Hawa dingin yang menusuk tulang bukan berasal dari es, melainkan dari kekosongan absolut yang memancar dari mulut Gua Referensi Tersembunyi. Aku merapatkan jubah lusuhkuβyang anehnya terasa seperti kain wisuda yang belum disetrikaβsambil menatap kegelapan di depan. Di sampingku, Athesia berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Gaun putihnya yang terbuat dari lembaran-lembaran draf skripsiku berpendar lembut, memberikan satu-satunya cahaya di tempat terkutuk ini.
"Ingat, Doni," suara Athesia terdengar seperti bisikan ribuan lembar kertas yang dibalik serentak. "Pedang Sitasi tidak berada di tempat yang mudah dijangkau. Ia terkubur di bawah tumpukan data primer dan sekunder. Jangan pernah melepaskan genggamanmu dari logikaku, atau kau akan terhapus dari bibliografi dunia ini."
Aku menelan ludah. Jakun naik-turun dengan susah payah. "Kenapa namanya harus 'Gua Referensi'? Kedengarannya seperti tempat di mana mimpiku mati setiap malam jam dua pagi."
"Karena di sinilah tempat segala pengetahuan yang belum divalidasi bersemayam," jawab Athesia tanpa menoleh. Ia melangkah ma**k, dan aku terpaksa mengikuti, kakiku gemetar setiap kali menyentuh lant** gua yang permukaannya terasa seperti tombol-tombol *keyboard* raksasa.
Baru sepuluh langkah ma**k, udara di sekitar kami mulai berdesis. Cahaya dari tubuh Athesia mulai berkedip-kedip tidak stabil. Aku melihat ke bawah dan jantungku hampir melompat keluar. Lant** batu di depanku tiba-tiba retak, bukan pecah menjadi kerikil, melainkan terfragmentasi menjadi kotak-kotak piksel abu-abu.
"Jangan injak itu!" teriak Athesia.
Aku membeku dengan satu kaki menggantung di udara. Di bawah sana, di balik retakan piksel itu, tidak ada jurang atau air. Hanya ada hamparan putih kosong yang tak berujung dengan tulisan merah tebal yang melayang-layang: **404 NOT FOUND**.
"Jebakan *link* mati," bisikku, keringat dingin mulai memba****i dahi. "Sama seperti sumber-sumber yang kupaksakan ma**k ke bab dua kemarin."
"Ini lebih buruk dari sekadar sumber yang hilang, Doni," Athesia menarik lenganku, menjauhkanku dari tepi lubang digital tersebut. "Jika kau jatuh ke sana, keberadaanmu akan dianggap sebagai 'argumen tanpa dasar'. Kau akan menghilang dari realitas karena tidak memiliki rujukan yang valid untuk menopang eksistensimu."
Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati. Gua itu semakin sempit, dipenuhi dengan stalaktit berbentuk pena bulu yang meneteskan tinta hitam pekat. Setiap kali tetesan itu mengenai tanah, terdengar suara eror Windows yang m****akkan telinga. Aku harus melompat di antara bebatuan yang stabil, menghindari area-area transparan yang menunjukkan teks-teks acak dari jurnal predator yang tidak bisa diakses.
Rasa lelah mulai menggerogoti kakiku, tapi ketakutan akan menjadi 'pengangguran metafisik' mendorongku terus maju. Hingga akhirnya, kami sampai di sebuah aula besar di jantung gua. Di tengahnya, tertancap sebuah pedang yang bilahnya terbuat dari kristal bening, di dalamnya mengalir cahaya emas yang membentuk barisan nama penulis, tahun, dan judul buku.
"Itu dia," gumamku. *Pedang Sitasi.*
Namun, jalan menuju podium itu adalah sebuah labirin dari jembatan gantung yang terus berubah-ubah. Setiap jembatan memiliki label tahun yang berbeda.
"Kau harus memilih rujukan terbaru, Doni!" Athesia memperingatkan saat aku hendak melangkah ke jembatan bertuliskan '1998'. "Gunakan aturan kemutakhiran data! Jika kau mengambil referensi yang terlalu usang, jembatan itu akan runtuh sebelum kau mencapai tujuan!"
Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali sisa-sisa ingatan metodologi penelitianku. Aku berlari menuju jembatan '2023', tapi tiba-tiba sebuah peringatan muncul di udara: *Paywall! Purchase access for $35 to continue.*
"Si****!" makiku. "Bahkan di dunia ini pun pengetahuan harus bayar?"
"Gunakan kartu mahasiswamu, Bodoh!" teriak Athesia dari belakang, sambil menangkis serangan dari bayangan-bayangan hitam yang mulai bermunculan dari dinding guaβmonster-monster kecil berbentuk *typo* yang merayap cepat.
Aku meraba saku celana jinsku, menemukan kartu mahasiswa Universitas Nusantara yang sudah agak kusam. Aku menempelkannya ke udara kosong di depan jembatan. *Akses Diberikan.*
Jembatan itu menjadi solid. Aku berlari sekuat tenaga, melompati lubang-lubang *Error 404* yang bermunculan secara acak seolah-olah seluruh gua ini sedang mengalami serangan siber. Tepat di depan podium, lant** di bawahku mulai bergetar hebat. Sebuah pesan peringatan raksasa muncul, menutupi pandanganku: **WARNING: PROBABLE PLAGIARISM DETECTED.**
"Aku tidak menyontek!" teriakku pada kekosongan itu. "Aku melakukan sintesis! Aku membandingkan teori!"
Aku melompat, tanganku terjulur meraih gagang Pedang Sitasi. Begitu jemariku menyentuh logam dinginnya, sebuah sengatan listrik yang berisi informasi ribuan terabita menghantam otakku. Aku melihat daftar pustaka yang tak berujung, aku merasakan bobot dari setiap argumen yang pernah ditulis manusia.
Dengan satu tarikan napas penuh determinasi, aku mencabut pedang itu. Cahaya emas meledak, menghancurkan segala pesan eror dan menutup lubang-lubang *link* mati di sekitarku. Gua itu seketika menjadi tenang, hanya menyisakan dengung halus dari bilah pedang di tanganku.
"Berhasil..." bisikku, terengah-engah. Pedang itu terasa ringan, seolah-olah ia adalah bagian dari lenganku sendiri.
Athesia berjalan mendekat, wajahnya yang cantik tampak sedikit lega, meski matanya tetap waspada. "Bagus, Doni. Dengan ini, kau punya senjata untuk membedah argumen para monster birokrasi. Tapi jangan senang dulu."
Aku menurunkan pedangku. "Kenapa lagi? Aku sudah punya senjatanya, kan?"
Athesia menunjuk ke arah pintu keluar gua yang tiba-tiba tertutup oleh kabut hitam pekat. Dari dalam kabut itu, muncul sepasang mata merah raksasa yang menyala. Suara tawa berat yang bergema membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu draf lama dari langit-langit.
"Kau baru saja mengambil referensi milik-Nya," bisik Athesia dengan nada ngeri yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Sang Penguji Eksternal telah menyadari keberadaanmu. Dan dia tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau melewati tahap 'Uji Orisinalitas' secara langsung."
Sosok raksasa keluar dari kegelapan, mengenakan jubah hitam dengan toga yang robek-robek. Di tangannya, ia memegang sebuah palu besar yang bertuliskan satu kata yang paling ditakuti setiap mahasiswa: **REVISI TOTAL.**
Aku menggenggam erat Pedang Sitasi, namun tanganku kembali gemetar. "Athesia... apakah pedang ini bisa membunuh sesuatu yang tidak punya hati seperti seorang penguji?"
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!