Cahaya biru dari layar monitor adalah satu-satunya sumber penerangan di apartemen tipe studio itu. Aris melepas kacamata berbingkai tipisnya, memijat pangkal hidung yang terasa berdenyut setelah empat jam berkutat dengan draf jurnal penelitian. Di atas meja, segelas kopi yang sudah mendingin meninggalkan jejak lingkaran cokelat di atas tumpukan silabus.
Dunia mengenal Aris sebagai asisten dosen yang kaku, pria dengan kemeja yang selalu disetrika licin dan tutur kata yang seefisien mesin. Di koridor kampus, ia adalah "Mas Aris" yang pelit senyum, sosok yang membuat mahasiswa tingkat akhir gemetar saat bimbingan. Namun, saat jam dinding menunjukkan pukul satu pagi, Aris yang kaku itu luruh. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja yang sudah agak usang, mengembuskan napas panjang yang selama ini tertahan di balik kerah kemejanya yang terancing rapi.
Ia meraih ponselnya. Jemarinya bergerak lincah membuka aplikasi pesan terenkripsi, ma**k ke akun anonim yang ia beri nama 'Lentera'. Nama itu bukan sekadar nama pengguna; baginya, ini adalah satu-satunya jendela kecil tempat ia bisa bernapas tanpa harus menjadi sosok yang sempurna.
Ada pesan ma**k. Dari dia—gadis tanpa nama yang selalu hadir tepat saat Aris merasa dunianya terlalu sunyi.
*“Kau tahu rasanya menjadi piala yang dipajang di lemari kaca? Semua orang mengagumi kilaunya, tapi tak ada yang tahu betapa dingin dan berdebunya bagian dalam.”*
Aris menatap kalimat itu c**up lama. Ia merasakan getaran familiar di dadanya. Ironis, pikirnya. Di kampus, ia harus menjadi contoh integritas, namun di sini, ia hanyalah seorang pria kesepian yang mencari validasi dari orang asing.
*“Aku tahu,”* Aris mengetik perlahan. *“Rasanya seperti kau sedang berteriak di ruang hampa. Suaramu bergema di telingamu sendiri, tapi dunia luar hanya melihat keheningan yang tenang.”*
Ia teringat interaksinya hari ini di kelas Seminar Teori Komunikasi. Ia melihat deretan wajah mahasiswa yang menatapnya dengan rasa sungkan, bahkan takut. Ada satu mahasiswi di baris depan—Putri—yang selalu mencatat setiap katanya dengan tekun. Gadis itu adalah representasi dari ekspektasi akademis yang sempurna. Namun, Aris sempat menangkap sorot mata Putri yang kosong saat kelas usai, sebuah tatapan yang entah kenapa selalu menghantuinya.
Ponselnya bergetar lagi.
*“Malam ini lebih berat dari biasanya. Aku baru saja menonton film itu lagi. Bukan karena aku menikmatinya dalam arti yang orang pikirkan, tapi karena setelahnya, rasa hampa itu jadi begitu nyata hingga aku bisa merasakannya di kulitku. Terima kasih sudah ada di sini, Lentera. Hanya kau yang tidak menatapku seolah aku adalah sebuah kekecewaan.”*
Aris terdiam. Jarinya menggantung di atas papan ketik virtual. Ada sesuatu dari gaya bahasa gadis ini—penggunaan metafora yang tajam namun rapuh—yang terasa sangat spesifik. Aris adalah seorang pria yang dilatih untuk jeli terhadap pola. Ia mulai memindai ulang percakapan-percakapan mereka selama dua minggu terakhir.
Gadis ini pernah menyebutkan bahwa dia benci aroma pembersih lant** di perpustakaan pusat pada hari Selasa. Aris tahu persis aroma itu; ia juga berada di sana setiap Selasa sore untuk mengurus administrasi departemen. Gadis ini pernah mengeluh tentang "dosen tua yang hobi memberikan tugas esai di hari libur"—sebuah keluhan yang sangat umum, namun ia menyebutkan judul buku referensi yang hanya digunakan di satu mata kuliah spesifik semester ini.
