Aroma kopi pahit yang mulai dingin dan tumpukan kertas laporan praktikum menjadi pemandangan rutin di meja kerja Aris setiap Selasa sore. Sebagai asisten dosen, ia memiliki reputasi yang c**up solid: kaku, perfeksionis, dan tidak banyak bicara. Baginya, ruang asisten dosen adalah benteng pertahanan dari kebisingan dunia luar yang melelahkan. Namun, sore ini, fokusnya terbelah. Pikirannya melayang pada percakapan semalam dengan seorang perempuan yang menggunakan nama samaran di aplikasi pesan anonim.
Gadis itu, yang ia kenal hanya lewat kata-kata, selalu menghubunginya di jam-jam rapuhβsaat tengah malam hampir menjemput fajar.
Suara ketukan pintu yang ragu-ragu membuyarkan lamunan Aris. Ia memperbaiki posisi kacamatanya, kembali ke mode formal. "Ma**k," sahutnya datar, tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan kertas di depannya.
Langkah kaki yang ringan dan sedikit tergesa terdengar mendekat. Aris tahu siapa itu bahkan sebelum ia mendongak. Aroma parfum *vanilla* yang lembut namun samar selalu mengikuti kehadiran mahasiswi ini. Putri.
"Maaf mengganggu, Pak Aris. Saya ingin mengumpulkan revisi tugas analisis data yang kemarin," ujar Putri dengan suara yang terjaga, nyaris terlalu sopan.
Aris mendongak, matanya bertemu dengan mata Putri yang tampak sedikit sembap, seolah ia kurang tidur atau baru saja melalui pergulatan batin yang hebat. Di kampus, Putri adalah definisi mahasiswi teladan: rambut rapi, pakaian sopan, dan selalu membawa buku catatan. Namun, Aris menangkap sesuatu yang lain hari ini. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di balik topeng profesionalismenya.
"Letakkan saja di atas tumpukan itu, Putri," kata Aris sambil menunjuk sisi kiri mejanya dengan pena.
Putri mengangguk kecil. Saat ia melangkah maju untuk meletakkan map plastiknya, ia sedikit kewalahan membawa tas laptop, buku tebal, dan ponsel yang digenggamnya bersamaan. Saat tangannya bergerak meletakkan tugas, ponsel miliknya yang licin tergelincir dari jemarinya, jatuh tepat di depan Aris dengan posisi layar menghadap ke atas.
Refleks, Aris mengulurkan tangan untuk mengambilkan ponsel itu. Namun, tepat saat jemarinya nyaris menyentuh perangkat tersebut, layar ponsel itu menyala. Sebuah notifikasi pesan ma**k muncul di bagian tengah layar yang tidak terkunci.
*Lentera: "Aku harap kau sudah merasa sedikit lebih baik setelah obrolan kita semalam. Jangan terlalu menekan dirimu sendiri."*
Darah di sekujur tubuh Aris seolah berhenti mengalir. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mengenali kalimat itu. Ia mengenali susunan katanya. Itu adalah pesan yang baru saja ia kirim sepuluh menit yang lalu, sebelum ia menutup aplikasi 'Lentera' dan kembali bekerja.
Jantung Aris berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Ia terpaku, menatap nama pengirim pesan di layar ponsel itu: **Lentera**.
Putri dengan cepat menyambar ponselnya. Wajahnya yang semula pucat kini memerah padam, sebuah ekspresi antara malu dan panik yang luar biasa. Ia menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya seolah-olah baru saja tertangkap basah menyimpan rahasia negara yang paling berbahaya.
"Maaf, Pak! Maaf... saya tidak sengaja," suara Putri bergetar. Ia tidak berani menatap mata Aris.
Aris masih terdiam. Pikirannya berputar seperti pusaran air yang liar. Jadi, selama ini... gadis yang sering bercerita kepadanya tentang rasa kesepian setelah menonton film dewasa sebagai pelarian, gadis yang mengaku merasa hampa di balik semua pencapaian akademisnya, adalah Putri? Mahasiswi yang duduk di baris depan kelasnya, yang selalu memberikan jawaban paling akurat dalam ujian, adalah orang yang sama yang menangis secara digital di bahunya setiap malam?
"Ada apa, Putri?" tanya Aris, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap stabil dan dingin, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya... saya permisi dulu," jawab Putri cepat-cepat. Ia nyaris berlari keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di belakangnya.
Aris bersandar pada kursinya, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup. Ia merasa seperti seorang penyusup yang tidak sengaja merusak privasi seseorang, namun di saat yang sama, ia merasa memiliki koneksi yang jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.
Di satu sisi, logika Aris berteriak. Ini salah. Sebagai asisten dosen, ia harus menjaga batasan profesional. Ia harus berhenti membalas pesan-pesan itu. Ia harus menghapus akun 'Lentera' dan melupakan segalanya. Jika ini berlanjut, ia tidak hanya mempertaruhkan karier akademisnya, tapi juga kesehatan mental mahasiswinya. Bagaimana jika Putri tahu bahwa sosok yang ia percayai dengan seluruh kerentanan hidupnya adalah asisten dosen yang selama ini ia anggap kaku dan tak punya perasaan?
Namun, sisi lain dari diri Arisβsisi yang juga merasa kesepian di balik tumpukan buku dan tanggung jawabβmerasa keberatan. Ia mengingat betapa Putri sangat bergantung padanya untuk bisa melewati malam-malam gelapnya. Jika ia menghilang begitu saja, Putri akan hancur. Gadis itu tidak punya siapa pun untuk bersandar.
Aris meraih ponselnya sendiri dari laci meja. Jemarinya ragu-ragu di atas aplikasi pesan itu. Ia tahu ia sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam. Menutup akses ini berarti membiarkan Putri tenggelam sendirian dalam kesepiannya, namun melanjutkan ini berarti ia sedang membangun sebuah kebohongan besar yang jika meledak, akan menghancurkan mereka berdua tanpa sisa.
Ia melihat kembali pesan yang baru saja ia kirim. Pesan yang baru saja ia lihat muncul di layar ponsel Putri.
Haruskah ia menjauh sekarang, atau justru menggunakan identitas ini untuk melindungi Putri dari dunia yang menuntutnya terlalu banyak?
Aris menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memiliki jawaban yang logis. Ia hanya tahu satu hal: tatapan panik di mata Putri tadi bukan hanya sekadar takut karena ponselnya terjatuh, tapi ketakutan akan identitas rahasianya yang mulai terendus.
Aris mulai mengetik, namun kemudian menghapusnya lagi. Pilihan yang ia buat selanjutnya akan mengubah garis kehidupan mereka selamanya, baik di bawah lampu neon kampus maupun di bawah resonansi sunyi tengah malam. Dan Aris tidak yakin apakah ia siap menghadapi konsekuensinya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!