Udara di Lant** 80 tidak berbau seperti logam berkarat atau keringat manusia yang berjejal. Di sini, udara terasa tipis, dingin, dan membawa aroma samar lavender sintetis yang menusuk hidungβsebuah kemewahan yang hampir membuat Zaki mual. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding porselen putih yang meng***t, membiarkan bayangannya menyatu dengan lekuk dekorasi geometris yang minimalis.
"Satu menit sebelum sensor termal berputar kembali," bisik Maya melalui alat komunikasi di telinga Zaki. Suaranya terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik, tapi ketegangannya tetap tertangkap jelas. "Zaki, jika kau tertangkap di sana, aku tidak bisa menjamin pintu lift darurat akan terbuka lagi."
Zaki tidak menjawab. Matanya tertuju pada koridor luas di depannya. Lant** ini adalah "Gilded Tier", tempat para petinggi, administrator, dan keluarga-keluarga yang mengaku sebagai keturunan langsung dari para pendiri Menara Langit tinggal. Di bawah sana, di Lant** 10, orang-orang berkelahi demi sepotong protein daur ulang. Di sini, air mengalir di dinding-dinding kaca sebagai dekorasi, seolah-olah sumber daya itu tidak terbatas.
Zaki melangkah cepat, sepatunya yang kusam menciptakan kontras yang memalukan di atas lant** marmer putih. Ia mencapai sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu jati asliβsesuatu yang seharusnya sudah punah berabad-abad lalu. Dengan gerakan tangkas yang ia pelajari dari tahun-tahun bertahan hidup di lorong ventilasi, Zaki menempelkan dekoder yang diberikan Maya ke panel akses.
*Klik.*
Pintu terbuka tanpa suara. Zaki menyelinap ma**k dan langsung disambut oleh pemandangan yang menghentikan detak jantungnya. Ruangan itu adalah sebuah balkon observasi pribadi yang sangat luas. Di tengah ruangan, melayang sebuah hologram raksasa Menara Langit, lengkap dengan titik-titik cahaya yang bergerak.
Namun, bukan hologram itu yang menarik perhatiannya. Di sudut ruangan, duduk seorang pria tua dengan jubah sutra abu-abu, membelakangi pintu. Ia sedang menyesap cairan merah dari gelas kristal sambil menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan gumpalan awan di bawah mereka.
"Kau terlambat dari jadwal, Nak," suara pria itu berat dan tenang, sama sekali tidak terkejut.
Zaki mencabut belati kecil dari balik ikat pinggangnya, jemarinya memutih karena genggaman yang terlalu kencang. "Siapa kau?"
Pria itu berputar perlahan. Wajahnya bersih, tanpa kerutan yang biasanya menghiasi wajah penghuni lant** bawah akibat stres dan radiasi. "Namaku Aris Thorne. Aku adalah pengawas distribusi nutrisi untuk sektor 70 sampai 90. Dan kau... kau adalah tikus kecil yang berhasil memanjat dari lubang pembuangan di Lant** 100."
Zaki mendesis, langkahnya maju satu tindak. "Kau tahu? Kau tahu bahwa Lant** 100 hanyalah tempat jagal? Kau tahu bahwa 'Kenaikan' itu bohong?"
Aris terkekeh, suara yang terdengar lebih seperti gesekan amplas daripada tawa manusia. Ia meletakkan gelasnya di meja kerja yang dipenuhi layar monitor aktif. Salah satu layar menampilkan grafik populasi, dengan label yang membuat perut Zaki melilit: *Yield Potential* (Potensi Hasil Panen).
"Bohong adalah kata yang kasar, Zaki," Aris berdiri, berjalan mendekati jendela kaca. "Kami menyebutnya 'Keseimbangan'. Menara ini memiliki kapasitas terbatas. Valthar memberi kita teknologi, udara, dan keamanan. Sebagai imbalannya, mereka meminta bagian mereka. Itu adalah kontrak yang adil."
"Adil?" Zaki berteriak, suaranya bergema di ruangan yang steril itu. "Kalian mengirim ribuan orang untuk dimakan! Teman-temanku, orang tua yang percaya mereka akan pergi ke surga... mereka hanya nutrisi untuk monster-monster itu!"