Jantung Aris mulai berdegup tidak beraturan. Ia mencoba menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Dunia ini terlalu luas untuk sebuah kebetulan yang begitu sempit.
*“Kenapa kau merasa seperti sebuah kekecewaan?”* tanya Aris, mencoba menggali lebih dalam sambil menahan debar di dadanya.
Balasannya datang beberapa menit kemudian. *“Karena aku memakai topeng mahasiswi teladan di siang hari. Jika mereka tahu apa yang kulakukan untuk melarikan diri dari tekanan ini... jika mereka tahu pikiranku tidak sebersih indeks prestasiku, mereka akan jijik. Terutama asisten dosenku yang kaku itu. Dia pasti akan mencoret namaku dari daftar manusia beradab.”*
Aris tersentak. Ia meletakkan ponselnya di meja seolah benda itu baru saja menyetrumnya. "Asisten dosen yang kaku." Kalimat itu menghantamnya tepat di ulu hati. Di departemen mereka, gelar itu hampir secara eksklusif disematkan padanya.
Ia meraih kembali ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mulai menelusuri log percakapan mereka dari awal, mencari det**l kecil lainnya. Waktu pengiriman pesan, diksi yang digunakan, hingga keluhan tentang sulitnya memahami materi statistik sosial yang ia ajarkan dua hari lalu.
Pikirannya melayang pada Putri. Mahasiswi yang selalu datang paling awal, yang tugas-tugasnya selalu mendapatkan nilai A, namun selalu tampak seolah-olah dia sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Aris teringat bagaimana Putri tadi siang menghindari kontak mata dengannya saat mengumpulkan tugas, jemarinya yang gemetar tipis saat menyentuh tepi meja Aris.
Aris bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela apartemennya yang menghadap ke lampu-lampu kota yang mulai meredup. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca—pria yang tampak tenang, terkendali, dan tak tersentuh.
Apakah mungkin? Apakah gadis yang ia anggap sebagai belahan jiwa digitalnya adalah mahasiswi yang selama ini ia beri jarak secara profesional?
Ia kembali ke mejanya, membuka folder berisi pindaian tugas mahasiswa kelas Seminar. Ia mencari satu nama. Putri Rahmadani. Ia membandingkan tanda baca dalam esai Putri dengan pesan-pesan dari akun anonim itu. Penggunaan tanda titik koma yang berlebihan, cara mereka memulai kalimat dengan kata sambung yang tidak lazim... pola itu identik.
Aris merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Jika benar gadis di balik akun itu adalah Putri, maka ia telah mengetahui rahasia paling kelam dan paling intim dari mahasiswinya sendiri. Lebih buruk lagi, mahasiswi itu telah mempercayakan jiwanya kepada sosok 'Lentera', tanpa tahu bahwa sosok itu adalah orang yang paling ia takuti di dunia nyata.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah notifikasi pesan baru muncul di layar terkunci.
*“Lentera, bolehkah aku menanyakan sesuatu yang pribadi? Tadi di kampus, aku merasa sepertinya kau melihatku. Apa mungkin kita sebenarnya pernah berpapasan tanpa aku menyadarinya?”*
Aris menahan napas. Matanya terpaku pada layar. Rahasianya kini berdiri di tepi jurang, dan satu ketikan salah bisa menghancurkan segalanya. Ia menatap tumpukan kertas tugas di mejanya, lalu kembali ke layar ponsel, menyadari bahwa topeng yang ia kenakan kini mulai retak di hadapan kenyataan yang tak terduga.
Ia tidak bisa membalasnya sekarang. Tidak sebelum ia yakin bagaimana cara menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling ia inginkan untuk dimengerti adalah orang yang seharusnya ia jaga jaraknya secara profesional. Aris mematikan layar ponselnya, membiarkan keheningan kamar menyergapnya, namun di kepalanya, suara Putri—baik yang nyata maupun yang digital—bergaung kian kencang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!