Resonansi Tengah Malam

Bab 5: Bab 5 - Lentera memberikan saran tentang masalah kampus...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar laptop memantul di kacamata Putri, menciptakan bayangan redup di pipinya yang tirus. Jarum jam di dinding kamar kosnya baru saja melewati angka satu dini hari. Di atas meja, draf revisi penelitian metodologi penelitian miliknya tampak penuh dengan coretan tinta merah—jejak-jejak ketidaksabaran Aris, asisten dosen yang tadi siang baru saja mengembalikan berkasnya dengan komentar singkat: *“Logikanya c****. Perbaiki atau tidak usah presentasi.”*

Putri meremas jemarinya yang dingin. Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa sesak yang familier mulai merayap di dadanya—sebuah lubang hitam yang biasanya ia tutup dengan tontonan eksplisit di balik pintu terkunci, namun malam ini, bahkan pelarian itu terasa hambar. Ia butuh sesuatu yang lebih nyata. Ia butuh suara yang tidak menghakiminya.

Dengan napas gemetar, ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan terenkripsi itu. Nama ‘Lentera’ ada di urutan teratas.

*“Dia membuatku merasa seperti mahasiswi paling bodoh di dunia lagi hari ini,”* ketik Putri. Ia tidak menyebut nama Aris, hanya menyebutnya sebagai ‘si Tembok Es’.

Hanya butuh tiga detik sampai status ‘Typing’ muncul. Jantung Putri berdegup lebih kencang. Ada kehangatan aneh yang menjalar hanya dengan melihat tanda itu.

*“Si Tembok Es itu lagi? Apa yang dia katakan kali ini?”* balas Lentera.

Putri menghela napas panjang, jarinya bergerak cepat menceritakan kerumitan variabel penelitiannya yang ditolak mentah-mentah. Ia menumpahkan segala frustrasinya—tentang bagaimana ia merasa kerdil setiap kali berdiri di depan meja asisten dosen itu, tentang bagaimana usahanya seolah tidak pernah c**up.

*“Coba lihat dari sudut pandang lain,”* Lentera membalas setelah jeda sejenak. *“Orang seperti dia biasanya tidak tertarik pada basa-basi atau seberapa keras kamu berusaha. Dia hanya peduli pada struktur. Jangan lawan dia dengan emosi, tapi lawan dengan data yang tidak bisa dibantah. Coba ubah urutan hipotesis ketiga dengan pengujian korelasi yang lebih sederhana. Kadang, kesederhanaan adalah bentuk kecerdasan yang paling tinggi. Dia pasti akan terdiam kalau kamu menyajikan sesuatu yang lebih bersih dan efisien.”*

Putri membaca pesan itu berulang kali. Sesuatu di dalam kepalanya seolah terbuka. Ia segera menarik kembali drafnya. Saran Lentera terdengar sangat teknis, hampir terlalu akurat untuk seseorang yang (menurut a**msi Putri) hanyalah orang asing yang ia temui di forum diskusi film dewasa. Namun, ada logika yang sangat ma**k akal di sana.

Malam itu, Putri tidak tidur. Didorong oleh rasa ingin membuktikan diri dan kenyamanan emosional yang diberikan Lentera, ia merombak total bab tiga penelitiannya. Setiap kali ia merasa lelah, ia melirik layar ponselnya yang menampilkan pesan terakhir Lentera: *“Kamu lebih mampu dari yang kamu pikirkan. Tunjukkan padanya bahwa kamu tidak bisa diremehkan.”*

Esok siangnya, lorong departemen terasa lebih dingin dari biasanya. Putri berdiri di depan pintu ruangan asisten dosen dengan map di pelukan eratnya. Ia mengetuk pelan.

“Ma**k,” suara berat dan datar itu terdengar dari dalam.

Aris sedang duduk di balik meja kayu yang tertata sangat rapi, matanya terpaku pada layar monitor. Ia bahkan tidak mendongak saat Putri meletakkan map revisinya di atas meja.

