Gelas kopi di hadapan Putri sudah tak lagi berembun. Butiran es di dalamnya telah meleleh sepenuhnya, menyisakan cairan kecokelatan yang hambar dan encer, serupa dengan perasaannya saat ini. Ia melirik jam tangan peraknya untuk kesekian kalinya. Pukul 20.15. Sudah empat puluh lima menit ia duduk mematung di sudut kafe "Litera", sebuah tempat kecil dengan pencahayaan temaram yang sengaja ia pilih karena suasananya yang tenang.
Putri merapikan kardigan krem yang ia kenakan. Ia sengaja membiarkan rambut hitamnya tergerai, sebuah pilihan yang jarang ia ambil saat berada di kampus. Biasanya, ia selalu mencepol rambutnya tinggi-tinggi, menampilkan kesan mahasiswi ambisius yang hanya peduli pada indeks prestasi. Namun malam ini, ia ingin menjadi Putri yang lain. Putri yang dikenal oleh 'Lentera'.
Ponselnya tergeletak diam di atas meja. Layarnya gelap, namun Putri terus menatapnya seolah-olah dengan kekuatan pikiran ia bisa memaksa sebuah notifikasi muncul di sana.
*Aku sudah di sini. Meja nomor empat, dekat jendela.*
Pesan terakhir yang ia kirimkan pada pukul 19.30 itu masih berstatus 'terbaca', namun tak ada balasan. Setiap kali pintu kaca kafe berdenting terbuka, jantung Putri mencelos. Ia akan segera menegakkan punggung, membasahi bibir yang mendadak kering, dan memasang ekspresi paling netral yang ia punyaβpadahal di dalam sana, badai kecemasan sedang mengamuk.
Namun, yang melangkah ma**k hanyalah pasangan muda yang tertawa riang, atau gerombolan mahasiswa yang sibuk mendiskusikan tugas kelompok. Tak satu pun dari mereka yang menoleh ke arahnya dengan tatapan mengenali. Tak satu pun dari mereka yang memberikan kesan sebagai sosok 'Lentera' yang selama ini menjadi pelabuhan emosionalnya di dunia maya.
Di seberang jalan, terlindung oleh bayangan pohon peneduh yang rimbun dan kegelapan malam, sebuah mobil SUV hitam terparkir diam. Di balik kemudinya, Aris duduk dengan tangan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terasa pendek dan berat. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas melalui jendela besar kafe itu. Ia melihat Putriβmahasiswi bimbingannya yang selalu tampil dingin dan tanpa celah di kelasβkini tampak begitu rapuh.
Aris melihat bagaimana Putri berulang kali mengecek ponselnya, bagaimana ia merapikan bajunya dengan gerakan gugup, dan bagaimana binar di matanya perlahan-lahan meredup seiring berjalannya waktu. Hati Aris berdenyut nyeri. Ia ingin keluar dari mobil, melintasi jalanan itu, dan duduk di hadapan Putri. Ia ingin mengatakan bahwa ialah sosok yang selama ini mendengarkan keluh kesahnya setiap tengah malam.
Namun, kakinya seolah terpaku pada pedal mobil. Ia membayangkan wajah Putri jika melihatnya. Terkejut? Kecewa? Atau mungkin merasa terhina karena rahasia paling kelamnya diketahui oleh asisten dosen yang selama ini ia anggap kaku dan membosankan? Garis profesionalisme di antara mereka terlalu tebal untuk diterjang. Aris takut, jika ia menampakkan diri malam ini, ia tidak hanya kehilangan 'Lentera', tapi juga akan menghancurkan dunia nyata Putri yang sudah dibangun dengan susah payah.
Kembali ke dalam kafe, Putri mulai merasa sesak. Musik *lo-fi* yang diputar di latar belakang kini terdengar seperti ejekan. Ia merasa seperti badut. Selama berbulan-bulan, ia merasa memiliki koneksi jiwa dengan seseorang yang tidak pernah ia temui. Ia merasa Lentera adalah satu-satunya orang yang tidak akan menghakiminya karena kesepian akut yang ia alami, atau karena pelarian-pelarian aneh yang ia lakukan setelah menonton film dewasa di kamarnya yang sunyi.
"Ternyata aku memang sendiri," bisik Putri pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh bising mesin kopi.
Ia meraih tasnya dengan gerakan kasar. Matanya terasa panas, sebuah tanda bahwa air mata siap tumpah jika ia tidak segera pergi dari sana. Ia merasa dicampakkan. Bukan oleh seorang kekasih, karena mereka memang tidak pernah memiliki status itu, melainkan oleh sebuah harapan. Harapan bahwa ia tidak lagi harus menghadapi tengah malam yang dingin sendirian.
Putri berdiri, meninggalkan kopi yang belum sempat diminumnya lebih dari dua teguk. Saat ia melangkah keluar kafe, angin malam yang menusuk langsung menyapa kulitnya. Ia mempercepat langkah, kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Di dalam mobil, Aris melihat Putri keluar dengan langkah terburu-buru. Ia melihat bahu gadis itu sedikit bergetar. Penyesalan menghantam Aris lebih keras dari apa pun. Ia baru saja melakukan kesalahan besar dengan memberikan harapan, lalu membiarkannya layu begitu saja.
Putri berhenti di trotoar, menunggu ojek daring yang ia pesan. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, ia akhirnya menyerah. Satu tetes air mata jatuh melewati pipinya. Ia dengan cepat menghapusnya, tapi kekosongan itu kembali menghisapnya. Rasa sepi yang tadinya sempat mereda karena kehadiran 'Lentera' kini kembali dengan kekuatan berkali-kali lipat. Lebih akut, lebih menyakitkan.
Ia mengeluarkan ponselnya, hendak memblokir akun Lentera karena rasa sakit hati yang tak tertahankan. Namun, tepat saat jempolnya menggantung di atas layar, sebuah notifikasi muncul.
Bukan dari aplikasi pesan anonim mereka, melainkan sebuah pesan singkat ke nomor pribadinya.
*Putri, maaf mengganggu malam-malam. Ini Aris. Saya baru teringat ada revisi penting untuk tugas metodologi riset Anda. Bisa kita bicara sekarang? Saya kebetulan sedang berada di sekitar daerah kafe tempat Anda tadi.*
Putri membeku. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik. Bagaimana Aris bisa tahu ia ada di sini? Dan kenapa jantungnya berdegup begitu kencang saat menyadari bahwa sosok yang paling ia hindari di kampus ternyata berada sangat dekat dengannya di saat ia merasa paling hancur?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!