Layar ponsel itu adalah satu-satunya sumber cahaya di kamar yang sengaja digelapkan. Cahaya biru itu memantul di pupil mata Putri, merekam getaran jemarinya yang menggantung ragu di atas papan ketik virtual. Jantungnya berdentum, bukan karena kafein, melainkan karena adrenalin yang bercampur dengan rasa muak pada jarak digital ini.
*Aku ingin bertemu. Besok jam tujuh malam di Arkafe. Kalau kau tidak datang, aku akan menganggap semua ini hanya sekadar fiksi yang berlebihan.*
Kalimat itu terkirim. Putri segera melempar ponselnya ke atas ka**r seolah benda itu baru saja menyengat kulitnya. Ia memeluk lutut, menenggelamkan wajah di sana. G***. Dia baru saja melakukan hal paling nekat dalam hidupnya. Bagi seorang Putri yang terbiasa hidup di balik tembok perfeksionisme dan citra mahasiswi teladan, mengundang orang asing dari dunia maya untuk bertemu adalah sebuah anomali. Namun, Lentera bukan sekadar orang asing. Lentera adalah saksi bisu dari setiap napas beratnya pasca-menonton, setiap isakan kesepiannya, dan setiap inci jiwanya yang tak berani ia tunjukkan pada dunia nyata.
Balasan itu datang lima menit kemudian. Singkat, padat, dan membuat paru-paru Putri seolah menyempit.
*Baik. Aku akan di sana.*
***
Malam berikutnya, hujan turun rintik-rintik, membungkus kota dengan lapisan kabut tipis dan aroma tanah basah. Putri duduk di sudut paling belakang Arkafe, sebuah kafe kecil yang letaknya c**up jauh dari area kampus agar ia tidak perlu khawatir bertemu teman sekelas. Ia memesan Americano panas yang kini sudah mendingin, menyisakan jejak kafein yang pahit di lidah tanpa pernah benar-benar diminum.
Setiap kali lonceng di atas pintu berdenting, bahu Putri menegang. Ia akan menoleh dengan gerakan patah-patah, berharap sekaligus takut melihat siapa yang akan melangkah ma**k. Apakah dia pria paruh baya yang kesepian? Apakah dia mahasiswa dari universitas lain? Atau yang paling buruk, apakah dia seseorang yang akan menatapnya dengan tatapan menghakimi begitu melihat siapa "Putri" yang sebenarnya?
Ia meremas ujung sweter rajutnya hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya terpaku pada pintu ma**k. Sepuluh menit berlalu dari waktu yang dijanjikan. Lalu lima belas menit.
"Dia tidak akan datang," bisik Putri pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar parau, tenggelam di antara denting sendok dan obrolan sayup-sayup pengunjung lain.
Rasa malu mulai merayap naik ke tenggorokannya. Ia merasa seperti badut. Bagaimana mungkin ia bisa begitu naif mempercayai seseorang yang hanya ia kenal lewat teks? Lentera mungkin sedang tertawa di suatu tempat, menikmati kekuasaan yang ia miliki atas emosi Putri. Atau mungkin, Lentera merasa ketakutan karena imajinasinya tentang Putri tidak sesuai dengan kenyataan pahit bahwa Putri hanyalah seorang gadis biasa yang rusak.
Ia merogoh tasnya, berniat mengambil ponsel untuk memblokir akun Lentera dan mengakhiri semua keg***an ini. Namun, tangannya membeku saat layar ponselnya menyala. Sebuah pesan baru.
*Aku sudah di depan. Aku bisa melihatmu dari sini.*
Putri tersentak. Kepalanya berputar liar, memindai kaca jendela kafe yang berembun. Di luar sana, hanya ada siluet pepohonan dan lampu jalan yang berpijar kuning buram. Ia merasa diawasi, sebuah perasaan yang membuat bulu kuduknya berdiri namun juga membuat jantungnya berpacu g***.
"Di mana?" ketik Putri dengan tangan gemetar.
Lonceng pintu kembali berdenting. Kali ini, suaranya terdengar lebih nyaring di telinga Putri, seolah-olah seluruh dunia mendadak hening untuk memberikan panggung bagi sosok yang ma**k. Angin dingin malam ikut menyelinap ma**k, membawa aroma hujan dan sedikit wangi maskulin yang tajam namun akrab.
Seorang pria dengan jaket gelap dan tudung kepala yang masih terpasang ma**k. Ia berhenti sejenak, mengibaskan sisa air hujan dari pundaknya. Gerakannya tenang, terkendali, dan sangat familiar. Putri menahan napas, matanya tak berkedip saat pria itu mulai melangkah mendekati sudut tempatnya duduk. Langkah sepatunya di atas lant** kayu terdengar seperti hitung mundur menuju kehancuran atau keselamatan.
Putri ingin lari. Instingnya meneriakkan bahaya. Namun, kakinya seolah terpaku pada lant**.
Pria itu berhenti tepat di depan mejanya. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tak ada yang berbicara. Hanya ada suara mesin espresso yang menderu di kejauhan. Pria itu perlahan menurunkan tudung jaketnya, menyingkap helai rambut yang sedikit basah dan sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai tipis.
Putri merasa seluruh dunianya runtuh seketika. Oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis.
"Kau..." suara Putri nyaris tidak keluar.
Di hadapannya, berdiri asisten dosen yang paling ia hindari karena sikap dinginnya. Sosok yang selalu memberinya nilai sempurna namun tak pernah memberinya senyuman. Aris.
Aris tidak tampak terkejut. Ia hanya menatap Putri dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan lebih gelap daripada yang pernah ia tunjukkan di ruang kelas. Tatapan yang mengatakan bahwa ia tahu setiap rahasia yang Putri sembunyikan di bawah bantalnya.
"Jadi," suara Aris rendah, bergetar dengan resonansi yang sama dengan suara yang selama ini Putri bayangkan saat membaca pesan-pesan dari Lentera. "Ini dirimu yang sebenarnya, Putri?"
Putri ingin menyangkal, ingin berdiri dan menganggap ini semua salah paham, tapi ponsel di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar, tepat di depan mata mereka berdua.
*Lentera: Aku sudah di depanmu.*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!