Aroma kopi dingin yang sudah berjam-jam mengendap di dasar cangkir menyatu dengan bau apak tumpukan kertas laporan laboratorium di hadapanku. Aku memijat pangkal hidungku, merasakan denyut halus di pelipis. Namun, rasa lelah fisik itu kalah jauh dibandingkan kegelisahan yang mengaduk-aduk dadaku sejak semalam. Di layar ponsel yang tergeletak telungkup di meja, aku tahu ada jejak percakapan yang baru saja kuselesaikan beberapa jam lalu sebelum fajar menyingsing. Percakapan dengan seorang gadis yang merasa jiwanya kosong, yang mencari pelarian dalam fantasi layar kaca, dan yang tidak sadar bahwa pria yang ia anggap sebagai pelabuhan emosionalnya adalah orang yang sama yang memberinya nilai C+ minggu lalu.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Pelan, ragu, tapi ritmenya sangat kukenal.
"Ma**k," kataku datar, mempertahankan nada suara 'Asisten Dosen Aris' yang kaku dan tidak tersentuh.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan Putri. Ia berdiri di sana dengan kemeja flanel yang dikancing rapi sampai ke leher dan rambut yang dikuncir kuda tanpa cela. Citra mahasiswi teladan. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ada bayangan gelap yang tipis di bawah kelopak matanya, sisa dari kantuk yang tertunda karena kamiβatau lebih tepatnya Lentera dan Putriβterjaga hingga pukul tiga pagi membahas tentang kesepian yang rasanya seperti tenggelam di air dangkal.
"Sore, Pak Aris. Saya mau menyerahkan revisi analisis data yang Bapak minta semalam," suaranya tenang, tapi aku menangkap getaran halus di jemarinya yang memegang map plastik bening.
"Letakkan di sini," jawabku tanpa menoleh, menunjuk sudut meja yang kosong.
Ia melangkah mendekat. Sepatunya berdecit pelan di atas lant** vinil. Ruangan asisten dosen sore ini sedang sepi; rekan-rekanku yang lain sudah pulang atau sedang berada di kantin. Hanya ada suara dengung AC yang monoton dan detak jantungku yang mendadak liar. Saat ia meletakkan map itu, jemarinya berada hanya beberapa sentimeter dari tanganku. Aku bisa mencium samar aroma parfum vanila yang bercampur dengan bau sabunβaroma yang entah mengapa membuatku teringat pada deskripsinya semalam tentang keinginannya untuk 'merasa bersih'.
Aku sengaja tidak langsung mengambil map itu. Aku justru menyandarkan punggung ke kursi, memutarnya sedikit hingga aku bisa menatap wajahnya sepenuhnya. Putri tampak kikuk, ia segera menarik tangannya dan menggenggam tali tas bahunya erat-erat.
"Kamu kelihatan lelah, Putri," pancingku. Suaraku sedikit lebih rendah dari biasanya.
Ia tersentak kecil, matanya melebar sejenak sebelum kembali ke ekspresi datarnya yang sopan. "Hanya kurang tidur karena mengerjakan tugas, Pak."
"Benarkah? Tugas?" Aku menarik sudut bibirku sedikit, sebuah senyum tipis yang mungkin terlihat seperti seringaian sinis di matanya. "Atau mungkin karena kamu terlalu banyak menghabiskan waktu menonton... film?"
Putri mematung. Aku melihat jakunnya naik turun saat ia menelan ludah. "Maksud Bapak?"
Aku bangkit dari kursi, membuat jarak di antara kami menyusut drastis. Aku bergerak perlahan menuju dispenser di sudut ruangan, berpura-pura ingin mengambil air, namun rute jalanku sengaja melewati sisinya. Aku berhenti tepat di sampingnya, c**up dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya yang memancar di ruang ber-AC ini.
"Beberapa orang bilang, menonton film di tengah malam adalah cara terbaik untuk melarikan diri dari realitas yang menyesakkan," bisikku, mengulangi hampir persis kalimat yang kutuliskan padanya semalam sebagai Lentera. "Tapi bukankah itu hanya membuat resonansinya terasa lebih menyakitkan saat layar kembali hitam?"
Putri menoleh padaku dengan gerakan patah-patah. Wajahnya yang semula pucat kini dihiasi rona merah padam yang menjalar hingga ke telinga. Ketakutan terpancar jelas di matanya, bercampur dengan kebingungan yang mendalam. Ia mencari-cari tanda di wajahku, berusaha menebak apakah ini hanya kebetulan atau sebuah ancaman.