“Saya sudah memperbaiki bagian metodologinya, Pak,” suara Putri sedikit bergetar, namun ia berusaha menjaga kontak mata sesuai saran Lentera—tampil percaya diri, jangan terlihat seperti mangsa.

Aris menghentikan ketikannya. Ia meraih map itu dengan gerakan efisien, membukanya, dan mulai membaca. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Putri bisa mendengar detak jantungnya sendiri, keras dan tidak beraturan. Ia memperhatikan profil samping wajah Aris—rahang yang tegas, kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya, dan ekspresi yang selalu sulit dibaca.

Aris membalik halaman demi halaman. Alisnya sedikit bertaut. Ia berhenti di halaman ketiga—bagian yang disarankan oleh Lentera.

“Siapa yang mengajarimu teknik korelasi seperti ini?” tanya Aris tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah Putri.

Putri menelan ludah. “Saya... saya mencoba menyederhanakan pendekatannya agar lebih efisien, Pak. Saya pikir kesederhanaan bisa lebih menjelaskan struktur datanya.”

Aris terdiam c**up lama, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran meja. Untuk pertama kalinya, Putri melihat kilatan sesuatu yang menyerupai apresiasi di mata pria itu.

“Urutan hipotesis ini jauh lebih logis,” gumam Aris, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Ia menutup map itu dan mendorongnya kembali ke arah Putri. “Ini jauh lebih baik. Kamu bisa lanjut ke bab berikutnya. Jadwalkan presentasi minggu depan.”

Putri merasa seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari bahunya. “Terima kasih, Pak.”

Saat ia berbalik menuju pintu, suara Aris kembali terdengar, kali ini sedikit lebih rendah. “Putri?”

Putri menoleh, tangannya sudah memegang gagang pintu. “Ya, Pak?”

“Tingkatkan kepercayaan dirimu. Kamu punya potensi, jangan biarkan rasa takut membuatmu terlihat tidak kompeten.”

Putri hanya bisa mengangguk kaku dan segera keluar dari ruangan itu. Begitu sampai di koridor yang sepi, ia bersandar di tembok, napasnya memburu. Perasaannya campur aduk—antara bangga karena berhasil melewati ujian Aris, dan ketergantungan yang semakin dalam kepada sosok Lentera.

Ia segera merogoh ponselnya, mengabaikan kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang.

*“Lentera! Saranmu berhasil! Dia menerimanya. Aku tidak percaya ini, kamu penyelamatku,”* ketik Putri dengan tangan gemetar karena kegirangan.

Satu menit kemudian, balasan ma**k. *“Aku senang mendengarnya. Sudah kubilang kan? Kamu hebat. Sekarang, apa imbalannya untukku malam ini?”*

Putri tersenyum kecil, sebuah senyum rahasia yang tidak pernah ia tunjukkan di kampus. Ia merasa begitu dekat dengan Lentera, merasa seolah pria di balik akun anonim itu adalah satu-satunya orang yang benar-benar memihaknya di dunia yang dingin ini.

Tanpa ia sadari, di dalam ruangan yang baru saja ia tinggalkan, Aris sedang menatap layar ponselnya yang diletakkan di samping keyboard. Sebuah notifikasi pesan muncul di sana—pesan dari seorang gadis yang ia kenal sebagai 'Putri Kecil' di dunia maya.

Aris menghela napas, jemarinya bergerak di atas layar, membalas pesan itu dengan nada yang sangat berbeda dari suaranya saat berbicara di kampus. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba terhenti. Ia melihat draf revisi Putri yang masih tertinggal satu lembar di mejanya—sebuah kertas catatan kecil yang terselip, berisi coretan tangan Putri yang sangat khas.

Aris mengerutkan kening. Ia mengambil kertas itu, lalu menatap layar ponselnya. Ada sebuah pola yang mulai terasa familiar. Sebuah kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut sebagai ketidaksengajaan. Matanya menyipit, menatap pintu ruangannya yang tertutup rapat, menyadari bahwa mungkin ia baru saja memberikan kunci untuk menghancurkan dinding yang ia bangun sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca