Cahaya biru dari layar laptop baru saja redup, meninggalkan sisa-sisa pendar yang perlahan menghilang di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat itu. Putri menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal yang mulai kehilangan keempukannya. Di luar, suara rintik hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti ketukan jemari yang tidak sabar, selaras dengan detak jantungnya yang perlahan kembali normal.
Setiap kali adegan terakhir itu selesai dan layar menjadi hitam, ada sebuah lubang hitam yang mendadak menganga di dadanya. Rasa hampa itu selalu datang tanpa diundangβsebuah jenis kesepian yang terasa dingin, mencekik, dan membuatnya merasa seperti butiran debu di tengah semesta yang terlalu luas. Ia memeluk lututnya erat, mencium aroma detergen dari sprei yang sudah saatnya dicuci, mencoba mencari pegangan pada realitas.
Tangannya bergerak secara mekanis, meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menerangi wajahnya yang pucat dengan kantung mata yang mulai menghitam. Tanpa sadar, ibu jarinya membuka aplikasi pesan instan dan langsung menuju pada satu baris percakapan teratas.
*Lentera.*
Putri menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Jemarinya bergetar saat mulai mengetik.
"Kamu masih di sana?"
Hanya butuh tiga detik sampai status 'Online' berubah menjadi 'Sedang mengetik...'. Jantung Putri mencelos. Ada kelegaan aneh yang menyusup ke sela-sela tulang rusuknya, seolah-olah ia baru saja menemukan pelampung di tengah samudra yang gelap.
"Aku selalu di sini, Putri. Malam yang sulit lagi?"
Putri menggigit bibir bawahnya. Ia tidak pernah memberitahu nama aslinya, namun Lentera selalu memanggilnya dengan nadaβatau setidaknya, ia membayangkan nada ituβyang begitu lembut.
"Hanya... sunyi. Sangat sunyi sampai aku bisa mendengar suara pikiranku sendiri yang berisik," ketik Putri. Ia mematikan lampu meja, membiarkan kamar itu tenggelam dalam kegelapan total kecuali cahaya dari ponselnya.
"Suara pikiran itu biasanya mengatakan hal-hal yang tidak ingin kita dengar," balas Lentera. "Tentang ekspektasi orang lain? Tentang topeng yang harus kamu pakai besok pagi di kampus?"
Putri tertegun. Lentera selalu punya cara untuk menusuk tepat di pusat kecemasannya. Di kampus, Putri adalah si Mahasiswi Abadiβbukan dalam arti lama lulus, tapi dalam arti selalu ada di sana, selalu sempurna, selalu menjadi rujukan dosen. Namun, tak satu pun dari mereka tahu bahwa Putri sering menghabiskan waktu di perpustakaan hanya untuk bersembunyi dari interaksi manusia, atau bahwa ia menonton film dewasa bukan untuk gairah, melainkan untuk merasakan simulasi keintiman yang tidak pernah ia miliki.
"Kadang aku merasa seperti aktor yang lupa naskahnya, tapi pertunjukan harus tetap berjalan," Putri mengetik dengan cepat, seolah takut kejujuran itu akan menguap jika tidak segera disampaikan. "Aku takut kalau sekali saja aku berhenti tersenyum atau gagal menjawab pertanyaan dosen, semuanya akan hancur. Mereka akan melihat betapa kosongnya aku."
"Kosong itu tidak selalu buruk, Putri. Ruang yang kosong adalah ruang yang siap diisi. Masalahnya, kamu terlalu takut membiarkan orang lain ma**k ke ruang itu, bukan?"
Putri mematung. Kata-kata itu terasa seperti sentuhan fisik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia teringat bagaimana tadi siang ia berdiri di depan meja asisten dosen, Aris, untuk menyerahkan draf skripsinya. Aris hanya menatapnya dengan mata dingin di balik kacamata frame hitamnya, mengoreksi satu kesalahan kecil dengan nada yang begitu datar sampai membuat Putri merasa seperti kuman yang sedang diteliti. Di dunia nyata, orang-orang seperti Aris adalah tembok. Di dunia maya, Lentera adalah pintu.
