Layar laptop itu berkedip dua kali sebelum akhirnya meredup, meninggalkan binar biru pucat yang memantul di kacamata Putri. Hening segera menyergap kamar kost berukuran tiga kali empat itu, hanya menyisakan deru pelan kipas angin plafon yang berputar monoton. Di sudut meja belajar, tumpukan jurnal setebal bantal dan diktat kalkulus seolah sedang menghakiminya. Putri memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya masih gemetar kecil saat ia menekan tombol *X* pada barisan tab peramban yang tersembunyi di balik mode penyamaran.
Rasa itu datang lagiβseperti air pasang yang tiba-tiba surut, meninggalkan hamparan lumpur yang dingin dan hampa di dadanya.
Ia baru saja menghabiskan empat puluh menit menonton sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang "Mahasiswi Teladan Tahun Ini". Sesuatu yang jika diketahui oleh ibunya di kampung, atau asisten dosen di kampus, akan meruntuhkan seluruh citra sempurna yang ia bangun dengan keringat dan air mata. Namun, bagi Putri, video-video itu bukan tentang nafsu belaka. Itu adalah pelarian sementara dari tekanan skripsi, dari ekspektasi keluarga, dan dari rasa sunyi yang mencekik setiap kali matahari terbenam.
"Hanya sekali ini," bisiknya pada kegelapan. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Ia bangkit dari kursi, melangkah gont** menuju jendela. Di luar, lampu-lampu Jakarta berkedip seperti kunang-kunang yang tersesat dalam polusi. Putri memeluk tubuhnya sendiri. Setiap kali ia selesai menonton, ada lubang hitam di perutnya yang menuntut untuk diisi. Bukan dengan makanan, bukan dengan tidur, melainkan dengan pengakuan bahwa ia ada. Bahwa ia bukan sekadar angka IPK atau deretan prestasi di dinding.
Tangannya meraba ka**r, mencari ponsel yang terkubur di bawah bantal. Ia membukanya, melewati aplikasi pesan kampus yang penuh dengan notifikasi grup kelas yang ia abaikan. Jarinya bergerak menuju sebuah aplikasi obrolan anonim yang baru ia unduh dua hari lalu. Akun itu tidak punya foto profil, hanya sebuah ikon lampu minyak tua dengan nama pengguna: *Lentera*.
Putri ragu sejenak. Jempolnya menggantung di atas layar. Ia butuh bicara, tapi ia takut dihakimi. Namun, di aplikasi ini, ia bukan Putri sang aktivis kampus yang kaku. Di sini, ia hanya jiwa yang tersesat.
*Putri: "Apa kau masih bangun?"*
Ia mengirim pesan itu dengan jantung berdebar. Menit-menit berlalu. Ia sudah hampir melempar ponselnya ke ujung ka**r ketika layar itu menyala kembali.
*Lentera: "Aku selalu di sini saat malam mencapai puncaknya. Ada apa? Kau terdengar... gelisah."*
Putri mengembuskan napas panjang. Bagaimana orang ini bisa tahu? Ia hanya mengetik empat kata.
*Putri: "Aku baru saja melakukan sesuatu yang membuatku merasa seperti orang jahat. Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang sepertiku."*
*Lentera: "Definisikan 'orang sepertimu'. Apakah kau sedang bicara tentang topeng yang kau pakai di siang hari, atau wajah yang kau lihat di cermin sekarang?"*
Putri tersentak. Kalimat itu menghujam tepat ke ulu hatinya. Ia merebahkan diri di ka**r, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam seprai dingin.
*Putri: "Aku merasa kotor. Aku mencari kesenangan sesaat hanya agar aku tidak merasa sendirian, tapi setelahnya, rasa sendirinya malah jadi dua kali lipat lebih berat. Kau tahu rasanya seperti ada lubang di dadamu yang tidak bisa ditutup dengan apapun?"*
Ada jeda yang c**up lama sebelum *Lentera* membalas. Putri bisa melihat indikasi "typing..." di pojok bawah, muncul dan hilang berulang kali, seolah orang di seberang sana sedang memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.
*Lentera: "Kesepian itu seperti resonansi, Putri. Ia bergetar pada frekuensi yang sama dengan ketakutan kita. Kau menonton film-film itu bukan karena kau kotor. Kau melakukannya karena kau ingin merasakan sesuatu yang nyata di tengah kehidupanmu yang mekanis. Kau ingin merasa hidup, meski hanya lewat fantasi orang lain."*
Air mata Putri merebak tanpa bisa dibendung. Selama ini, ia selalu menganggap dirinya aneh, menyimpang, atau rusak. Tak ada seorang pun teman kampusnya yang pernah bicara seperti ini. Mereka hanya membicarakan tugas, masa depan, dan kompetisi.
*Putri: "Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak? Kau bahkan tidak mengenalku."*
*Lentera: "Mungkin karena aku juga melihat pantulan yang sama di cermin setiap malam. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Dunia sudah c**up kejam memberimu beban di siang hari. Biarkan malam ini menjadi ruang amanmu."*
Putri merasa seolah ada sebuah tangan yang tidak terlihat mengusap bahunya, menenangkannya. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan. Entah kenapa, ia merasa aman bicara dengan *Lentera*. Anonimitas ini memberinya keberanian yang tidak pernah ia miliki di dunia nyata.
*Putri: "Terima kasih, Lentera. Rasanya aneh bisa bicara sejujur ini pada orang asing."*
*Lentera: "Terkadang, orang asing adalah satu-satunya orang yang bisa kita percayai dengan kejujuran kita yang paling kelam. Tidurlah. Besok kau punya banyak hal yang harus dihadapi, bukan? Jangan biarkan kantung matamu terlalu kentara di depan kelas besok pagi."*
Putri mengernyitkan dahi. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Sebuah peringatan kecil muncul di benaknya.
*Putri: "Tunggu, bagaimana kau tahu kalau aku punya kelas besok pagi?"*
Tidak ada balasan. Status *Lentera* berubah menjadi *offline* seketika.
Putri menatap layar ponselnya yang kini gelap dengan perasaan campur aduk antara lega dan ngeri. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah tebakan umumβhampir semua orang punya urusan di pagi hari. Namun, ada sesuatu yang terasa terlalu spesifik, sesuatu yang membuatnya merasa seolah-olah mata *Lentera* tidak hanya menatap layar ponsel, tapi juga sedang memperhatikan gerak-geriknya dari kegelapan yang ia sendiri tidak sadari.
Di kejauhan, jam dinding berdentang tiga kali. Putri menarik selimutnya tinggi-tinggi, namun rasa kantuknya hilang, digantikan oleh pertanyaan yang mulai menghantuinya: siapakah sebenarnya orang yang baru saja ia beri kunci menuju sisi gelap jiwanya?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!