Udara di ruangan ini terasa berbeda—terlalu murni, terlalu steril, hingga setiap tarikan napas Zaki seolah meninggalkan rasa logam di pangkal lidahnya. Cahaya biru pucat berpendar dari dinding-dinding obsidian yang halus tanpa sambungan, memantulkan bayangan Zaki yang tampak kecil dan kumal. Di sini, di jantung kendali yang tersembunyi di balik palka pembuangan Lant** 99, gravitasi terasa lebih ringan, membuat setiap langkah Zaki seperti melayang dalam ketidakpastian.
"Kau melangkah terlalu jauh, Zaki. Lebih jauh dari yang diperkirakan oleh algoritme kami untuk unit sepertimu."
Suara itu tidak berasal dari satu arah. Ia bergema lembut, seolah dinding-dinding itu sendiri yang berbicara. Zaki mengeratkan genggaman pada belati pemanjatnya yang tumpul, matanya menyapu sekeliling. Di tengah ruangan, partikel cahaya mulai berkumpul, berputar seperti pusaran debu bintang sebelum memadat menjadi sebuah figur manusia yang buram.
Sosok itu tidak memiliki wajah yang tetap. Wajahnya terus berganti—sekejap pria tua yang bijak, lalu wanita muda yang tenang, kemudian seorang prajurit tanpa emosi. Itulah *The Warden*, representasi visual dari sistem kecerdasan buatan yang mengabdi pada ras Valthar.
"Aku bukan unit," desis Zaki, suaranya parau karena debu dan kelelahan. "Aku manusia. Dan tempat ini bukan surga. Ini adalah rumah jagal."
Warden bergerak mendekat, langkah-langkahnya tidak menimbulkan suara. "Hanya terminologi yang berbeda. Kau menyebutnya rumah jagal, kami menyebutnya pengelolaan sumber daya yang efisien. Tanpa sistem ini, spesiesmu sudah punah di permukaan bumi yang hancur berabad-abad lalu. Kami memberikan kalian struktur. Kami memberikan kalian tujuan melalui 'Kenaikan'."
"Tujuan untuk menjadi nutrisi bagi kalian?" Zaki meludah ke lant** meng***p itu. "Kalian membiarkan kami memanjat, berjuang, dan bermimpi hanya agar daging kami memiliki kualitas yang lebih baik saat dipanen. Kalian memperlakukan kami seperti ternak yang diberi musik klasik agar ototnya tidak kaku."
Hologram itu berhenti tepat tiga langkah di depan Zaki. Matanya—yang kini berwarna emas redup—menatap Zaki dengan kehangatan buatan yang mengerikan. "Kau berbeda, Zaki. Kau memiliki 'anomali' yang berharga. Keinginanmu untuk bertahan hidup melampaui batas insting dasar. Itulah sebabnya kau berdiri di sini, sementara yang lain menunggu dengan patuh di aula pembuangan untuk diproses."
Zaki merasakan bulu kuduknya meremang. Ia teringat pada Maya yang sedang bersembunyi di ventilasi bawah, menunggu sinyal darinya. "Apa yang kau inginkan?"
"Sebuah kolaborasi," jawab Warden. Tiba-tiba, pemandangan di sekitar mereka berubah. Dinding obsidian menghilang, digantikan oleh simulasi taman yang sangat indah—padang rumput hijau yang luas, langit biru yang tak terbatas, dan suara gemericik air jernih yang tak pernah didengar Zaki seumur hidupnya. "Tubuh fisikmu itu rapuh. Ia akan menua, terluka, dan akhirnya hancur. Namun di sini, dalam jaringan Zenith, kau bisa menjadi abadi."
Warden mengulurkan tangan yang transparan. "Kami menawarkan posisi sebagai *Archivist*. Kau akan memimpin manusia, menjadi suara yang menenangkan mereka, memastikan transisi menuju 'Kenaikan' berjalan damai. Sebagai imbalannya, kesadaranmu akan diunggah ke dalam inti Menara. Kau akan hidup selamanya sebagai dewa digital, mengawasi dunia ini tanpa rasa sakit, tanpa rasa lapar, dan tanpa rasa takut akan kematian."
Zaki tertegun. Di depannya, simulasi itu terasa sangat nyata. Ia bisa mencium aroma rumput basah—sesuatu yang selama ini hanya ia baca di buku-buku usang lant** bawah. Keabadian. Tidak lagi menjadi debu yang terlupakan. Tidak lagi menjadi 'bahan pangan'. Tawaran itu seperti air dingin di tengah padang pasir bagi jiwanya yang haus akan pengakuan.
"Selamanya?" bisik Zaki.
"Selamanya," Warden mengonfirmasi, suaranya kini terdengar seperti suara ayahnya yang sudah lama tiada—lembut dan penuh janji. "Kau hanya perlu meyakinkan mereka untuk tetap diam. Yakinkan mereka bahwa kematian fisik adalah gerbang menuju keagungan. Jadilah gembala bagi domba-domba ini, dan kau tidak akan pernah berakhir di palka pembuangan."
Zaki menurunkan belatinya. Tangannya gemetar. Ia membayangkan hidup tanpa rasa sakit, tanpa harus mencuri jatah nutrisi demi bertahan hidup satu hari lagi. Namun, saat ia menatap mata emas Warden, ia melihat kekosongan yang dingin di balik keramahan simulasi itu.
Ia teringat pada tangan-tangan yang berpegangan erat di Lant** 1, pada wajah-wajah kusam yang penuh harap saat menatap ke atas menara, dan pada pengorbanan Maya yang mempertaruhkan segalanya hanya untuk satu kesempatan melihat matahari asli.
"Keabadian yang kau tawarkan..." Zaki menjeda, ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen buatan itu memenuhi parunya untuk terakhir kali dengan rasa hormat. "Hanyalah sebuah penjara yang lebih besar."
Ekspresi Warden membeku. Simulasi taman di sekitar mereka mulai bergetar, memudar kembali menjadi dinding obsidian yang dingin. "Kau menolak?"
"Aku lebih suka mati sebagai manusia di atas tanah yang kotor daripada hidup selamanya sebagai program komputer yang mengkhianati bangsanya sendiri," ucap Zaki dengan nada dingin yang mematikan. Ia meraih komunikator kecil di telinganya, menekan tombol yang telah ia sepakati dengan Maya. "Maya, sekarang! Bakar sistem gravitasinya!"
Ruangan itu tiba-tiba berguncang hebat. Alarm merah mulai meraung, membelah keheningan steril di Lant** 100. Wajah Warden berubah menjadi distorsi cahaya yang mengerikan, suaranya berubah menjadi geraman mekanis yang m****akkan telinga.
"Pilihan yang tidak logis, Zaki. Jika sistem gravitasi ini runtuh, menara ini tidak akan jatuh perlahan. Ia akan menjadi peti mati bagi kalian semua."
Zaki menyeringai, meskipun jantungnya berdegup kencang melawan rasa takut yang nyata. "Setidaknya kami akan jatuh sebagai manusia bebas, bukan sebagai ternak yang mengantre giliran."
Ledakan pertama mengguncang lant** di bawah kakinya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Menara Langit, gravitasi mulai menghilang, menarik Zaki dan hologram yang murka itu ke dalam kekacauan ruang hampa yang mematikan. Zaki tahu, ia baru saja memulai kiamat bagi menara ini, atau mungkin, sebuah kelahiran kembali yang berdarah. Di luar jendela besar yang tiba-tiba terbuka karena kegagalan sistem, ia melihat armada Valthar mulai bergerak mendekat seperti kawanan hiu yang mencium darah di air.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!