"Saya... saya tidak mengerti apa maksud Bapak dikaitkan dengan tugas saya," suaranya mulai goyah.
Aku meraih map revisinya, sengaja membiarkan kulit punggung tanganku bersentuhan dengan lengannya yang terbuka sedikit di balik lipatan lengan kemeja. Sentuhan itu singkat, tapi rasanya seperti sengatan listrik statis yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku bisa merasakan otot lengannya menegang seketika.
"Resonansi, Putri," kataku lagi, menekankan kata itu sambil menatap langsung ke dalam manik matanya yang bergetar. "Seperti yang kita pelajari di fisika dasar, bukan? Getaran yang terjadi karena ada frekuensi yang sama. Kadang, kita menemukan seseorang yang frekuensinya sama dengan kita di tempat yang paling tidak terduga. Benar begitu?"
Putri mundur satu langkah, punggungnya menab**k pinggiran meja asisten dosen yang lain. Napasnya mulai pendek-pendek. "Pak Aris, kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas soal tugas... saya harus pergi."
Aku meletakkan map itu kembali ke meja dengan bunyi *plak* yang c**up keras di keheningan ruangan. Aku melangkah mendekat lagi, mengurungnya di antara tubuhku dan meja di belakangnya. Aku tidak menyentuhnya, tapi jarak kami sangat tipis sehingga setiap kali ia menarik napas, dadanya hampir bersentuhan dengan kemejaku. Ketegangan di antara kami bukan lagi sekadar urusan akademis; ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih intim yang sedang menuntut ruang.
Aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena tekanan emosional yang meluap. Ia merasa terpojok, merasa te******* di depanku tanpa tahu bagaimana aku bisa merobek topengnya.
"Kenapa kamu takut, Putri?" tanyaku lembut, hampir seperti belaian. "Apa ada rahasia yang kamu simpan rapat-rapat di balik citra mahasiswi teladan ini?"
Tangannya yang gemetar naik ke dadaku, berniat mendorongku menjauh, tapi ia justru mencengkeram kain kemejaku dengan lemah. "Bapak... Bapak tidak tahu apa-apa tentang saya."
"Oh, aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," balasku. Aku menunduk sedikit, bibirku berada tepat di samping telinganya. "Aku tahu bagaimana rasanya ingin dicint** tapi takut untuk menyentuh. Aku tahu bagaimana rasanya kesepian di tengah keramaian."
Aku merasakan tubuh Putri gemetar hebat. Ia mendongak, matanya menatapku dengan campuran rasa benci, gairah yang tertekan, dan keputusasaan yang murni. Pada detik itu, aku hampir saja menyerah. Aku ingin membisikkan bahwa aku adalah Lentera, bahwa dia aman bersamaku. Namun, sisi gelap dalam diriku ingin melihat seberapa jauh ia bisa bertahan sebelum topengnya hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, suara langkah kaki dan gelak tawa terdengar dari lorong, menuju ke arah ruangan ini. Rekan-rekan asdos yang lain telah kembali.
Putri seolah tersadar dari hipnotis. Ia mendorong dadaku dengan tenaga yang lebih besar, membuatku terhuyung mundur selangkah. Ia merapikan kemejanya dengan gerakan kalap, matanya yang basah kini memancarkan amarah yang dingin.
"Terima kasih atas bimbingannya, Pak Aris," katanya dengan suara yang dipaksakan stabil, meski napasnya masih memburu. "Saya permisi."
Ia berbalik dan setengah berlari keluar ruangan, tepat saat pintu terbuka lebar oleh rekan-rekanku. Aku berdiri terpaku di sana, menghirup sisa aroma vanilanya yang masih menggantung di udara. Tanganku yang tadi bersentuhan dengannya masih terasa panas.
Aku mengambil ponselku, membukanya, dan mengetik satu pesan di kolom obrolan Lentera.
*Lentera: Apa kamu pernah merasa orang yang paling kamu benci adalah satu-satunya orang yang bisa melihat jiwamu yang sebenarnya?*
Aku mengirimnya, lalu memperhatikan dari balik jendela kaca saat Putri berjalan terburu-buru di selasar kampus. Aku melihatnya merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan langkahnya mendadak terhenti saat layar ponselnya menyala. Ia menoleh ke belakang, ke arah jendela ruanganku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk kehancuran yang akan diakibatkannya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!