Udara di Lant** 95 tidak terasa seperti oksigen yang biasa dihirup manusia; ia terasa dingin, tipis, dan berbau logam tajam, seolah-olah setiap napas yang ditarik Zaki sedang mengikir paru-parunya dari dalam. Di sini, arsitektur Menara Langit telah berubah. Tidak ada lagi dinding beton kasar atau kabel-kabel malang melintang seperti di lant** bawah. Semuanya terbuat dari material komposit berwarna obsidian yang memantulkan bayangan mereka dengan distorsi yang aneh.
"Zaki, pelankan langkahmu," bisik Maya. Suaranya gemetar, tertutup oleh deru mesin raksasa yang bergetar di balik dinding.
Zaki menoleh, matanya menyipit di balik kacamata pelindung yang retak. "Kita tidak punya waktu, Maya. Sensor di Lant** 94 tadi pasti sudah mengirim sinyal. Jika kita tidak mencapai gerbang utama dalam lima menit, palka ini akan terkunci permanen."
Zaki mencengkeram erat tali ranselnya. Tangannya kapalan, penuh luka sayatan kecil yang sudah mengering. Baginya, setiap langkah ke atas adalah bentuk pembangkangan terhadap takdir yang telah digariskan oleh para Valthar. Namun, skeptisisme lamanya sesekali muncul—bisakah ia benar-benar mempercayai Maya? Perempuan ini tahu terlalu banyak tentang teknologi alien. Bagaimana jika ini semua adalah jebakan lain?
"Lihat itu," Maya menunjuk ke ujung lorong yang panjangnya hampir seratus meter. Di sana berdiri sebuah pintu melengkung dengan pendaran cahaya biru pucat di tepinya. Gerbang Lant** 95. Satu-satunya jalan menuju pusat kendali gravitasi sebelum mencapai puncak hampa di atas sana.
Langkah mereka menggema di koridor yang sunyi. Tiba-tiba, suara desis mekanis terdengar dari langit-langit. Zaki membeku. Instingnya sebagai pemanjat liar yang terbiasa menghindari patroli keamanan berteriak kencang.
"Tiarap!" teriak Zaki.
Ia menyambar bahu Maya dan menariknya ke lant** tepat saat seberkas cahaya merah terang membelah udara di tempat kepala Maya berada sedetik yang lalu. Sebuah menara laser otomatis muncul dari celah rahasia di langit-langit, bentuknya ramping dan mematikan seperti jarum perak yang melayang.
"Lari!" Zaki mendorong Maya ke arah pilar obsidian terdekat.
Mereka bergerak dalam zig-zag, tetapi sistem keamanan Lant** 95 jauh lebih canggih daripada apa pun yang pernah mereka hadapi. Laser-laser itu tidak menembak secara acak; mereka memprediksi gerakan. Zaki berhasil meluncur di bawah kilatan panas yang menghanguskan ujung rambutnya, bau ozon memenuhi indranya.
"Zaki, di sebelah kananmu!" Maya berteriak sambil melemparkan sebuah perangkat EMP kecil ke arah salah satu sensor.
Ledakan kecil terjadi, melumpuhkan satu menara laser, tetapi sebuah tembakan balasan meluncur dari sudut yang tak terduga. Zaki melihatnya dalam gerakan lambat—sinar biru pucat yang tidak meledak, melainkan menembus.
*Zzap!*
Suara itu singkat, diikuti oleh bunyi daging yang terbakar. Maya terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam dinding dengan keras sebelum merosot ke lant**.
"Maya!"
Zaki tidak peduli lagi dengan tembakan berikutnya. Ia berlari sekuat tenaga, melompat melewati garis-garis merah yang mematikan, dan menyambar tubuh Maya, menyeretnya ke balik ceruk dinding yang c**up dalam untuk berlindung.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Zaki saat ia melihat kondisi Maya. Napas perempuan itu pendek dan tersengal. Sebuah lubang kecil namun dalam menganga di perut bagian sampingnya. Tidak ada darah merah yang memancar deras, karena laser itu langsung mengauterisasi luka, menghanguskan jaringan di sekitarnya hingga menjadi hitam legam.
