Skripsi Lintas Dimensi: Sidang Akhir di Kerajaan Bibliografi

Bab 4: Bab 4 - Athesia menjelaskan bahwa Doni adalah 'Sang Ter...

Pengaturan Membaca

Cahaya temaram di dalam Aula Referensi ini tidak berasal dari lampu neon atau lilin, melainkan dari ribuan kunang-kunang tinta yang menari di sela-sela rak buku setinggi raksasa. Bau kertas tua yang menguning bercampur dengan aroma kopi pahit—jenis aroma yang biasanya membuat kepalaku berdenyut karena tenggat waktu, tapi entah kenapa di sini terasa sedikit menenangkan.

Athesia berjalan di depanku. Gaun putihnya yang panjang tampak seperti tumpukan kertas HVS yang tertata rapi, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya perak di lant** marmer. Ia berhenti di depan sebuah pilar kristal besar yang di dalamnya berputar sebuah pusaran tinta hitam.

"Doni," suaranya lembut, namun bergema di ruangan yang luas ini. "Kau mungkin menganggap tempat ini hanya mimpi buruk akibat terlalu banyak mengonsumsi kafein. Tapi Academia adalah manifestasi dari seluruh pengetahuan yang belum teruji. Dan kau... kau adalah Sang Validator."

Aku mendengus, merapatkan jaket himpunan yang masih melekat di tubuhku. Tanganku terasa dingin, dan jantungku berdegup dengan ritme yang tidak beraturan—mirip dengan saat aku menunggu giliran ma**k ke ruang dosen pembimbing.

"Validator?" aku mengulang kata itu dengan nada sinis. "Dengar, Athesia. Nama pangg***nku di kampus itu 'Doni Re-visi'. Aku adalah orang terakhir yang harus kau panggil jika ingin memvalidasi sesuatu. Jangankan menyelamatkan dunia, memvalidasi daftar pustaka sendiri saja aku masih sering typo."

Athesia berbalik. Matanya yang berwarna biru langit menatapku tajam, seolah sedang memindai setiap margin dalam jiwaku. "Dunia ini sedang mengalami 'Erosi Inkonsistensi'. Teorema-teorema mulai runtuh, hukum logika memudar, dan monster-monster Bias Informasi mulai bermunculan dari kegelapan. Hanya seseorang dengan kemurnian metodologi yang bisa menyusun kembali struktur dunia ini."

Ia mendekat, langkahnya tak bersuara. "Kau terpilih bukan karena kau sempurna, Doni. Kau terpilih karena kau memiliki 'Draf yang Belum Selesai'. Kekuatanmu terletak pada prosesmu yang gigih, meski lambat. Hanya kau yang bisa menarik kesimpulan akhir untuk menutup celah dimensi ini."

Aku melangkah mundur, hampir tersandung sebuah kamus bahasa kuno yang tergeletak di lant**. "Tunggu, tunggu. Kau bicara seolah aku ini pahlawan dalam novel fantasi murahan. Aku ini mahasiswa tingkat akhir, Athesia! Targetku cuma satu: lulus, pakai toga, lalu cari kerja supaya ibuku berhenti bertanya kapan aku wisuda. Aku tidak punya waktu untuk menyelamatkan kerajaan atau apa pun ini."

Aku menunjuk ke arah pusaran tinta di dalam pilar kristal. "Pulangkan saja aku. Aku lebih baik menghadapi revisi bab empat dari Pak Bambang yang galak itu daripada harus bertarung melawan monster metodologi di sini. Setidaknya di sana, kalau aku gagal, aku cuma mengulang semester, bukannya mati dimakan anomali data!"

Wajah Athesia berubah sayu. Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba sebuah proyeksi transparan muncul di udara di antara kami. Itu adalah pemandangan perpustakaan kampusku. Di sana, tubuhku terlihat tertelungkup di atas laptop yang masih menyala. Lampu indikator baterainya berkedip merah—sekarat.

"Waktumu di sana membeku, Doni," bisik Athesia. "Tapi jika kau menolak tugas ini, sinkronisasi antara draf ini—yaitu aku—dan dirimu akan terputus. Jika itu terjadi, keberadaanmu di dunia nyata akan terhapus. Kau tidak akan pernah lulus, karena kau tidak akan pernah ada."

Tenggorokanku mendadak kering. Ini lebih buruk daripada ancaman Drop Out. Ini adalah pemusnahan eksistensial. Aku mengepalkan tangan, merasakan keringat dingin membasahi telapak tanganku.

"Ini pemerasan namanya," gerutuku dengan suara bergetar. "Kalian mahluk isekai selalu punya cara yang menyebalkan untuk memaksa orang bekerja tanpa bayaran."

"Ini bukan tanpa bayaran," sahut Athesia cepat. Ia melangkah maju, kini jarak kami hanya terpaut beberapa inci. Aku bisa mencium aroma mawar dan tinta segar dari tubuhnya. "Setiap ujian metodologi yang kau selesaikan di sini akan secara otomatis memperbaiki logika dan argumentasi dalam skripsimu di dunia nyata. Saat kau berhasil memvalidasi puncak Kerajaan Bibliografi, skripsimu akan menjadi mahakarya yang tak terbantahkan. Kau akan pulang dengan gelar yang kau dambakan."

Aku terdiam. Tawaran itu terdengar terlalu manis untuk menjadi kenyataan. Sebuah skripsi yang sempurna tanpa perlu berdebat dengan dosen penguji yang tidak konsisten? Itu adalah impian setiap mahasiswa tingkat akhir yang hampir g***.

Namun, sebelum aku sempat memberikan jawaban, lant** di bawah kaki kami bergetar hebat. Suara raungan mengerikan terdengar dari balik pintu aula yang raksasa. Suara itu terdengar seperti ribuan kertas yang robek secara bersamaan.

"Apa itu?" tanyaku, nyaliku ciut seketika.

"Itu adalah 'Plagiarisme Tanpa Sitasi'," wajah Athesia menegang, ia menarik sebuah tongkat yang berbentuk seperti pena bulu ayam raksasa dari udara kosong. "Monster yang lahir dari pencurian ide. Mereka telah mencium keberadaanmu, Doni. Sang Validator yang belum teraktivasi."

Pintu aula hancur berkeping-keping, dan dari sana muncul sesosok bayangan raksasa tanpa wajah yang tubuhnya terbuat dari potongan-potongan paragraf yang acak-acakan. Matanya merah menyala, memancarkan kebencian yang murni.

"Pilih sekarang, Doni!" teriak Athesia di tengah gemuruh suara monster itu. "Lawan dengan argumenmu, atau biarkan namamu terhapus dari sejarah selamanya!"

Aku melihat ke arah monster itu, lalu ke arah Athesia, dan terakhir ke tanganku yang gemetar. Tidak ada pedang, tidak ada perisai. Hanya ada sebuah pulpen usang yang entah bagaimana masih terselip di saku jaketku.

"Demi nilai A," bisikku, meski kakiku terasa lemas. "Kalau aku mati di sini, aku akan menghantui dosen pembimbingku sampai kiamat."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca