Cahaya matahari pagi yang menerobos ma**k melalui celah-celah jendela besar di koridor Fakultas Psikologi terasa lebih tajam dari biasanya. Putri menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin pendingin ruangan memenuhi paru-parunya. Biasanya, ia akan berjalan menunduk, menghitung setiap ubin lant** yang ia pijak seolah-olah keselamatan hidupnya bergantung pada ketidakterlihatan dirinya. Namun hari ini, jemarinya tidak lagi meremas tali tas ranselnya hingga memutih.
Suara langkah kakinya bergema, ritmis dan mantap. Di ujung koridor, sekelompok mahasiswa tingkat dua berhenti berbicara saat ia lewat. Ia bisa merasakan tatapan mereka—campuran antara rasa ingin tahu yang kasar dan bisikan-bisikan yang tertahan di balik telapak tangan. Desas-desus tentang "mahasiswi teladan yang punya rahasia" mulai beredar setelah seseorang melihatnya keluar dari mobil Aris tempo hari, ditambah lagi dengan spekulasi liar tentang kehidupan pribadinya yang selama ini tertutup rapat.
Putri berhenti sejenak, menoleh ke arah mereka, dan melempar senyum tipis yang tenang. Bukan senyum sopan yang biasanya ia gunakan untuk menyenangkan orang lain, melainkan senyum yang mengatakan: *Aku tahu apa yang kalian bicarakan, dan itu tidak lagi menyakitiku.* Kelompok itu seketika buyar, pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
Dahulu, ia akan lari ke bilik toilet tersembunyi, mengunci diri, dan mencari pelarian di balik layar ponsel. Ia akan mencari validasi dari 'Lentera' untuk memba**h rasa malunya. Namun sekarang, ia menyadari bahwa sosok yang ia cari selama ini tidak pernah benar-benar berada di balik layar itu. Sosok itu nyata, bernapas, dan mungkin sedang menunggunya dengan tumpukan jurnal di meja asisten dosen.
Langkah Putri membawanya ke depan pintu ruang asisten dosen yang terbuat dari kayu ek berat. Ia mengetuk dua kali.
"Ma**k," suara bariton itu terdengar datar, namun Putri kini bisa menangkap getaran kehangatan yang selama ini tersembunyi di balik nada formal tersebut.
Aris duduk di sana, dikelilingi oleh tumpukan kertas ujian. Kacamata berbingkai hitamnya bertengger di pangkal hidung, dan kemeja birunya tergulung hingga siku. Pria itu mendongak, dan untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Tidak ada lagi percakapan anonim tentang kesepian atau pelarian film dewasa. Yang ada hanyalah dua orang yang saling mengetahui bagian tergelap satu sama lain, namun memilih untuk tidak berpaling.
"Laporanmu sudah saya periksa," kata Aris, suaranya kembali ke mode profesional, namun matanya mengunci pandangan Putri dengan intensitas yang berbeda. Ia menyodorkan sebuah map plastik.
Putri berjalan mendekat, mengambil map itu. Jemarinya bersentuhan dengan jemari Aris—sebuah kontak fisik yang singkat, namun terasa seperti sengatan listrik yang melampaui segala bentuk pesan singkat di aplikasi *chatting*. Putri tidak menarik tangannya dengan cepat seperti biasanya.
"Terima kasih, Pak Aris," ucap Putri, menekankan nama itu seolah ingin menegaskan bahwa ia sedang berbicara dengan manusia di depannya, bukan lagi dengan 'Lentera'.
Aris menyandarkan punggungnya ke kursi, mengamati Putri dengan seksama. "Kamu terlihat... berbeda hari ini. Lebih tenang."
Putri menyampirkan anak rambut ke belakang telinganya. "Saya hanya lelah bersembunyi di balik citra yang saya buat sendiri. Ternyata, mengakui bahwa saya tidak sempurna itu jauh lebih melegakan daripada terus-menerus mencoba menjadi yang terbaik di mata orang lain."
Aris memberikan senyum tipis—sebuah pemandangan langka yang biasanya tidak pernah diperlihatkan pada mahasiswa manapun. "Itu adalah langkah tersulit dalam psikologi perkembangan diri, Putri. Penerimaan."
"Aku tidak butuh 'Lentera' lagi untuk memberitahuku hal itu," bisik Putri, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Karena aku sudah punya cahayanya di sini."
Suasana di ruangan itu berubah menjadi sunyi yang intim. Tidak ada lagi rahasia yang menghalangi mereka. Namun, di saat kelegaan itu mulai meresap, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
Dinda, salah satu teman seangkatan Putri yang juga merupakan rival akademisnya, berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah karena amarah atau mungkin kemenangan. Ia memegang ponselnya tinggi-tinggi, layarnya menunjukkan sebuah tangkapan layar dari forum diskusi kampus yang baru saja meledak.
"Jadi ini alasan kamu selalu terlihat suci di kelas, Putri?" suara Dinda melengking, menarik perhatian beberapa orang di koridor. "Asisten dosen kesayangan kita ternyata punya selera yang sangat... menarik dalam memilih teman curhat. Atau haruskah aku bilang, objek fantasi?"
Putri merasakan jantungnya berdegup kencang, namun anehnya, ia tidak merasa ingin runtuh. Ia menatap Aris, mencari kekuatan di sana, namun wajah Aris mendadak berubah pucat. Bukan karena takut rahasianya terbongkar, melainkan karena ia melihat sesuatu di ponsel Dinda yang bahkan belum Putri ketahui.
"Dinda, keluar sekarang," perintah Aris dengan nada dingin yang bisa membekukan air.
"Kenapa? Takut reputasimu hancur karena terlibat dengan mahasiswi yang punya hobi menonton konten dewasa untuk mengatasi depresi?" Dinda tertawa sinis, matanya berkilat jahat. "Atau takut karena identitas 'Lentera' ternyata sudah bocor ke seluruh grup WhatsApp fakultas?"
Dunia Putri seakan berputar. Keberanian yang baru saja ia bangun terasa diuji dengan hantaman badai yang jauh lebih besar. Ternyata, penerimaan diri hanyalah awal dari peperangan yang sesungguhnya. Ia tidak hanya harus berhadapan dengan dirinya sendiri, tapi kini, ia harus menghadapi seluruh dunia yang siap menghakiminya.
Putri menatap layar ponsel Dinda yang kini disodorkan ke wajahnya. Di sana, bukan hanya percakapannya dengan Lentera yang terpampang, melainkan sebuah foto tersembunyi yang diambil dari sudut gelap sebuah kafe—foto dirinya dan Aris yang sedang berpegangan tangan malam itu.
"Ini belum selesai," desis Dinda sebelum berbalik pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruangan itu.
Putri menoleh ke arah Aris, menyadari bahwa taruhan ini baru saja menjadi jauh lebih fatal daripada sekadar nilai akademis atau reputasi kampus. Sesuatu yang jauh lebih berharga—masa depan Aris dan hubungan mereka yang baru tumbuh—kini berada di ujung tanduk.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!