Langkah kakiku terasa seberat tumpukan literatur yang belum sempat kubaca. Setiap inci otot di betis ini berdenyut, memprotes perjalanan panjang melewati Hutan Metafora yang penuh dengan jebakan diksi. Di depanku, sebuah papan kayu tua berayun tertiup angin malam, mengeluarkan bunyi derit yang ritmis. *Wisma Narasi*, begitu tulisan yang terukir dengan gaya kaligrafi klasik di sana.
"Kita istirahat di sini dulu," ucapku, suaraku parau karena debu jalanan.
Athesia menoleh, helaian rambut peraknya yang berkilau tertimpa cahaya bulan Academia tampak seperti benang sutra yang ditenun dari cahaya. Ia mengangguk pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan—warna yang selalu mengingatkanku pada tinta stempel kelulusan yang sangat kuinginkan.
Bagian dalam penginapan itu jauh lebih hangat daripada udara malam yang menusuk. Bau kayu manis bercampur dengan aroma kertas tua yang menenangkan menyambut kami. Setelah membayar dengan beberapa keping 'Logika'—mata uang di dunia ini—si penjaga penginapan yang bermata rabun memberikan dua kunci kamar.
Aku terduduk di tepi ranjang kamarku yang terasa empuk seperti tumpukan kapas. Di tangan kananku, sebuah buku catatan kusam—yang merupakan manifestasi dari draf skripsiku—terbuka lebar. Penanya menari-nari, mencoba merapikan data yang kudapat hari ini. Mataku bolak-balik menatap antara catatan itu dan pintu kamar yang menghubungkan ruanganku dengan ruangan Athesia.
Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar. Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan separuh wajah Athesia yang tampak ragu.
"Doni? Kau belum tidur?" tanyanya lembut. Ia sudah mengganti jubah tempurnya dengan gaun tidur sederhana berwarna putih gading. Dalam temaram lampu minyak, dia tidak terlihat seperti dewi yang tangguh, melainkan seperti seorang gadis biasa yang sedang gelisah.
"Hanya sedikit revisi, Thes," jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Duduklah."
Athesia melangkah ma**k dan duduk di kursi kayu di seberang tempat tidur. Cahaya lampu menciptakan bayangan panjang di dinding. Untuk beberapa saat, hanya ada suara detak jam dinding yang berbentuk seperti kompas metodologi. Aku memperhatikan Athesia; cara jemarinya yang lentur memainkan ujung rambutnya, atau bagaimana matanya yang berwarna biru safir itu seolah menyimpan seluruh rahasia alam semesta. Ada sesuatu yang berdesir di dadaku—sebuah variabel yang tidak bisa kujelaskan dengan rumus statistik mana pun.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Athesia bertanya, memecah kesunyian.
Aku berdehem, mencoba mengalihkan kegugupanku. "Aku baru sadar, perkembangan karaktermu di draf ini sangat signifikan. Jika aku bisa memetakan pola sihirmu dengan variabel keberanian yang kau tunjukkan di hutan tadi, validitas draf ini akan meningkat drastis. Kita mungkin akan selangkah lebih dekat ke bab kesimpulan."
Aku mulai mencoret-coret bukuku dengan antusias. "Kalau data ini konsisten, aku bisa membuktikan bahwa eksistensimu adalah kunci dari kepulanganku. Kau adalah instrumen penelitian terbaik yang pernah ada, Thes."
Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba mendingin. Aku mendongak dan mendapati ekspresi Athesia berubah. Senyum tipisnya hilang, digantikan oleh garis bibir yang kaku. Matanya tidak lagi menatapku dengan kelembutan, melainkan dengan kekecewaan yang tajam.
"Instrumen penelitian?" suaranya rendah, hampir seperti bisikan.
"Iya, maksudku, kau adalah pusat dari semua fenomena di Academia ini. Dengan mengobservasimu secara mendalam, aku bisa menyusun argumen yang tak terbantahkan di hadapan Dewan Penguji nanti. Kau adalah drafku yang paling sempurna."
Athesia berdiri tiba-tiba, kursi kayunya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan yang kasar di lant** kayu. "Jadi, selama ini, itulah aku bagimu?"
Aku tertegun, pena di tanganku hampir terjatuh. "Thes, maksudku itu pujian. Kau tahu betapa pentingnya skripsi ini bagiku."
"Penting karena ini tiket pulangmu, bukan?" Athesia melangkah mendekat, namun bukan dengan kemesraan. Ada luka yang terpancar dari gerak-geriknya. "Kau melihatku, tapi kau tidak benar-benar melihatku, Doni. Kau hanya melihat barisan kalimat, data empiris, dan variabel yang harus kau manipulasi agar mendapatkan gelar sarjanamu."
"Bukan begitu—"
"Lalu apa?" potongnya cepat. Napasnya mulai memburu. "Kau mencatat setiap reaksiku, kau menganalisis setiap emosiku seolah-olah itu adalah spesimen di laboratorium. Pernahkah sedetik saja kau berpikir bahwa aku merasa? Bahwa aku bukan sekadar 'draf terbengkalai' yang butuh kau perbaiki?"
Aku terpaku. Kata-kataku tertahan di tenggorokan. Aku ingin mengatakan bahwa aku mengagumi keberaniannya, bahwa aku menyukai caranya tertawa di sela-sela bahaya, tapi otak akademisku seolah terkunci pada terminologi teknis.
Athesia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kau ingin pulang ke duniamu dan meninggalkan 'objek penelitian' ini di sini setelah kau selesai menggunakannya, kan? Bagimu, aku hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Aku bukan individu. Aku hanyalah... data."
"Thesia, dengarkan dulu..." Aku mencoba meraih tangannya, tapi dia menepisnya dengan kasar.
"C**up, Doni. Lanjutkan saja revisimu," ucapnya dingin. Ia berjalan menuju pintu penghubung dengan langkah cepat. "Mungkin kau benar. Aku hanyalah draf. Dan draf yang c**** memang tidak seharusnya memiliki perasaan pada penulisnya."
*B**k!*
Pintu itu tertutup dengan keras, menyisakan kesunyian yang mencekam di kamarku. Aku terduduk kaku, menatap buku catatanku yang kini terasa asing. Kata-kata "valid", "reliabel", dan "signifikan" yang tadi kutulis seolah mengejekku dari atas kertas.
Di luar, guntur bergemuruh pelan di langit Academia, menandakan badai birokrasi mungkin akan segera datang. Namun, badai yang lebih besar justru sedang mengamuk di dalam dadaku. Aku menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan di kelas metodologi mana pun: bahwa dalam upaya mencari kebenaran ilmiah, aku mungkin baru saja kehilangan satu-satunya kebenaran yang nyata di dunia ini.
Dan jika Athesia menolak untuk menjadi bagian dari penelitianku lagi, perjalananku menuju sidang akhir bukan lagi sekadar tantangan akademis, melainkan sebuah misi bunuh diri tanpa referensi. Tiba-tiba, buku catatanku berpendar merah, sebuah peringatan muncul di halamannya: *Korelasi Menurun Drastis. Hipotesis Terancam Gagal.*
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!