Lampu neon di ruang asisten dosen berkedip pelan, menciptakan irama monoton yang seolah mengejek detak jantungku. Di depanku, Aris duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang panjang dan bersih sibuk membolak-balik draf skripsiku. Wajahnya datar, seolah-olah dia dipahat dari batu pualam yang dingin. Tidak ada emosi, tidak ada celah.
"Struktur argumenmu di bab kedua ini masih agak... goyah, Putri," suaranya rendah, bariton yang selalu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi mahasiswi mana pun. "Kamu punya banyak data, tapi kamu seolah takut untuk menarik kesimpulan yang tajam. Kamu terlalu banyak bersembunyi di balik kutipan orang lain."
Aku meremas pinggiran map biru di pangkuanku hingga plastiknya berderit pelan. "Saya hanya ingin memastikan semuanya akurat, Kak Aris."
Aris mendongak. Di balik bingkai kacamata peraknya, matanya yang tajam menatapku lurus. "Akurasi itu penting, tapi kejujuran jauh lebih krusial. Kamu tidak perlu membangun benteng hanya untuk menyampaikan sebuah poin sederhana. Kadang, *kekosongan di antara kata-kata justru menyampaikan lebih banyak hal daripada kalimat yang dipaksakan.*"
Jantungku seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Kalimat itu. Pilihan kata itu.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir rasa pening yang tiba-tiba menyerang. Tadi malam, pukul 01.15, setelah aku menutup laptop dengan napas memburu dan rasa sepi yang menghimpit dada pasca menonton sebuah film yang tak seharusnya kuceritakan pada siapa pun, aku mengirim pesan pada Lentera. Aku mengeluh tentang betapa sulitnya mengekspresikan diri tanpa merasa te*******.
Lentera membalas: *"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Ingat, kekosongan di antara kata-kata justru menyampaikan lebih banyak hal daripada kalimat yang dipaksakan. Kamu hanya perlu belajar mendengarkan sunyi itu."*
"Putri? Kamu masih di sini?"
Suara Aris memecah lamunanku. Aku tersentak, menyadari bahwa aku telah menatapnya terlalu lamaβmungkin dengan ekspresi ngeri yang sulit kusembunyikan.
"I-iya, Kak. Saya mengerti," jawabku terbata. Aku segera menyambar drafku dari mejanya. "Saya akan memperbaikinya."
"Ada apa? Wajahmu pucat sekali," Aris sedikit memiringkan kepalanya. Gestur itu sangat kecil, hampir tidak terlihat, tapi bagiku itu terasa seperti guncangan hebat.
"Hanya... kurang tidur. Biasalah, tugas," aku memaksakan senyum tipis yang terasa kaku di wajahku. Aku bergegas berdiri, ingin segera keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa menyempit itu.
Sepanjang perjalanan pulang ke kos, pikiranku berkecamuk. Logika dan perasaanku sedang berperang hebat. Aris adalah perwujudan dari segala sesuatu yang kaku. Dia adalah pria yang memakai kemeja yang disetrika terlalu rapi, yang berbicara dengan diksi formal seolah-olah dia adalah kamus berjalan, dan yang tidak pernah terlihat tersenyum di koridor kampus. Dia membosankan. Dia adalah robot akademik yang hanya peduli pada margin kertas dan sitasi yang benar.
Sementara Lentera... Lentera adalah hangat. Lentera adalah sosok yang menemaniku di jam-jam paling rapuh, yang memahami sisi gelapku tanpa menghakimi. Lentera adalah orang yang bisa membuatku merasa diinginkan hanya melalui deretan teks di layar ponsel.
*Tidak mungkin mereka orang yang sama,* batinku sambil mengunci pintu kamar kos dengan tangan gemetar. *Itu hanya kebetulan. Kutipan itu mungkin populer di buku filsafat mana pun yang mereka berdua baca.*
Aku merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang mulai remang karena senja telah lewat. Aku merogoh saku, mengambil ponsel, dan membuka aplikasi pesan anonim itu. Jari-jariku menari di atas layar, ragu-ragu sejenak sebelum mengetik.
