Cahaya biru dari layar laptop memantul di kornea mata Putri, menciptakan pendaran yang kontras dengan kegelapan kamarnya yang pekat. Jam dinding digital di atas meja belajar menunjukkan pukul 02.14 pagi. Suasana di luar sunyi senyap, hanya menyisakan suara dengung kipas laptop yang bekerja keras dan detak jantungnya sendiri yang terasa sedikit terlalu cepat.
Putri menarik napas panjang, jemarinya yang dingin menggantung di atas *trackpad*. Ia baru saja menghabiskan satu jam terakhir bukan untuk mengerjakan revisi skripsi, melainkan menelusuri profil 'Lentera' untuk yang kesekian kalinya. Akun itu seperti hantu digital; tidak ada foto profil asli, hanya siluet lampu jalan yang temaram. Unggahannya minim, kebanyakan hanya kutipan-kutipan filosofis tentang kesepian dan kemanusiaan yang terasa begitu personal bagi Putri.
Namun, pesan terakhir dari Lentera tadi malam telah mengubah rasa nyaman Putri menjadi sebuah kecurigaan yang menggelitik sekaligus menakutkan.
*“Sepertinya hujan di daerahmu malam ini c**up awet, ya? Jangan lupa minum cokelat hangat sebelum tidur, supaya kamu tidak kedinginan saat besok harus bimbingan pagi.”*
Bagaimana dia tahu kalau di sini hujan? Dan bagaimana dia tahu kalau besok Putri punya jadwal bimbingan?
Putri menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan saat ia merasa terpojok. Ia mulai mengetikkan kata kunci di kolom pencarian Twitter, lalu beralih ke Instagram, mencoba mencari korelasi antara nama akun 'Lentera' dengan daftar pengikutnya sendiri. Ia mencari kemiripan gaya bahasa, penggunaan tanda baca, hingga jam-jam aktif akun tersebut.
"Pasti ada jejaknya," gumam Putri pelan. Suaranya serak, hampir hilang ditelan keheningan malam.
Ia membuka tab baru, mencari aplikasi pencari gambar terbalik. Ia mengunggah salah satu foto pemandangan sudut kota yang pernah dikirimkan Lentera beberapa minggu lalu. Hasilnya nihil. Foto itu tampaknya diambil secara orisinal, bukan dari internet. Putri memicingkan mata, menatap foto itu lebih dalam. Itu adalah sebuah sudut kafe dengan pencahayaan kuning yang hangat. Di sudut meja, terlihat sedikit bagian dari sebuah buku yang terbuka.
Putri melakukan *zoom-in* sampai resolusi gambar pecah. Ia mengenali desain sampulnya. Itu adalah jurnal akademik tentang teori komunikasi massa yang sangat langka. Jurnal yang hanya tersedia di perpustakaan pusat kampus mereka.
Rasa dingin merayap di tengkuk Putri. *Apakah dia satu kampus denganku?*
Pikiran itu membuatnya merinding. Selama ini, Lentera adalah tempat sampahnya—tempat ia membuang segala rasa malu, kegagalan, dan sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Jika Lentera adalah seseorang yang ia kenal, atau bahkan seseorang yang sering berpapasan dengannya di koridor fakultas, maka tamatlah riwayatnya. Citra 'mahasiswi teladan' yang ia bangun dengan susah payah selama tiga tahun ini akan hancur lebur jika orang tahu apa yang ia tonton dan apa yang ia bicarakan dengan seorang pria asing di internet.
Namun, rasa penasaran itu jauh lebih kuat daripada ketakutannya. Ia beralih ke daftar pengikut akun-akun himpunan mahasiswa. Ia memindai nama demi nama, mencari pola yang mungkin tersembunyi. Jarinya bergerak cepat, menggulir layar dengan ritme yang penuh kegelisahan.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di pojok kanan layar ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Sebuah pesan baru dari Lentera.
*“Kamu masih belum tidur, Putri? Cahaya di kamarmu masih menyala.”*
Putri tersentak hingga kursinya berderit nyaring di lant** kamar yang sunyi. Ia refleks menoleh ke arah jendela yang tertutup gorden tipis. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia merasa seolah-olah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kegelapan di luar sana.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Jarinya ragu-ragu di atas layar. Ia ingin mematikan ponsel itu, membuangnya ke bawah bantal, dan pura-pura tidak melihat apa-apa. Namun, ia justru mengetikkan balasan.
*“Kamu mengint**ku?”* tulisnya, singkat dan penuh tuntutan.
Semenit berlalu. Dua menit. Status 'Typing...' muncul dan menghilang beberapa kali di bawah nama akun Lentera. Putri menahan napas, matanya tak lepas dari layar.
*“Aku tidak mengint**mu,”* balas Lentera akhirnya. *“Hanya saja, aku tahu bagaimana kebiasaanmu kalau sedang merasa cemas. Kamu akan terjaga sampai pagi, mencoba mencari jawaban atas hal-hal yang sebenarnya sudah ada di depan matamu.”*
Putri merasa mual. Kalimat itu bukan sekadar tebakan; itu adalah observasi yang sangat akurat. Ia merasa te*******, seolah Lentera bisa membaca setiap lapisan pikirannya. Ia segera menutup laptopnya dengan sekali bantingan keras, menimbulkan suara dentuman yang memecah kesunyian malam.
Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menarik selimut sampai ke dagu, namun matanya tetap nyalang menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata Lentera terus berputar di kepalanya: *Sudah ada di depan matamu.*
Pikirannya melayang pada beberapa orang yang ia temui di kampus belakangan ini. Teman-teman sekelasnya yang sok akrab, para aktivis kampus yang berisik, hingga para asisten dosen yang kaku. Tiba-tiba, sebuah kilasan memori muncul. Ia teringat kejadian di perpustakaan dua hari yang lalu, saat ia hampir menab**k seseorang di rak buku bagian jurnal akademik.
Seorang pria dengan kacamata berbingkai tipis, yang selalu bicara seperlunya dan memiliki tatapan dingin yang membuatnya selalu merasa kecil. Aris.
Putri menggelengkan kepala dengan keras, mencoba mengusir pikiran konyol itu. Tidak mungkin. Aris adalah asisten dosen yang paling kaku, disiplin, dan hampir tidak punya emosi. Dia tidak mungkin adalah orang yang sama dengan Lentera yang begitu hangat dan pengertian dalam setiap obrolan tengah malam mereka.
Namun, di tengah keraguan itu, ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan pesan teks. Sebuah lampiran foto.
Putri membukanya dengan napas tertahan. Foto itu adalah sebuah gelas kopi dari kantin fakultas mereka, dengan tulisan tangan di cup plastik tersebut: *"Jangan lupa istirahat, Putri. Besok presentasimu jam 8 pagi."*
Foto itu diambil dari sudut yang sangat akrab. Sudut meja di ruang asisten dosen yang selalu Putri lihat setiap kali ia mengumpulkan tugas.
Darah Putri terasa berdesir dingin. Ia mengenal tulisan tangan itu. Huruf 'P' yang melengkung tajam dan angka '8' yang sedikit miring ke kiri. Itu adalah tulisan tangan yang sama dengan yang sering memberikan coretan revisi berwarna merah di lembar tugas-tugasnya.
Ia melempar ponselnya ke ujung tempat tidur seolah benda itu baru saja menyetrumnya. Napasnya memburu. Rasa takut dan penasaran kini bercampur menjadi satu pusaran emosi yang mencekik. Jika benar itu dia, maka selama ini Putri telah menelanjangi jiwanya di hadapan orang yang paling ia segani sekaligus ia hindari di dunia nyata.
Tepat saat ia mencoba menenangkan diri, sebuah pesan terakhir ma**k, membuat seluruh tubuhnya membeku.
*“Sampai jumpa di kelas besok pagi, Putri. Pakai syalmu, udaranya sedang tidak bagus.”*
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!