Lampu meja belajar yang temaram adalah satu-satunya sumber cahaya di kamar itu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding setiap kali aku bergerak. Di layar laptop, kredit film baru saja selesai bergulir. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa seperti beban fisik yang menekan pundakkuβberat, dingin, dan menyesakkan. Ini adalah fase yang selalu aku benci: *the comedown*. Rasa bersalah yang samar mulai merayap, beradu dengan kekosongan yang entah mengapa justru terasa lebih lebar setelah aku mencoba mengisinya dengan pelarian visual tadi.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di atas bantal. Layarnya menyala, menerangi wajahku dengan cahaya biru yang tajam. Tanpa sadar, jempolku bergerak menuju aplikasi pesan itu. Akun anonim itu sudah menunggu di sana.
*Lentera.*
"Sudah selesai menontonnya?" pesan dari Lentera muncul, hampir seolah-olah dia bisa merasakan detak jantungku yang masih belum stabil.
Aku menarik napas panjang, aroma lavender dari *diffuser* di sudut ruangan tak banyak membantu menenangkan sarafku. "Sudah," ketikku singkat. "Tapi rasanya... aneh. Selalu aneh setelahnya."
"Aneh bagaimana, Putri?"
Aku merebahkan diri, menatap langit-langit kamar yang gelap. "Seperti aku baru saja mencoba meminum air laut untuk menghilangkan haus. Bukannya kenyang, aku malah merasa lebih kering."
Ada jeda beberapa detik. Ikon "typing" muncul dan hilang beberapa kali, membuat dadaku berdegup kencang.
"Karena yang kamu cari sebenarnya bukan apa yang ada di layar itu," tulis Lentera. "Kamu mencari rasa aman. Kamu ingin merasa dimiliki tanpa harus menanggung risiko ditolak di dunia nyata. Benar?"
Kata-kata itu menghantamku tepat di ulu hati. Aku bangkit duduk kembali, menyilangkan kaki di atas ka**r. Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana dia bisa membedah lapisan-lapisan defensif yang kupasang sedemikian rupa bahkan di depan cermin?
"Fantasi itu aman, Lentera," balasku, jemariku sedikit gemetar. "Di sana, tidak ada ekspektasi. Tidak ada IPK yang harus dijaga, tidak ada citra 'anak baik' yang harus dipertahankan. Di sana, aku hanya... aku."
"Dan apa yang kamu inginkan jika kamu tidak perlu menjadi 'mahasiswi teladan' itu?" tanya Lentera. Pertanyaan itu terasa begitu intim, lebih intim daripada adegan mana pun yang baru saja kusaksikan.
Aku ragu sejenak. Aku tidak pernah membicarakan ini dengan siapa pun. Namun, kegelapan malam dan anonimitas ini memberiku keberanian palsu. "Aku ingin seseorang yang bisa melihatku saat aku sedang hancur, dan dia tidak pergi. Aku ingin merasa... dilindungi. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku lelah harus selalu kuat sendirian."
"Rasa aman adalah fantasi terbesar bagi orang-orang seperti kita, ya?" balasnya. "Bukan tentang sentuhan fisik, tapi tentang seseorang yang tahu persis di mana letak luka-lukamu dan memilih untuk tetap menggenggam tanganmu di sana."
Aku merasa kerongkonganku tercekat. Air mata yang tak kuundang mulai menggenang di sudut mata. Lentera mulai bercerita tentang fantasinya sendiriβsesuatu yang lebih tentang kehadiran emosional daripada nafsu belaka. Dia berbicara tentang keheningan yang nyaman, tentang percakapan pukul tiga pagi yang tidak menghakimi, dan tentang bagaimana seseorang bisa menjadi 'rumah' bagi jiwa yang tersesat.
Semakin kami bicara, semakin aku merasa te*******. Bukan te******* dalam artian fisik yang biasa aku tonton, melainkan te******* secara emosional. Lentera seolah sedang mengupas kulitku selapis demi selapis, mengekspos daging dan saraf yang selama ini kusembunyikan di balik kemeja rapi dan kacamata tebal.
