Udara di Lant** 85 beraroma tajam, perpaduan antara ozon dan antiseptik yang menusuk pangkal hidung. Berbeda dengan bau keringat dan minyak apak di lant** bawah, di sini segalanya terasa terlalu bersih—sebuah kebersihan yang tidak alami, yang justru membuat bulu kuduk Zaki berdiri. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding koridor yang dingin, material metalik yang memantulkan cahaya putih pucat dari lampu-lampu LED di langit-langit.
"Zaki, kau mendengarku?" Suara Maya terdengar samar melalui earpiece, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik di sektor ini. "Belok kiri di persimpangan depan. Ada sensor termal di sana, tapi aku sudah mema**kkan *loop* video sepuluh detik. Kau punya waktu sempit."
Zaki tidak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas panjang yang tertahan, mencoba menenangkan debar jantungnya yang memukul-mukul rongga dada seperti palu godam. Sepatu botnya yang aus hampir tidak bersuara saat ia berlari kecil menyeberangi lorong. Setiap bayangan yang bergerak di sudut matanya terasa seperti ancaman, seolah-olah dinding-dinding ini memiliki mata yang terus mengawasinya.
Ia mencapai pintu berat dengan simbol heksagon—lambang otoritas Valthar yang diklaim sebagai simbol 'keabadian' oleh para pengkhianat manusia. Zaki menempelkan perangkat peretas yang diberikan Maya ke panel kontrol. Lampu panel berkedip merah, lalu berubah menjadi hijau dibarengi dengan suara desis hidrolik yang halus.
Pintu itu bergeser terbuka, dan hal pertama yang menghantam Zaki bukanlah penjaga, melainkan suhu yang mendadak turun drastis. Ia melangkah ma**k, dan langkahnya seketika terhenti.
"Maya... aku sudah di dalam," bisik Zaki. Suaranya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena apa yang terbentang di hadapannya.
Ruangan itu luasnya hampir menyerupai hanggar pesawat, namun dipenuhi oleh ribuan tangki silinder kaca yang menjulang hingga ke langit-langit. Setiap tangki berpendar dengan cahaya hijau neon yang redup, memberikan nuansa horor yang mencekam pada ruangan yang remang-remang itu. Di dalam cairan kental tersebut, sosok-sosok manusia mengambang dalam posisi janin.
Zaki berjalan mendekat ke salah satu tangki terdekat. Tangannya yang kasar menyentuh permukaan kaca yang terasa hangat. Di dalamnya, seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak damai seolah sedang bermimpi indah, terhubung dengan puluhan selang transparan yang menancap di punggung, leher, dan pergelangan tangannya.
"Ini bukan ruang medis, Maya," desis Zaki, matanya membelalak saat melihat selang-selang itu mulai berdenyut. "Mereka... mereka sedang dihancurkan."
"Apa maksudmu, Zaki? Data menunjukkan itu adalah unit stabilisasi," suara Maya terdengar cemas.
"Bukan. Kau harus lihat ini sendiri," Zaki menggeser pandangannya ke bagian bawah tangki. Di sana terdapat sebuah katup pembuangan yang menuju ke pipa-pipa besar di lant**. Ia melihat cairan merah pekat—darah yang telah bercampur dengan zat kimia tertentu—mengalir keluar dari tubuh pria itu, perlahan-lahan melarutkan jaringan kulit dan dagingnya hingga menjadi bubur organik cair.
Pria itu tidak mati seketika. Dadanya masih naik turun dengan ritme yang sangat lambat. Valthar menjaga mereka tetap hidup saat proses ekstraksi berlangsung agar nutrisi yang dihasilkan tetap 'segar'.
Zaki merasakan mual yang hebat melonjak ke tenggorokannya. Ia memalingkan wajah, namun matanya justru tertumpu pada label di kaki tangki. Sebuah kode identitas dan tanggal 'Kenaikan'. Pria ini adalah salah satu dari mereka yang merayakan keberhasilannya mencapai Lant** 100 bulan lalu. Zaki ingat sorak-sorai di lant** bawah saat pengumuman nama-nama yang 'terpilih' berkumandang. Mereka menangis bahagia, mengira mereka menuju surga.
"Surga itu tidak ada," gumam Zaki, suaranya parau. "Kita hanya gandum di ladang mereka. Dan sekarang adalah masa panen."
Ia berjalan lebih jauh ke tengah ruangan, melewati barisan tangki yang tak berujung. Di sini, ia melihat tahap yang lebih mengerikan. Beberapa tangki hanya berisi cairan kuning keruh dengan sisa-sisa tulang belulang yang belum sepenuhnya larut. Di ujung ruangan, terdapat tangki-tangki raksasa berisi nutrisi cair yang sudah dimurnikan, siap untuk dikirim melalui pipa-pipa vertikal menuju dek atas—langsung ke meja makan ras Valthar.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman logam terdengar dari balik deretan tangki di sebelah kanan. Zaki refleks mencabut belati pendeknya dan merendahkan tubuh.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara tertahan.
Seorang pria dengan seragam putih yang sudah noda darah muncul dari balik bayang-bayang. Ia bukan alien, ia manusia—seorang teknisi laboratorium. Namun, matanya kosong, tampak mati di dalam. Pria itu memegang sebuah tablet digital dan memandang Zaki dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa terkejut.
"Kau tidak seharusnya berada di sini, Pemanjat," ucap pria itu datar. "Kau merusak kualitas nutrisinya jika kau membawa adrenalin dan stres ke dalam ruangan ini. Itu membuat rasanya jadi pahit."
Zaki merasa darahnya mendidih. "Kau membantu mereka? Kau mengolah bangsamu sendiri menjadi makanan?"
Teknisi itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mengerikan daripada wajah alien Valthar mana pun. "Kami menyebutnya efisiensi. Bumi sudah mati, Zaki. Ini adalah satu-satunya cara agar spesies kita tetap berguna. Jika kita tidak menjadi budak, kita menjadi makanan. Setidaknya di sini, mereka mati dalam keadaan merasa sedang menuju Tuhan."
Zaki melangkah maju, ujung belatinya berkilat di bawah cahaya hijau. "Aku akan meruntuhkan tempat ini sampai ke dasarnya."
"Oh, kau bebas mencoba," pria itu menekan sebuah tombol di tabletnya. Pintu-pintu di ujung ruangan mulai mengunci secara otomatis, dan suara sirine bernada tinggi mulai m****akkan telinga. "Tapi sayangnya, prosedur pembersihan otomatis baru saja diaktifkan. Dan kau, temanku, memiliki massa otot yang c**up baik untuk menjadi a**pan protein kelas satu."
Zaki mendengar suara desis gas dari langit-langit. Di dalam tangki-tangki, tubuh-tubuh yang mengambang itu mulai bergetar hebat saat mesin pengaduk di dalamnya berputar lebih cepat. Zaki menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu ke arah teknisi yang kini tertawa pelan sebelum menghilang ke balik pintu rahasia.
"Maya! Buka pintunya! Maya!" teriak Zaki, namun yang terdengar di telinganya hanyalah statis. Sambungan terputus.
Gas berwarna ungu mulai memenuhi ruangan, dan dari balik kaca-kaca tangki yang bergetar, mata-mata yang tadinya terpejam kini terbuka lebar, menatap Zaki dengan sisa-sisa penderitaan yang tak terkatakan. Zaki terperangkap di dalam dapur raksasa, dan tungku pembakarnya baru saja dinyalakan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!