**Putri:** *Tadi ada seseorang yang mengatakan hal yang persis sama dengan apa yang kamu katakan semalam. Tentang kekosongan di antara kata-kata.*
Aku menunggu. Biasanya Lentera membalas dengan cepat jika hari sudah gelap.
*Ping.*
**Lentera:** *Oh ya? Mungkin itu pertanda bahwa semesta ingin kamu benar-benar meresapi maknanya. Atau mungkin, orang itu jauh lebih memperhatikanmu daripada yang kamu duga.*
Napas ditarik tajam. Kalimat terakhir itu terasa seperti belaian lembut sekaligus ancaman. Aku mulai mencari-cari kesamaan lain. Gaya mengetik Lentera selalu rapi. Dia menggunakan tanda baca dengan presisi yang hampir... obsesif. Dia tidak pernah menggunakan singkatan yang lazim dipakai anak muda. Dia selalu menggunakan titik di akhir kalimat, bahkan dalam obrolan sant**.
Sama seperti Aris yang selalu mengoreksi tanda koma di makalahku dengan tinta merah yang tajam.
"Nggak, nggak mungkin," bisikku pada kesunyian kamar. Aku bangkit dan menuju cermin, menatap pantulan diriku yang berantakan. Rambut sedikit kusut, mata dengan lingkaran hitam yang samar. "Aris itu menyebalkan. Dia kaku. Dia tidak punya jiwa seni atau kehangatan sama sekali. Lentera itu... berbeda."
Aku mencoba mengingat kembali interaksi Aris tadi sore. Cara dia memegang pulpen, cara dia memperbaiki posisi kacamatanya dengan jari tengah. Lalu aku membandingkannya dengan bayangan yang kubangun tentang Lenteraβseorang pria misterius dengan suara lembut dan tatapan penuh pengertian.
Pikiranku kembali ke sebuah det**l kecil. Tadi, di sudut meja Aris, aku melihat sebuah gantungan kunci kecil berbentuk siluet kucing hitam. Itu hal yang sangat tidak sesuai dengan kepribadiannya yang serius. Dan minggu lalu, Lentera pernah mengirimkan foto secangkir kopi hitam di sebuah kafe, dan di pinggir foto itu, samar-samar terlihat ekor kucing hitam yang sama.
Rasa dingin merayap di punggungku. Tanganku gemetar saat aku mengetik pesan berikutnya. Aku harus memastikan ini. Aku harus menghancurkan kecurigaan konyol ini agar aku bisa tidur dengan tenang.
**Putri:** *Tadi aku melihat gantungan kunci yang lucu di meja asisten dosenku. Bentuk kucing hitam. Apa kamu juga suka kucing?*
Aku menahan napas, menatap layar ponsel yang menyala di kegelapan. Menit demi menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Lentera yang biasanya responsif tiba-tiba menghilang.
Keheningan itu justru membuat kecurigaanku membengkak menjadi ketakutan yang nyata. Aku melempar ponselku ke atas bantal, seolah-olah benda itu baru saja menyengatku.
Tepat saat aku hendak melangkah ke kamar mandi untuk memba**h muka, ponselku bergetar. Satu notifikasi muncul di layar kunci. Jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
**Lentera:** *Lucu sekali kamu memperhatikan det**l sekecil itu, Putri. Tapi bukankah kamu seharusnya lebih fokus pada revisi bab duamu daripada mengamati barang-barang di meja orang lain?*
Aku jatuh terduduk di lant** yang dingin. Duniamu seolah runtuh seketika. Dia tahu. Dia tidak hanya tahu namaku, tapi dia tahu apa yang kami bicarakan di ruang asisten dosen sore tadi. Rahasia tergelapku, fantasi-fantasiku yang memalukan, segala kerapuhan yang kubagi dengan Lentera... semuanya berada di tangan pria yang paling kuhindari di dunia nyata.
Dan yang paling mengerikan adalah, dia baru saja mengakui kehadirannya tanpa benar-benar melepas topengnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!