"Kenapa kamu peduli?" tanya Putri, jarinya bergerak ragu sebelum menekan tombol kirim.
"Karena aku tahu rasanya memiliki ribuan kata di kepala, tapi tak punya satu pun mulut yang mau mendengarkan tanpa menghakimi," balas Lentera. Pesan berikutnya muncul lebih cepat. "Kamu merasa kesepian ini adalah hukuman, ya? Kesepian karena kamu merasa berbeda?"
Putri merasakan matanya memanas. "Aku merasa tidak diinginkan jika aku tidak menjadi berguna. Kalau aku tidak pintar, kalau aku tidak rajin, siapa yang mau melihatku?"
"Aku melihatmu," ketik Lentera. "Bahkan dalam gelap yang paling pekat sekalipun, aku bisa melihat cahaya kecil itu. Tapi, Putri... kenapa setiap kali kita bicara seperti ini, kamu selalu terdengar seolah sedang memarahi dirimu sendiri? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalumu sampai kamu merasa harus menjadi sempurna hanya untuk layak dicint**?"
Pertanyaan itu menghantam Putri tepat di ulu hati. Bayangan tentang rumahnya yang selalu senyap, tentang meja makan yang hanya berisi piring-piring bersih tanpa percakapan, dan tentang tuntutan orang tuanya yang menganggap nilai 'A' adalah kewajiban standar, berputar-putar di kepalanya. Trauma tentang diabaikan saat ia mencoba menjadi dirinya sendiri merayap naik seperti kabut hitam.
"Itu... bukan hal yang mudah dibicarakan," jawab Putri pendek. Tangannya mulai berkeringat.
"Tidak apa-apa. Kita punya sepanjang malam," Lentera membalas. "Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran hari ini. Tadi, saat kamu berjalan melewati koridor blok B, kamu terlihat sangat lelah. Kenapa kamu tidak berhenti sejenak dan duduk di bangku taman bawah pohon akasia itu? Kamu terlihat butuh napas, bukan sekadar buku."
Putri menjatuhkan ponselnya ke atas ka**r. Bunyi *thud* kecil itu terasa seperti ledakan di telinganya. Napasnya memburu. Matanya terbelalak menatap langit-langit yang gelap.
Koridor blok B? Bangku di bawah pohon akasia?
Itu adalah tempat yang ia lalui pukul satu siang tadi, tepat setelah ia keluar dari ruang asisten dosen dengan perasaan remuk karena dikritik habis-habisan oleh Aris. Ia yakin saat itu ia sendirian. Ia yakin tidak ada yang memperhatikannya.
Dengan tangan gemetar, ia memungut ponselnya kembali. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena lega, melainkan karena rasa takut yang dingin.
"Bagaimana kamu tahu aku ada di koridor blok B tadi siang?" ketik Putri, jarinya bergetar hebat.
Lentera tidak langsung membalas. Status 'Online' itu tetap diam selama satu menit yang terasa seperti satu tahun. Kemudian, sebuah pesan muncul, singkat namun c**up untuk membuat seluruh dunia Putri jungkir balik.
"Karena dari tempatku duduk, kamu adalah satu-satunya resonansi yang bisa kutangkap di tengah kebisingan kampus itu. Tidurlah, Putri. Sampai jumpa di kelas metodologi besok pagi."
Putri tersedak napasnya sendiri. Kelas metodologi. Kelas yang hanya diikuti oleh tiga puluh orang, dan hanya ada satu asisten dosen yang mengawasi jalannya diskusi setiap minggu pagi.
Aris.
Ponsel di tangannya terasa panas, seolah-olah benda itu baru saja berubah menjadi bara api. Di kegelapan kamarnya, Putri menyadari bahwa dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi diri, baru saja runtuh tanpa suara. Dan orang yang paling ia takuti di dunia nyata, mungkin adalah orang yang selama ini memegang kunci pintu hatinya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!