Kertas perkamen di tanganku terasa panas, seolah-olah tinta yang membentuk butiran pertanyaan di atasnya baru saja dipanggang. Aku menyeka keringat yang menetes dari pelipis, memandangi deretan rumah berbatu di Desa Margin-Kiri yang tampak tenangβterlalu tenang untuk seleraku. Di sampingku, Athesia berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. Gaun putihnya yang bersinar redup melambangkan draf bersih yang belum ternoda coretan revisi, tapi tatapannya tajam seperti penguji sidang yang sedang mencari celah dalam logika penelitian.
"Ingat, Doni," suara Athesia terdengar seperti denting harpa, namun isinya tetap saja instruksi metodologi yang kaku. "Tanpa data primer yang valid, keberadaanku akan memudar. Aku adalah drafmu. Jika kuesioner ini gagal, aku akan menjadi tumpukan kertas sampah, dan kau akan terjebak di sini selamanya sebagai catatan kaki yang terlupakan."
Aku menelan ludah. "Aku tahu, Thes. Aku sudah sering menghadapi responden galak di dunia nyata. Ini cuma urusan teknis."
Aku melangkah menuju seorang pria tua yang sedang duduk di depan teras rumahnya, sibuk mengasah cangkul yang terbuat dari bahan metalik aneh. Namanya, menurut indikator melayang di atas kepalanya, adalah 'Penduduk A-01'.
"Permisi, Pak," kataku dengan senyum yang dipaksakan paling ramah. Aku menyodorkan perkamen itu. "Bisa minta waktunya sebentar untuk mengisi kuesioner tentang 'Efektivitas Distribusi Mana terhadap Kesejahteraan Petani di Dimensi Academia'?"
Pria itu tidak mendongak. Tangannya terus bergerak mengasah cangkul. "Tekan 'X' untuk melewati dialog," gumamnya datar.
Aku mengernyit. "Hah? Pak, saya bukan mau bicara dengan sistem. Saya butuh Bapak menjawab beberapa pertanyaan di sini. C**up centang skala satu sampai lima."
Penduduk A-01 akhirnya berhenti mengasah. Ia menoleh padaku dengan mata yang kosong, seolah-olah tekstur matanya belum selesai dirender sepenuhnya. "Halo, Petualang! Cuaca hari ini sangat cerah untuk bertani. Apakah kau punya berita dari ibukota?"
"Tidak, Pak. Saya punya kuesioner," balasku, mulai merasa frustrasi. Aku menunjuk kolom Skala Likert di perkamenku. "Bagaimana menurut Bapak tentang biaya pupuk Mana tahun ini? Sangat Setuju atau Sangat Tidak Setuju?"
Pria itu kembali mengasah cangkulnya. "Halo, Petualang! Cuaca hari ini sangat cerah untuk bertani. Apakah kau punya berita dari ibukota?"
Aku menghela napas panjang, menoleh ke arah Athesia yang menyilangkan tangan di depan dada. "Mereka benar-benar NPC, Thes. Mereka terjebak dalam loop dialog. Bagaimana cara aku mendapatkan data kalau mereka bahkan tidak punya kesadaran untuk menjawab?"
Athesia mendekat, aromanya seperti kertas baru dan tinta printer yang hangat. "Di dunia ini, data bukan hanya sekadar jawaban, Doni. Data adalah pengakuan. Kau harus memicu variabel yang tepat agar mereka keluar dari fungsi dasarnya. Cobalah gunakan metode observasi partisipatif atau... sedikit stimulasi empiris."
"Stimulasi empiris?" aku bergumam. Aku teringat teknik wawancara mendalam yang pernah kupelajari di semester lima. Aku harus ma**k ke dalam realita mereka.
Aku mencoba mendekati seorang ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian (Penduduk B-05). Alih-alih langsung menyodorkan kertas, aku membantunya mengangkat keranjang kayu yang tampak berat. "Wah, berat juga ya, Bu. Pasti susah kalau harga Mana naik, jadi tidak bisa pakai sihir pengering otomatis?"
Ibu itu berhenti. Matanya berkedip sekali, lalu dua kali. Sebuah bar progres berwarna biru muncul di atas kepalanya: *[Calculating Relevance...]*
"Benar sekali, Nak," jawabnya, suaranya kini terdengar lebih manusiawi meski masih kaku. "Pajak Mana dari Menara Rektorat mencekik kami. Kami hanya ingin hidup tenang tanpa harus mengutip jurnal setiap kali mau memasak."
