Ujung pulpen itu mengetuk meja kayu perpustakaan dengan ritme yang tidak beraturan, menciptakan suara detak yang sinkron dengan debar jantungku. Dari balik tumpukan skripsi mahasiswa bimbingan yang harus kuperiksa, mataku terus melirik ke arah meja di sudut ruangan. Di sana, Putri duduk dengan punggung tegak, jemarinya menari di atas papan ketik laptop, sementara rambutnya yang diikat kuda sesekali bergoyang saat ia menghela napas panjang.
Di mata semua orang di ruangan ini, dia adalah mahasiswi teladan. Ambisius, rapi, dan tak tersentuh. Namun, di dalam kantung celanaku, ponselku menyimpan rahasia yang jauh lebih rapuh. Aku mengenal sisi dirinya yang tidak diketahui dunia. Aku mengenal suaranya saat ia merasa hampa setelah menonton film dewasa hanya untuk mematikan rasa kesepiannya. Aku mengenal ketakutannya akan kegagalan yang selalu menghantuinya setiap malam.
Aku adalah Lentera. Dan hari ini, beban rahasia itu terasa seberat beton yang menghimpit dadaku.
Aku melihat Putri memijat pelipisnya. Wajahnya pucat di bawah lampu neon putih perpustakaan. Ia tampak seperti seseorang yang sedang tenggelam di tengah keramaian, dan aku adalah satu-satunya orang yang memegang pelampung, namun aku juga orang yang selama ini bersikap dingin padanya di kelas.
Tanganku merogoh ponsel. Layar menyala, menampilkan kolom obrolan 'Lentera'. Pesan terakhir darinya ma**k sepuluh menit yang lalu: *“Aris memberikan revisi yang tidak ma**k akal lagi hari ini. Aku benci betapa kaku dan tidak berperasaannya dia. Kadang aku merasa hanya kau yang menganggapku manusia, Lentera.”*
Rasa getir merayapi tenggorokanku. Aku melihatnya dari jauh, melihat bagaimana ia menutup mata sejenak, mungkin mencoba menahan air mata atau sekadar mengusir pening. Aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa membiarkannya mencurahkan kebencian terhadap 'Aris' kepada 'Lentera', sementara keduanya adalah jiwa yang sama.
Jemariku gemetar saat mengetik baris demi baris pesan itu. Setiap huruf yang kuketik terasa seperti paku yang mencabik topeng yang kupakai selama ini.
*“Putri, coba lihat ke arah meja asisten dosen di depan.”*
Aku menekan tombol kirim. Suasana perpustakaan yang hening mendadak terasa mencekam. Aku menahan napas, mataku terpaku pada sosoknya.
Detik berikutnya, ponsel Putri yang tergeletak di samping laptopnya bergetar. Ia tersentak kecil, lalu meraih benda itu dengan gerakan malas yang perlahan berubah menjadi ketegangan kaku. Ia membaca pesan itu. Kepalanya mendongak dengan cepat, matanya yang lelah memindai ruangan dengan panik, mencari sosok yang baru saja mengirimkan pesan itu.
Pandangan kami bertemu.
Aku tidak membuang muka. Aku membiarkan ponselku tetap berada di genggaman, layar yang masih menyala menghadap ke arahnya agar ia bisa melihat pantulan cahayanya. Di mata Putri, aku melihat transisi emosi yang mengerikan: dari kebingungan, ketidakpercayaan, hingga horor yang murni.
Aku mengetik satu pesan lagi, memastikan ia tidak salah paham.
*“Aku bukan sekadar akun anonim di ponselmu. Aku ada di sini, Putri. Selama ini, aku adalah Aris.”*
Putri bangkit berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara decit yang m****akkan telinga di kesunyian perpustakaan. Beberapa mahasiswa menoleh, tetapi ia tidak peduli. Wajahnya yang semula pucat kini memerah padam, namun bukan karena malu, melainkan kemarahan yang meluap-luap.
Aku berdiri, mencoba mendekat, namun ia mundur satu langkah. Napasnya memburu, pundaknya naik turun dengan tidak stabil. Matanya berkaca-kaca, memancarkan luka yang begitu dalam hingga membuatku ingin menarik kembali kata-kataku.
"Jangan mendekat," bisiknya, suaranya serak namun penuh dengan penekanan yang tajam.
"Putri, aku bisa jelaskan. Aku tidak bermaksud—"
"Kau melihatku," potongnya dengan nada bergetar. Ia menunjuk ponselnya dengan jari yang gemetar hebat. "Selama ini... kau duduk di sana, memberiku tugas, mengkritik pekerjaanku, dan di malam hari kau mendengarkanku... kau mendengarkan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui siapa pun!"
"Aku hanya ingin ada untukmu saat kau merasa tidak punya siapa-siapa," kataku, berusaha menjaga suaraku agar tidak pecah. "Aku tidak pernah menghakimimu, Putri. Lentera itu nyata. Perasaanku sebagai Lentera itu jujur."
"Jujur?" Putri tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kau menyebut ini jujur? Kau membiarkanku te******* secara emosional di depanmu sementara kau bersembunyi di balik layar! Kau membiarkanku membicarakan rahasia terburukku, kecanduan pelarianku, kesepianku... kepada orang yang setiap hari kutemui di kampus!"
Ia menyambar tas dan laptopnya dengan kasar, mema**kkannya tanpa peduli apakah benda-benda itu akan rusak. Beberapa buku jatuh ke lant**, tapi ia mengabaikannya.
"Kau memanipulasiku, Aris," desisnya, melangkah maju satu langkah hanya untuk memastikan aku mendengar setiap kata yang penuh racun itu. "Kau bukan penolong. Kau adalah pengint**. Kau melecehkan privasiku dengan cara yang paling menjijikkan."
"Bukan begitu, Putri. Tolong, dengarkan dulu—"
"Jangan pernah bicara padaku lagi. Jangan di sini, jangan di aplikasi itu. Jika kau menyebarkan apa yang kau tahu tentangku..." Ia terdiam sejenak, bibirnya bergetar hebat. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Tanpa menunggu jawaban, Putri berbalik dan lari meninggalkan perpustakaan. Langkah kakinya yang terburu-buru bergema di lorong, meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
Aku berdiri mematung, dikelilingi oleh tatapan ingin tahu dari mahasiswa lain. Ponsel di tanganku terasa dingin dan mati. Aku baru saja menghancurkan satu-satunya jembatan yang menghubungkanku dengan jiwanya, dan saat ini, aku tidak tahu apakah aku baru saja menyelamatkannya dari kebohongan, atau justru mendorongnya lebih dalam ke jurang kesepian yang selama ini coba kuhilangkan.
Satu hal yang pasti, sosok 'Lentera' telah mati, dan yang tersisa hanyalah Aris—sang pengkhianat di mata satu-satunya wanita yang ia cint**.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!