"Sial... jangan sekarang..." Zaki menekan luka itu dengan tangannya yang gemetar. "Maya, buka matamu. Kamu bilang kamu tahu cara membuka pintu itu!"
Maya meringis, wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi seputih kertas. Keringat dingin membasahi dahinya. "Zaki... tabletnya... di tas..."
Zaki merogoh tas Maya dengan panik, membuang beberapa alat teknis hingga ia menemukan perangkat kontrol yang dimaksud. Ia melihat kembali ke koridor. Gerbang itu hanya berjarak dua puluh meter lagi, tetapi dua menara laser masih aktif, berputar mencari target.
"Aku akan membawamu," kata Zaki tegas. Ia mencoba mengangkat Maya ke punggungnya, tetapi Maya mengerang kesakitan, tubuhnya lemas seperti boneka kain.
"Tinggalkan... tinggalkan aku di sini," bisik Maya, suaranya nyaris hilang ditelan dengungan mesin. "Ambil tabletnya. Kodenya... 0-9-9-0. Kamu harus... mematikan gravitasinya, Zaki. Bumi... ingatkan mereka tentang Bumi..."
Zaki terdiam. Kenangan sebagai yatim piatu di lant** terbawah membayang—bagaimana ia selalu ditinggalkan, dan bagaimana ia belajar bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan hanya memikirkan diri sendiri. Secara pragmatis, Maya adalah beban sekarang. Jika ia berlari sendiri, ia punya peluang 80% untuk sampai ke gerbang. Jika ia membawa Maya, peluang itu turun di bawah 10%.
Ia menatap mata Maya yang mulai kehilangan fokus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, skeptisisme Zaki kalah oleh sesuatu yang lebih kuat. Ia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang selamat hanya untuk mendapati dirinya sendirian di ruang hampa.
"Aku tidak menerima perintah dari teknisi yang sekarat," geram Zaki, meski matanya berkaca-kaca.
Zaki merobek lengan bajunya untuk membalut luka Maya lebih erat, lalu ia mengalungkan lengan Maya ke lehernya. Ia mengambil sebuah tabung oksigen kecil dari sabuknya dan menghirup isinya dalam satu tarikan panjang, memompa adrenalin ke seluruh sistem tubuhnya.
"Pegang erat, Maya. Kita akan meruntuhkan tempat ini bersama-sama."
Zaki berdiri, menggendong Maya di punggungnya. Ia tidak lagi berlari dengan teknik; ia berlari dengan amarah. Sinar laser mulai mengejarnya, membakar lant** di belakang tumitnya. Satu tembakan menyerempet bahu Zaki, bau kulit terbakar menyengat hidungnya, tapi ia tidak berhenti. Setiap langkah terasa seperti beban ribuan ton menindih kakinya.
Ia mencapai panel kendali gerbang. Dengan tangan yang bersimbah darah dan keringat, ia menekan kode pada tablet Maya. *0-9-9-0.*
*Klik.*
Pintu obsidian raksasa itu bergeser perlahan, mengeluarkan desisan udara yang sangat besar. Namun, di balik pintu itu, Zaki tidak menemukan ruang kendali yang ia bayangkan.
Alih-alih panel instrumen, ia melihat sebuah ruangan luas dengan lant** kaca transparan. Di bawah sana, ribuan manusia dalam kapsul-kapsul bercahaya tampak seperti embrio yang siap dipanen. Dan di tengah ruangan, berdiri seorang pria berpakaian seragam putih bersih—seorang Pengawas Manusia—yang sedang memegang komunikator, menatap Zaki dengan senyum dingin yang merendahkan.
"Tepat waktu, Zaki," ucap pria itu. "Kami baru saja akan memulai proses pemurnian untuk lant** bawah. Letakkan gadismu, dan mari kita bicara tentang masa depanmu sebagai bagian dari kami."
Zaki mengeratkan pegangannya pada Maya yang mulai tak sadarkan diri, sementara di belakang mereka, suara langkah kaki pa**kan keamanan Valthar mulai mendekat dengan cepat. Gerbang di depan mereka adalah harapan, tetapi juga bisa menjadi jebakan terakhir.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!