Langkah kaki kami mendarat di atas hamparan tanah yang tidak lazim. Alih-alih tanah merah atau rumput hijau, permukaan Hutan Literatur ini dilapisi oleh tumpukan kertas buram yang menguning, berderik setiap kali sepatuku menekannya. Udara di sini terasa berat dan kering, membawa aroma debu perpustakaan tua yang membuat hidungku gatal. Pohon-pohon di sekeliling kami bukan terbuat dari kayu, melainkan jilid-jilid buku raksasa yang akarnya berupa lembaran-lembaran bibliografi yang menjunt** layaknya tanaman rambat.
"Hati-hati, Doni," bisik Athesia. Suaranya terdengar merdu namun mengandung peringatan yang tajam. Ia melayang sedikit di sampingku, gaun putihnya yang dihiasi coretan tinta emas tampak kontras dengan kegelapan hutan. "Di sini, kesalahan kecil bisa menjadi predator yang mematikan."
Aku mengeratkan peganganku pada gagang *Galam Refisi*, pedang pendek yang diberikan Athesia padaku di perbatasan tadi. Rasanya berat dan kikuk di tanganku, sama seperti rasa tidak amanku setiap kali harus membuka laptop untuk mengerjakan bab hasil penelitian. "Aku sudah biasa menghadapi revisi, Athesia. Paling-paling cuma salah ketik sedikit," gumamku, mencoba menenangkan debar jantung yang memalu dada.
Tiba-tiba, semak-semak yang terbuat dari tumpukan koran bekas di depan kami bergoyang hebat. Sebuah raungan parau, yang terdengar seperti suara kertas disobek paksa, memecah kesunyian. Dari balik pepohonan buku, muncullah makhluk itu.
Ukurannya sebesar kerbau, tapi tubuhnya berbentuk gumpalan tinta hitam yang pekat dan lengket. Dari pangkal lehernya, mencuat tiga kepala reptil yang menggeliat-geliat. Setiap kepala memiliki mata merah menyala, dan di dahi mereka terpampang huruf-huruf yang bercahaya redup. Kepala pertama bertuliskan *'Teori'*, kepala kedua *'Metodoligi'*, dan kepala ketiga *'Analisis'*.
"Typo-Hydra," desis Athesia, wajahnya menegang. "Cepat, Doni! Gunakan logikamu!"
Makhluk itu menerjang. Kepala *'Metodoligi'* melesat ke arahku dengan taring tinta yang tajam. Aku menghindar ke samping, berguling di atas tumpukan kertas, lalu dengan refleks penuh kepanikan, aku mengayunkan pedangku.
*Zlap!*
Kepala *'Metodoligi'* terpenggal, jatuh ke tanah dan seketika mencair menjadi genangan tinta hitam. Aku bernapas lega sesaat, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. "Lihat? Tidak sesulit yang dibayangkan."
Namun, seringai sombongku tidak bertahan lama. Dari bekas luka di leher makhluk itu, muncul gelembung tinta yang mendidih. Dalam hitungan detik, bukan satu, melainkan dua kepala baru mencuat keluar. Sekarang, di leher itu terpampang kata *'Metodologi'*βbenar secara ejaanβnamun di sebelahnya muncul kepala lain bertuliskan *'Metodhellogi'* dan *'Metodologiii'*.
"Jangan asal potong!" teriak Athesia frustrasi. "Setiap kali kau memotong tanpa verifikasi yang tepat, kesalahan itu akan berlipat ganda! Kau baru saja menciptakan inkonsistensi terminologi!"
Typo-Hydra itu kini memiliki lima kepala. Semuanya mulai meracaukan kata-kata yang salah ketik secara bersamaan, menciptakan kebisingan yang memusingkan kepala. *'Srikpsi'*, *'Kualitatip'*, *'Signifikanz'*. Suara-suara itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk telingaku.
Aku mundur selangkah, kakiku gemetar. Makhluk itu semakin besar dan mengerikan. Setiap kali ia melangkah, jejak kakinya meninggalkan noda hitam yang merusak teks-teks di lant** hutan. Aku mencoba menyerang lagi, memotong kepala *'Analisis'*, tapi yang terjadi justru lebih buruk. Dua kepala baru muncul: *'Analsis'* dan *'Analys-is'*.
