Paru-paruku terasa seolah terbakar, setiap tarikan napas mengirimkan rasa perih yang menusuk hingga ke tulang rusuk. Jemariku, yang kini nyaris mati rasa dan berlumuran darah kering, mencengkeram pinggiran logam dingin dari palka ventilasi terakhir di ujung lorong teknis. Aku telah merangkak melewati pipa-pipa panas dan sistem pembuangan limbah selama berjam-jam, menghindari sensor patroli penjaga elit yang senjatanya bisa menguapkanku dalam sekejap.
Dengan satu hentakan terakhir yang menguras sisa tenaga, aku mendorong penutup besi itu. Bunyi dentang logam yang beradu dengan lant** bergema di ruangan yang sunyi senyap. Aku terjatuh, mendarat dengan posisi telungkup di atas permukaan lant** yang terasa sehalus kaca.
Bau udara di sini berbeda. Bukan bau keringat dan logam berkarat seperti di Lant** Bawah, juga bukan bau parfum sintetis menyengat milik para bangsawan di Lant** 80. Udara di sini berbau ozon, dingin, dan steril. Terlalu steril.
Aku bangkit perlahan, lututku gemetar. Mataku berusaha menyesuaikan diri dengan pencahayaan remang yang berasal dari pilar-pilar cahaya ungu kebiruan di tengah ruangan.
"Selamat datang di surga, Zaki," bisikku pada diri sendiri dengan nada getir yang hampir terdengar seperti tawa putus asa.
Namun, tidak ada taman surgawi. Tidak ada nyanyian malaikat atau gerbang emas yang dijanjikan para tetua di hari Kenaikan. Lant** 99 adalah sebuah aula bundar yang sangat luas, namun kosong melompong. Dinding-dindingnya melengkung, terbuat dari material hitam legam yang tampak menyerap cahaya. Di tengah ruangan, terdapat serangkaian konsol kontrol yang tidak mirip dengan teknologi manusia mana pun yang pernah kulihat. Bentuknya asimetris, dengan permukaan yang berdenyut pelan seolah-olah benda itu bernapas.
Aku melangkah mendekat, langkah sepatuku menciptakan gema yang menghantui. Saat tanganku hampir menyentuh permukaan konsol yang bercahaya, sebuah getaran rendah merambat di bawah kakiku. Secara otomatis, dinding di depanku mulai bergeser, terlipat ma**k ke dalam dirinya sendiri dengan mekanisme yang begitu halus hingga hampir tanpa suara.
Detik itu juga, seluruh keberanian yang kupupuk selama pendakian ini rontok.
Di balik dinding itu, tidak ada Lant** 100. Tidak ada atap. Yang ada hanyalah sebuah jendela raksasaβsebuah palka pembuangan transparan yang menghadap langsung ke arah kehampaan kosmis.
Aku mematung. Di hadapanku, kegelapan abadi terbentang luas, dihiasi oleh titik-titik bintang yang tak terhitung jumlahnya. Dan di sana, menggantung seperti permata yang terlupakan, adalah sebuah bola raksasa berwarna biru kehijauan yang diselimuti awan putih.
Bumi.
"Itu... tidak mungkin," gumamku. Napasku tertahan di tenggorokan. Selama ini kami diajarkan bahwa Bumi adalah neraka yang sudah hangus, tempat yang tidak lagi bisa menampung kehidupan. Tapi dari sini, dari ketinggian yang memuakkan ini, dunia itu terlihat begitu hidup. Begitu murni.
Pandanganku beralih ke bawah jendela, ke arah mekanisme palka raksasa yang berada tepat di bawah posisi yang seharusnya menjadi Lant** 100. Di sana, aku melihat deretan tabung-tabung besar yang terhubung ke ruang hampa udara. Label pada layar konsol di depanku tiba-tiba berganti, menerjemahkan simbol-simbol aneh itu ke dalam bahasa manusia melalui sistem otomatis menara.
