Aroma kertas tua dan pengap pendingin ruangan yang dipaksa bekerja lembur menusuk indra penciuman Putri. Di lorong rak referensi yang paling ujung, cahaya lampu neon berkedip ritmis, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari yang mencoba menggapainya. Di sana, di antara deretan buku tebal yang tak pernah disentuh mahasiswa selama bertahun-tahun, Aris berdiri.
Ia tidak sedang memegang diktat kuliah atau daftar absensi. Aris hanya diam, menatap layar ponselnya yang berpendar di tengah kegelapan, sebelum akhirnya mendongak saat mendengar langkah kaki Putri yang ragu namun menuntut.
"Katakan padaku itu bukan kau," suara Putri bergetar, nyaris tertelan keheningan perpustakaan yang m****akkan telinga. Ia mengangkat ponselnya sendiri, menampilkan percakapan terakhir dengan 'Lentera'. "Katakan kalau semua ini cuma kebetulan yang menjijikkan."
Aris tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kayu yang berdebu. Wajahnya yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi di ruang kelas kini tampak retak. Ada kelelahan yang luar biasa di balik kacamatanya, sebuah jenis keletihan yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur.
"Kebetulan tidak mengirimkan kutipan puisi yang sama dua kali dalam satu malam, Putri," suara Aris rendah, tidak lagi terdengar seperti asisten dosen yang dingin, melainkan suara yang selama ini menemani Putri melalui pesan teks di jam tiga pagi.
Putri merasa dunianya miring. Ia mundur satu langkah, punggungnya menab**k rak buku hingga beberapa eksemplar jurnal bergetar. "Kau tahu... kau tahu segalanya. Kau tahu apa yang kutonton, kau tahu betapa menyedihkannya aku setiap kali aku merasa kosong setelah... setelah semua itu." Wajah Putri memanas karena rasa malu yang membakar. "Kau asisten dosenku! Kau orang yang memberiku nilai rendah di kuis minggu lalu sementara kau bertingkah seolah kau peduli padaku di balik akun itu!"
"Aku memang peduli!" Aris membentak pelan, sebuah ledakan emosi yang jarang ia tunjukkan. Ia melangkah maju, ma**k ke zona personal Putri. "Kau pikir hanya kau yang bersembunyi? Kau pikir aku menikmati menjadi robot yang berdiri di depan kelas, melihat mahasiswa-mahasiswa yang hanya peduli pada nilai tanpa tahu betapa hancurnya aku di dalam?"
Putri tertawa pahit, air mata mulai menggenang. "Hancur? Kau punya segalanya, Aris. Kau pintar, kau dihormati, kau punya masa depan. Aku? Aku hanya mahasiswi teladan palsu yang butuh film dewasa dan obrolan anonim untuk merasa bahwa aku masih punya detak jantung!"
"Dan aku butuh 'Putri' agar aku merasa tidak sendirian di dunia yang menuntutku untuk selalu sempurna!" Aris menyugar rambutnya dengan kasar, tampak frustrasi. "Lentera bukan sebuah jebakan, Putri. Lentera adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi 'Asisten Dosen Aris'. Di sana, aku bisa menjadi pria yang hanya ingin mendengarkan ceritamu tentang bagaimana kau membenci ekspektasi orang tuamu. Aku tidak menghakimimu, karena aku sama hancurnya dengamu."
Suasana mendadak hening. Putri menatap mata Aris, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah refleksi dari kesepiannya sendiri. Aris, pria yang selama ini ia anggap sebagai tembok batu yang tak tertembus, kini berdiri di hadapannya dengan bahu merosot, tampak begitu rapuh.
"Kau tahu rahasiaku yang paling gelap," bisik Putri, suaranya pecah. "Kau melihat sisi diriku yang tidak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Bahkan pada ibuku. Dan kau menyimpannya... untuk apa? Untuk menertawakanku di belakang?"
"Untuk menjagamu," Aris menjawab dengan kejujuran yang menyakitkan. "Karena aku tahu rasanya memiliki rahasia yang bisa menghancurkan citramu dalam semalam. Setiap kali kau bercerita tentang rasa bersalahmu setelah menonton film-film itu, aku ingin mengatakannya padamu... bahwa itu bukan dosa yang mematikan. Itu hanya caramu mencari koneksi yang tidak kau dapatkan di dunia nyata. Aku tidak memberitahumu siapa aku karena aku takut kau akan pergi. Dan sekarang, kau di sini, menatapku seolah aku adalah monster."
Putri merasakan sesak di dadanya. Semua kemarahan yang tadinya meluap kini menguap, menyisakan kekosongan yang dingin. Ia merasa te******* di depan pria ini, bukan secara fisik, tapi secara emosional. Segala tameng 'mahasiswi berprestasi' yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh total.
"Kita berdua sakit," gumam Putri, lebih kepada dirinya sendiri.
"Mungkin," Aris mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh pipi Putri, namun ia ragu dan menariknya kembali. "Tapi kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa nyata di tengah kepalsuan ini. Di kampus, kita adalah peran yang kita mainkan. Tapi di tengah malam, lewat layar ponsel itu... kita adalah diri kita yang sebenarnya."
Putri menunduk, melihat layar ponselnya yang kini gelap. "Lalu sekarang apa? Aku tidak bisa menatapmu lagi di kelas tanpa memikirkan semua hal yang sudah kukatakan pada Lentera."
Aris menarik napas panjang, tatapannya kini berubah menjadi tajam namun penuh permohonan. "Kita tidak bisa kembali ke cara lama, Putri. Tapi kau harus tahu satu hal. Aku tidak pernah berpura-pura saat aku bilang aku merindukan obrolanmu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki petugas keamanan yang melakukan ronda malam terdengar dari kejauhan, diikuti dengan sorot lampu senter yang menyapu lorong-lorong depan. Kepanikan seketika menyambar Putri. Jika mereka ditemukan di sini, berdua saja, di bagian perpustakaan yang seharusnya sudah dikunci, reputasi mereka berdua akan tamat dengan cara yang paling memalukan.
"Sembunyi," bisik Aris mendesak, menarik lengan Putri ke balik rak buku yang paling gelap.
Tubuh mereka berdempetan, nafas mereka menderu di ruang yang sempit. Jantung Putri berdegup begitu kencang hingga ia takut petugas itu bisa mendengarnya. Di bawah cahaya remang, mata Aris mengunci matanya. Jarak mereka begitu dekat hingga Putri bisa mencium aroma kopi dan samar-samar wangi parfum kayu yang maskulinβwangi yang pernah Lentera deskripsikan dalam salah satu pesan teksnya.
Tepat saat sorot lampu senter melewati rak mereka, ponsel di saku Aris bergetar. Sebuah notifikasi muncul, cahayanya menerangi wajah mereka berdua sesaat. Itu adalah pesan otomatis yang dijadwalkan Aris untuk akun Lentera: *'Apakah kau sudah tidur? Aku masih di sini, menunggu ceritamu.'*
Putri menatap pesan itu, lalu menatap Aris. Rahasia ini bukan lagi sekadar data di awan digital. Rahasia ini sekarang memiliki napas, memiliki detak jantung, dan sedang menatapnya dengan penuh kerinduan. Namun, ketakutan baru menyergap Putri: Bagaimana jika ini bukan akhir dari kesepiannya, melainkan awal dari kehancuran yang sesungguhnya?
Lampu senter itu menjauh, tapi Aris tidak melepaskan genggamannya di lengan Putri. Sebaliknya, ia perlahan mendekatkan wajahnya, memutus jarak yang tersisa di antara mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!