"Sial! Kenapa mereka terus tumbuh?" teriakku frustrasi, nyaris terjatuh karena tersandung akar bibliografi.
"Karena kau hanya fokus pada permukaannya!" Athesia mendarat di sampingku, tangannya menunjuk ke arah dada monster itu yang berdenyut-denyut. "Typo bukan sekadar salah ketik, Doni. Itu adalah wujud dari ketidaktelitian pikiranmu. Kau tidak bisa membunuhnya hanya dengan kekuatan fisik. Kau harus menyelaraskan niatmu dengan sumber data yang valid!"
Aku terengah-engah, melihat ke arah tujuh kepala yang kini menatapku lapar. Mereka mulai mengepungku, menutup jalan keluar. Tinta hitam mulai meluber dari mulut-mulut mereka, memba****i lant** kertas dan membuat pijakanku menjadi licin. Aku merasa seperti tenggelam di dalam tumpukan draf yang tidak pernah selesai.
"Athesia, aku tidak bisa melakukannya!" seruku putus asa. "Aku tidak pernah teliti! Kau tahu itu, itulah kenapa kau ada di sini sebagai draf yang terbengkalai!"
Athesia memegang bahuku, tatapannya tajam menembus mataku. "Doni, lihat aku. Kau punya kemampuan analisis data yang tajam. Kau hanya takut membuat kesalahan, sehingga kau terus membiarkan kesalahan itu menumpuk di belakang kepalamu. Hadapi mereka satu per satu dengan ketenangan, bukan kemarahan."
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas di tengah bau tinta yang menyengat. Aku harus berhenti menyerang secara acak. Aku harus melakukan *'Find and Replace'* secara mental. Aku membuka mata, melihat tujuh kepala itu tidak lagi sebagai monster, melainkan sebagai barisan kata di layar monitor yang butuh dikurasi.
Aku melihat pola gerakannya. Kepala-kepala itu bergerak mengikuti irama detak jantungku yang tidak beraturan. Jika aku tenang, mereka melambat.
"Oke... mari kita coba cara yang benar," bisikku pada diri sendiri. Aku tidak mengayunkan pedangku untuk memotong, melainkan memposisikannya seperti pena penunjuk. Aku memusatkan seluruh fokusku pada satu kepala yang paling mendasar: *'Teori'*.
Aku tidak memotongnya. Aku menusuk tepat di bagian tengah huruf 'O' yang tampak goyah, sambil meneriakkan dalam hati argumen yang mendasari bab tersebut. Pedangku bersinar terang, bukan lagi merah darah, melainkan putih cemerlang seperti cahaya lampu meja belajar di tengah malam.
Satu kepala itu melenyap tanpa tumbuh kembali. Berhasil.
Namun, saat aku bersiap membidik kepala berikutnya, hutan tiba-tiba bergetar hebat. Suara tawa dingin yang terdengar seperti gesekan penggaris besi di atas meja kaca menggema dari kegelapan yang lebih dalam.
"Menghapus typo saja bangga, mahasiswa?" suara itu berat dan penuh ejekan.
Dari balik bayangan pohon-pohon buku yang paling besar, muncul sesosok siluet tinggi berjubah hitam dengan wajah yang tertutup oleh masker berbentuk monogram universitas yang retak. Di tangannya, ia memegang sebuah stempel raksasa yang bertinta merah darah.
Athesia tersentak mundur, wajahnya memucat. "Itu dia... Sang Asisten Penguji Tanpa Nama. Dia tidak akan membiarkanmu melakukan revisi semudah itu."
Aku menelan ludah, melihat Typo-Hydra yang tersisa tiba-tiba tunduk di hadapan sosok baru itu. Masalahku baru saja naik ke level yang jauh lebih birokratis. Di atas kepala sosok berjubah itu, sebuah status mengambang dalam huruf besar yang menyala: **REVISI TOTAL**.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!