*JADWAL PANEN: SIKLUS KE-12.*
*STATUS NUTRISI: MATANG.*
*KAPASITAS PENGIRIMAN: 500 UNIT MANUSIA.*
Darahku mendadak dingin. Aku menyentuh layar itu, menggeser data yang muncul dengan tangan gemetar. Gambar-gambar munculβrekaman dari "Upacara Kenaikan" sebulan yang lalu. Aku melihat tetangga lamaku, Pak Tua B**m, tersenyum lebar saat melangkah ma**k ke dalam cahaya di Lant** 100, percaya bahwa dia akan beristirahat dalam damai. Namun, rekaman itu berlanjut. Begitu pintu tertutup, bukan taman yang mereka temukan, melainkan ruang vakum yang menyedot mereka ke dalam mesin penggiling raksasa sebelum akhirnya dikemas ke dalam tabung-tabung energi.
Mereka bukan diselamatkan. Mereka sedang diproses.
Lant** 100 bukan tempat tujuan. Itu adalah corong tempat makan bagi sesuatu yang berada di luar sana.
"Jadi, ini rahasianya," suara itu muncul dari kegelapan di sudut ruangan, membuatku tersentak dan segera meraih belati kecil di pinggangku.
Seorang pria keluar dari bayang-bayang. Dia mengenakan jubah putih bersih dengan emblem emas berbentuk mata satuβseragam Pengawas Tinggi. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya menatapku dengan tatapan kasihan yang membuatku ingin muntah.
"Kau seharusnya tidak berada di sini, Zaki," ucapnya tenang, seolah kami hanya sedang berpapasan di pasar. "Hanya sedikit orang yang punya nyali untuk memanjat lewat pipa pembuangan limbah. Kau punya potensi yang sia-sia."
"Apa yang kalian lakukan pada mereka?" suaraku parau, penuh amarah yang tertahan. "Kalian memberikan mereka harapan, hanya untuk menjadikan mereka makanan?"
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Harapan adalah bumbu yang membuat daging manusia tetap segar, Zaki. Tanpa harapan, kalian akan layu dan pahit karena stres. Valthar lebih suka nutrisi yang dihasilkan dari rasa syukur."
Dia melangkah maju, tangannya terbuka seolah ingin memelukku. "Tapi kau berbeda. Kau berhasil sampai ke sini dengan kekuatanmu sendiri. Kau adalah spesimen unggul. Kami bisa memberimu posisi, tempat di mana kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan hari esok. Kau bisa menjadi gembala, bukan lagi domba."
Aku mundur selangkah, mataku melirik ke arah konsol kendali dan jendela besar di belakangku. Pikiranku berputar cepat. Di bawah sana, ribuan orang masih mengantre untuk "diselamatkan". Di belakangku, Bumi yang hijau memanggil. Dan di depanku, pengkhianat ini menawarkan kenyamanan di atas tumpukan mayat bangsaku sendiri.
"Bagaimana jika aku memilih untuk meruntuhkan seluruh kandang ini?" tantangku, jemariku mulai meraba-raba tombol darurat di konsol tanpa dia sadari.
Senyum pria itu menghilang, digantikan oleh sorot mata sedingin ruang hampa di luar sana. "Maka kau akan belajar bahwa di menara ini, gravitasi adalah satu-satunya hukum yang tidak bisa kau lawan."
Tiba-tiba, alarm merah meraung di seluruh ruangan. Lant** di bawah kakiku mulai bergetar hebat, dan dari langit-langit, sensor alien mulai membidik tepat ke arah jantungku. Pria itu menghilang di balik pintu otomatis yang tertutup rapat, meninggalkanku terjebak di ruang kendali utama yang kini mulai kehilangan tekanan udaranya.
Aku harus bertindak sekarang, atau aku akan menjadi hidangan pembuka berikutnya bagi mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!