku masih ingin lulus! Aku masih ingin pulang!"

Athesia berhenti sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium aroma kertas baru dan ancaman kegagalan dari napasnya. "Kau ingin pulang? Untuk apa? Untuk kembali menatap layar kosong selama berjam-jam? Untuk kembali membohongi ibumu saat dia bertanya kapan kau akan sidang?"

"Tidak," kataku, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer. "Aku akan menyelesaikannya. Aku bersumpah. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Aku akan memvalidasi keberadaanku di sini!"

Athesia menatapku dengan tatapan skeptis, seolah sedang menelaah sebuah hipotesis yang meragukan. Dia menarik penanya dari dadaku, namun cahaya merah itu tidak padam. Malahan, cahaya itu membentuk sebuah simbol aneh di atas kulit bajukuβ€”sebuah tanda tanya besar yang dikelilingi oleh lingkaran merah.

"Validasi?" Athesia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Baiklah, Mahasiswa Terhormat. Mari kita uji secara empiris seberapa besar keinginanmu untuk bertahan hidup."

Dia menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba lant** kuil di bawah kakiku runtuh, berganti menjadi sebuah jurang kegelapan yang tak berdasar.

"Jika kau ingin aku mengakui keberadaanmu, kau harus menghadapi ujian pertamamu," suara Athesia menjauh saat aku mulai jatuh terperosok ke dalam kegelapan. "Ma**klah ke Hutan Plagiarisme. Di sana, kau harus menemukan argumen aslimu di tengah jutaan kutipan palsu. Jika kau gagal membedakannya, maka kau akan menjadi bagian dari catatan kaki yang terlupakan selamanya."

"Athesia!" aku menjerit, tanganku menggapai-gapai udara kosong.

"Ingat, Doni," suaranya terngiang di telingaku seperti bisikan hantu. "Di dunia ini, kutipan yang salah bisa membunuhmu lebih cepat daripada pedang mana pun. Sidangmu baru saja dimulai."

Aku terus terjatuh, dan tepat sebelum kegelapan total menelanku, aku melihat bayangan makhluk-makhluk dengan mata merah mulai merayap keluar dari balik pepohonan kertas di bawah sana. Mereka tidak membawa senjata, melainkan tumpukan berkas yang menjulur seperti lidah lapar. Dan aku tersadar, aku tidak membawa satu pun buku referensi bersamaku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca