Tiga lapis *concealer* ternyata belum c**up untuk menyamarkan bayangan kelabu di bawah mataku. Aku menatap pantulan diriku di cermin toilet kampus yang buram, mencoba menemukan jejak mahasiswi teladan yang biasanya menatap balik dengan penuh percaya diri. Namun, yang kulihat hanyalah sepasang mata yang tampak lelah, sisa-sisa dari pergulatan emosi semalam yang baru mereda saat fajar menyingsing.
Aku menarik napas panjang, merapikan kerah kemeja putihku yang kaku, lalu mengoleskan lipstik berwarna *nude* untuk memberi sedikit rona kehidupan. Begitu aku keluar dari toilet, topeng itu harus terpasang sempurna. Tidak boleh ada yang tahu tentang kegelisahan yang merayap di balik dada, atau tentang percakapan-percakapan rahasia dengan 'Lentera' yang masih terngiang di kepalaku seperti melodi yang menghantui.
Koridor gedung fakultas mulai ramai dengan suara langkah kaki dan obrolan mahasiswa yang riuh. Aku berjalan cepat, menunduk tipis setiap kali berpapasan dengan teman sekelas yang menyapa. Suaraku terdengar stabil saat membalas sapaan mereka, meski sebenarnya tanganku terasa dingin.
"Putri! Makalah Teori Komunikasi kamu sudah dikumpul?" tanya Maya, teman sekelasku, sambil mencoba menyamai langkahku.
"Sudah, pagi-pagi sekali tadi di meja asisten dosen," jawabku pendek, memaksakan sebuah senyum kecil yang kaku.
"G***, kamu memang nggak pernah telat ya. Aku saja masih kurang dua halaman," keluh Maya dengan nada iri yang dibungkus tawa.
Aku hanya mengangguk sopan dan terus melangkah menuju ruang asisten dosen. Pagi ini adalah jadwal bimbingan revisi untuk proyek riset semesterku. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena aku takut nilaiku burukβaku tahu dataku akuratβtapi karena aku harus berhadapan dengan Aris.
Aris adalah definisi dari kata kaku. Dia adalah asisten dosen yang paling dihindari karena standarnya yang nyaris mustahil dipenuhi. Dia jarang tersenyum, bicaranya irit, dan tatapannya selalu terasa seperti sedang membedah setiap inci kesalahan dalam pekerjaanmu.
Aku mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali. "Ma**k," suara bariton yang datar menyahut dari dalam.
Aku membuka pintu dan aroma kopi hitam yang kuat langsung menyergap indra penciumanku. Di balik meja kayu yang tertumpuk buku-buku tebal, Aris duduk dengan punggung tegak. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan matanya tidak beralih dari layar laptop saat aku duduk di kursi di hadapannya.
"Putri," ucapnya tanpa melihatku. Ia menarik sebuah map plastik berisi draf makalahku dan meletakkannya di tengah meja.
"Selamat pagi, Kak Aris," kataku pelan. Aku meremas jemariku sendiri di bawah meja, berusaha menyembunyikan getaran halus di sana.
Aris akhirnya mendongak. Tatapannya dingin, seperti es yang tidak tersentuh matahari. Ia tidak membalas sapaanku, melainkan langsung membuka halaman pertama makalahku yang sudah penuh dengan coretan tinta merah. Hatiku mencelos.
"Analisis variabel di bab tiga ini masih dangkal," mulainya tanpa basa-basi. Suaranya kering, seolah ia sedang membacakan manual instruksi mesin. "Kamu hanya menyentuh permukaan. Saya ekspektasikan mahasiswi dengan IPK setinggi kamu bisa menggali lebih dalam soal psikologi audiensnya. Ini terlalu... normatif."
Aku menelan ludah. Rasa panas mulai merambat ke pipiku. "Saya sudah mencoba menghubungkannya dengan teori ketergantungan media, Kak. Apa ada bagian spesifik yang perlu saya tambahkan?"
Aris menggeser kacamatanya, lalu menatapku intens. Untuk sesaat, aku merasa seolah dia bisa melihat menembus topeng yang kupakai sejak pagi tadi. Apakah dia tahu aku terjaga sampai jam tiga pagi hanya untuk mencari validasi dari orang asing di internet? Apakah dia melihat kerapuhan di balik kemeja rapi ini?
"Hampir semuanya," jawabnya kejam. Ia membalik halaman dengan kasar. "Kamu menulis tentang 'kekosongan emosional dalam konsumsi media digital', tapi tulisanmu sendiri terasa kosong. Seperti kamu sedang membicarakan sesuatu yang tidak kamu mengerti, atau justru sesuatu yang terlalu takut kamu akui."
Kalimat terakhirnya menghantamku tepat di ulu hati. Aku terpaku. Bagaimana mungkin asisten dosen yang sedingin batu ini bisa mengucapkan sesuatu yang begitu personal?
"Saya akan perbaiki, Kak," jawabku cepat, mencoba merebut kembali kendali emosiku. "Saya akan mencari referensi tambahan."
"Bukan soal referensi, Putri. Ini soal kejujuran dalam tulisan," Aris menutup map itu dengan suara 'plak' yang tajam. "Revisi ini saya tunggu besok sore. Jika masih seperti ini, saya tidak akan memberikan tanda tangan untuk maju ke sidang antara."
Aku berdiri, meraih map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Baik. Terima kasih, Kak."
Aku berbalik dan melangkah keluar secepat yang aku bisa. Begitu pintu tertutup, aku bersandar sejenak di dinding koridor yang dingin. Napasku memburu. Aris selalu berhasil membuatku merasa kecil, seolah-olah semua pencapaian akademisku tidak ada artinya jika aku tidak bisa memberikan 'kejujuran' yang dia tuntut.
Sambil berjalan menuju perpustakaan untuk mulai mengerjakan revisi, tanganku merogoh saku rok, mencari ponsel. Aku merasa butuh pelarian. Aku butuh seseorang yang tidak akan menilaiku berdasarkan draf makalah atau standar akademis yang mencekik.
Layar ponselku menyala. Sebuah notifikasi dari aplikasi pesan anonim muncul di layar.
**Lentera:** *Bagaimana pagimu? Apakah dunia nyata terlalu bising hari ini?*
Aku menghentikan langkah di tengah koridor yang ramai. Sebuah senyum yang tulus, yang tidak kuberikan pada siapa pun sejak aku bangun tidur, muncul secara alami di bibirku. Hanya dengan satu kalimat itu, beban di pundakku terasa sedikit terangkat.
Aku mulai mengetik balasan, jemariku bergerak lincah di atas layar kaca. *Dunia nyata tidak hanya bising, Lentera. Dunia nyata penuh dengan orang-orang yang hanya ingin melihat kesempurnaan, tanpa peduli betapa lelahnya kita menjaganya.*
Aku tidak menyadari bahwa di balik kaca jendela ruang asisten dosen yang sedikit terbuka, sepasang mata tajam sedang memperhatikan punggungku yang perlahan menjauh, mengamati caraku menggenggam ponsel itu seolah-olah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang luas.
Di dalam ruangan, Aris meletakkan ponselnya di meja, tepat di samping cangkir kopinya yang sudah dingin. Ia menghela napas panjang, sebuah ekspresi yang jauh lebih manusiawi daripada yang ia tunjukkan padaku beberapa menit lalu. Ia baru saja mengirimkan pesan itu, dan kini ia menatap layar yang menunjukkan balasan dari akun bernama 'P'.
Ia tahu gadis itu sedang terluka, tapi ia tidak tahu bahwa gadis yang baru saja ia tekan habis-habisan di ruangannya adalah orang yang sama yang saat ini sedang mencari perlindungan di balik kata-katanya.
Aku terus berjalan, tidak tahu bahwa bahaya yang paling besar bukan terletak pada rahasia yang kusimpan, melainkan pada kenyataan bahwa orang yang paling ingin aku hindari adalah orang yang paling dekat dengan pusat duniaku yang tersembunyi. Dan saat aku menekan tombol kirim, aku baru saja mempererat ikatan yang suatu saat nanti mungkin akan mencekikku sendiri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!