Aris berbalik, matanya yang dingin menatap Zaki dengan rasa kasihan yang merendahkan. "Dan menurutmu, bagaimana kami bisa memiliki kebun hidroponik di lant** ini? Bagaimana kami memiliki obat-obatan untuk memperpanjang usia? Valthar tidak hanya mengambil, mereka memberi kepada mereka yang 'berguna'. Tanpa pengorbanan di Lant** 100, seluruh menara ini akan mati dalam satu bulan karena kelaparan."
Zaki melihat ke arah layar monitor di belakang Aris. Di sana, terdapat rekaman *live* dari palka pembuangan di Lant** 100 yang baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu. Ia melihat bercak darah yang masih segar di dinding logam. Para elit ini tidak hanya tahu; mereka adalah mandornya. Mereka adalah peternak yang menggiring domba-domba mereka menuju pisau jagal demi sisa makanan dari meja Valthar.
"Kau bisa bergabung dengan kami, Zaki," Aris mengulurkan tangan, nadanya berubah menjadi bujukan yang halus. "Kemampuanmu menavigasi struktur menara sangat luar biasa. Kau mencapai Lant** 100 dan kembali hidup-hidup. Valthar menghargai spesimen yang kuat. Kau tidak perlu lagi mencuri makanan atau tidur di antara pipa-pipa panas. Kau bisa menjadi Pengawas Elit. Kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri."
Zaki menatap tangan yang terulur itu. Tangan yang bersih, yang tidak pernah merasakan kasarannya kerja fisik, namun berlumuran darah yang tak terlihat. Ia teringat wajah-wajah di Lant** Bawahβanak-anak yang menatap langit dengan penuh harapan, percaya bahwa suatu hari mereka akan "naik".
"Aku lebih suka mati sebagai manusia di lumpur," desis Zaki, suaranya rendah dan penuh racun, "daripada hidup sebagai an**** peliharaan alien di istana kaca ini."
Wajah Aris mengeras. Keramahannya menguap seperti embun di bawah sinar matahari yang kejam. "Sayang sekali. Padahal kau punya potensi."
Aris menekan sebuah tombol di bawah meja kerjanya. Alarm merah mulai meraung di seluruh Lant** 80, memecah kesunyian yang mencekam.
"Zaki! Keluar dari sana sekarang!" suara Maya berteriak di telinganya. "Pa**kan keamanan Enforcer sedang menuju posisimu! Mereka tidak menggunakan peluru bius, Zaki. Mereka punya perintah untuk melenyapkan siapa pun yang tahu!"
Zaki melirik Aris yang kini tersenyum tipis, lalu menatap jendela besar di belakang pria itu. Di balik kaca itu, jauh di bawah sana, tersembunyi sebuah dunia yang Aris dan kawan-kawannya katakan telah hancur, namun Zaki telah melihat secercah warna hijau dari lubang palka di atas.
Tanpa peringatan, Zaki tidak lari ke arah pintu keluar. Ia justru berlari kencang ke arah Aris, bukan untuk menyerangnya, melainkan untuk meraih sebuah tabung data perak yang tergeletak di mejaβarsip frekuensi kontrol gravitasi menara yang sempat disebutkan Maya sebagai kunci untuk menjatuhkan sistem ini.
"Tangkap dia!" Aris berteriak saat pintu ganda terpelanting terbuka dan sepa**kan pria berseragam hitam dengan helm taktis menyerbu ma**k.
Zaki melakukan lompatan akrobatik melewati sofa sutra, menggenggam tabung data itu di satu tangan dan belatinya di tangan lain. Peluru laser pertama menghantam lant** tepat di belakang tumitnya, melelehkan marmer putih menjadi cairan hitam yang berasap.
"Maya, siapkan protokol darurat," napas Zaki memburu saat ia berlari menuju balkon luar. "Aku tidak akan keluar lewat pintu depan."
"Apa maksudmu? Zaki, itu ketinggian delapan puluh lant**!"
Zaki tidak berhenti. Ia melihat ke bawah, ke arah kegelapan yang menganga di luar struktur menara, lalu kembali ke arah para pengejarnya yang semakin dekat. Ia tidak punya pilihan. Kebenaran ini terlalu berat untuk dipikul sendiri, dan jika ia harus jatuh untuk menyebarkannya, maka biarlah ia jatuh sebagai percikan yang memulai kebakaran.
Dengan satu teriakan penuh amarah, Zaki melompat melintasi pagar balkon, terjun bebas ke dalam pelukan awan yang dingin.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!