Tiba-tiba, rasa takut yang luar biasa menyergapku. Rasa malu yang tajam menusuk kesadaranku. Siapa orang ini? Kenapa aku memberikan kunci ke ruang bawah tanah jiwaku kepada orang asing di balik layar? Bagaimana jika dia sebenarnya menertawakanku? Atau lebih buruk, bagaimana jika dia mengenalku?
Aku menatap layar ponselku dengan ngeri. Aku merasa terlalu terbuka. Terlalu rentan. Refleks perlindunganku menendang keras. Aku harus pergi. Aku harus menghapus jejak ini sebelum semuanya terlambat.
Jemariku bergerak cepat menuju pengaturan akun. Tombol "Hapus Akun" berwarna merah itu seolah berkedip-kedip, menantangku. Satu klik, dan semua kejujuran memalukan ini akan hilang. Satu klik, dan aku akan kembali menjadi Putri yang sempurna, yang dingin, yang tidak butuh siapa-siapa.
Aku ragu. Jempolku menggantung di atas layar.
Tepat saat itu, sebuah notifikasi baru ma**k. Bukan dari aplikasi anonim, melainkan sebuah email pemberitahuan dari portal akademik kampus. Aku membukanya dengan linglung. Itu adalah balasan atas draf skripsiku yang kukirimkan kemarin sore.
*βAnalisisnya tajam, Putri. Tapi kamu terlalu banyak bersembunyi di balik teori. Cobalah untuk lebih jujur dengan suaramu sendiri di bab selanjutnya. Saya tahu kamu punya kapasitas lebih dari sekadar mengikuti teks.β*
Aku tertegun. Kalimat itu. Struktur kalimatnya. Ritmenya.
Aku kembali ke ruang obrolan dengan Lentera. Aku membaca ulang pesan terakhirnya: *"Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri, Putri. Kamu punya kapasitas untuk dicint** lebih dari sekadar citra yang kamu buat."*
Duniaku seolah berputar. Jantungku berpacu begitu kencang hingga telingaku berdenging. Aku melempar ponselku ke ujung ka**r seolah benda itu baru saja menyetrumku. Kalimat itu terlalu mirip. Terlalu identik untuk dianggap sebagai kebetulan.
Aku bangkit dan berjalan menuju jendela, menatap kegelapan asrama di seberang sana. Di salah satu jendela di gedung asrama putra, sebuah lampu masih menyala. Aku teringat wajah asisten dosenku, Aris. Wajahnya yang selalu kaku, suaranya yang datar saat mengoreksi tugasku, dan tatapan matanya yang tajam di balik kacamata frame hitamnya.
Mungkinkah? Tidak, itu tidak ma**k akal. Aris membenciku. Dia selalu memberikan kritik paling pedas padaku.
Aku kembali meraih ponselku, bukan untuk menghapus akun, melainkan untuk mengetik sesuatu yang nekat. Sesuatu yang akan membuktikan apakah kecurigaanku benar atau aku hanya sedang berhalusinasi karena kurang tidur.
"Lentera," ketikku dengan tangan dingin yang berkeringat. "Apa kamu pernah merasa bahwa orang yang paling kita benci di dunia nyata adalah orang yang paling kita butuhkan di dunia maya?"
Aku menahan napas, menanti titik-titik bergerak itu muncul kembali. Detik-detik berlalu seperti jam yang berdetak lambat. Kemudian, layar itu menyala.
"Mungkin," balas Lentera. "Atau mungkin, kita hanya membenci mereka karena mereka melihat bagian dari diri kita yang paling ingin kita sembunyikan."
Di bawah cahaya rembulan yang menembus celah gorden, aku menyadari satu hal: aku tidak lagi merasa aman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena malam ini, garis pembatas itu baru saja retak.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!