Cepat-cepat aku menyodorkan perkamen. "Nah! Kalau begitu, tolong isi ini, Bu. Ini bisa jadi dasar kebijakan untuk menurunkan pajak Mana."
Si Ibu mengambil pena bulu yang kusodorkan. Namun, tepat saat ujung pena itu hendak menyentuh perkamen, tangannya membeku. Tubuhnya bergetar hebat, dan suaranya berubah menjadi distorsi digital yang menyakitkan telinga.
"ER-ROR. AKSES DITOLAK. RESPONDEN TIDAK MEMILIKI OTORISASI UNTUK MEMBERIKAN OPINI KRITIS. SILAKAN HUBUNGI DEWAN ETIK PENELITIAN."
"Apa-apaan ini?" aku berseru sembari melompat mundur.
Tiba-tiba, langit di atas desa yang tadinya cerah berubah menjadi abu-abu mendung, menyerupai warna latar belakang Microsoft Word yang belum diaktifkan lisensinya. Penduduk desa yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing serentak berhenti. Mereka semua berbalik menghadapku dengan gerakan patah-patah yang sinkron.
"Doni, waspada!" teriak Athesia. Tangannya bercahaya, membentuk sebuah perisai transparan yang terlihat seperti margin halaman yang tebal.
"Apa yang terjadi?" tanyaku panik sembari mendekap bundel kuesionerku erat-erat.
"Kau mencoba mengambil data sensitif tanpa izin dari 'Validator Utama'," Athesia menjelaskan, wajahnya tampak pucat. "Di dimensi ini, mengumpulkan data primer tanpa surat izin penelitian yang ditandatangani oleh Penguasa Birokrasi dianggap sebagai tindakan spionase akademik!"
Seorang pria jangkung dengan jubah hitam yang dipenuhi simbol-simbol *footnote* muncul dari balik kabut di ujung jalan desa. Ia memegang sebuah stempel raksasa yang berpendar merah darah. Di belakangnya, penduduk desa mulai berjalan mendekatiku dengan tangan terulur, mulut mereka merancaukan kata yang sama berulang-ulang.
"Bias... Bias... Data Anda tidak valid... Bias... Sampel tidak representatif..."
"Kita harus lari, Doni!" Athesia menarik lenganku.
"Tapi datanya! Aku baru dapat satu centang!" teriakku tidak rela.
"Lupakan datanya untuk sekarang! Jika kau tertangkap oleh Validator Utama, kau akan dijadikan *dummy data* selamanya!"
Aku berlari sekencang mungkin, melompati pagar-pagar rumah penduduk sementara pria berjubah itu menghantamkan stempel raksasanya ke tanah. Setiap kali stempel itu memukul bumi, muncul tulisan besar berwarna merah di udara: **REJECTED!**
Kami terdesak ke arah hutan di pinggir desa, namun di depan kami, jalanan tiba-tiba terputus oleh sebuah jurang yang dasarnya tak terlihat, hanya ada aliran kode-kode biner yang mengalir deras di bawah sana. Aku menoleh ke belakang. Sang Validator Utama sudah berdiri hanya beberapa meter dari kami, mengangkat stempelnya tinggi-tinggi untuk memberikan keputusan final.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi pada kuesioner di pelukanku. Salah satu lembaran yang tadi sempat disentuh oleh Penduduk B-05 mulai bersinar keemasan.
"Thes! Lihat! Kertasnya bereaksi!"
Athesia terbelalak. "Itu... itu bukan sekadar data. Itu adalah anomali! Doni, cepat baca apa yang tertulis di bawah kolom komentar!"
Aku membuka lembaran itu dengan tangan gemetar, tepat saat bayangan stempel raksasa sang Validator menutupi tubuh kami. Di sana, di kolom saran yang seharusnya kosong, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang berantakan: *'Kunci validitas bukan pada jawaban kami, tapi pada siapa yang membiayai penelitian ini.'*
Tiba-tiba, tanah yang kami pijak bergetar hebat. Bukan karena sang Validator, melainkan karena sebuah notifikasi raksasa muncul di cakrawala, menutupi matahari.
**[WARNING: CONFLICT OF INTEREST DETECTED. RESEARCH FUNDING SOURCE UNKNOWN.]**
"Apa maksudnya ini, Thes?" teriakku di tengah suara gemuruh.
Athesia memeluk lenganku erat, matanya menatap nanar pada sang Validator yang mendadak diam mematung. "Seseorang telah menyabotase metodologimu sejak awal, Doni. Kita bukan sedang mencari data... kita sedang dijebak dalam sebuah plagiasi besar!"
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!