Langkah kakiku terasa berat, seolah-olah gravitasi di Lant** 99 ini sengaja ditambah untuk meremukkan tulang-tulangku. Setiap dentuman bot sepatuku di atas lant** logam yang dingin menggema di lorong yang sunyi ini, menciptakan irama kecemasan yang sinkron dengan detak jantungku. Maya berjalan beberapa langkah di depanku, jemarinya yang lincah terus menari di atas layar transparan pergelangan tangannya, meretas setiap sensor keamanan yang mencoba menghalangi jalan kami.
"Sedikit lagi, Zaki," bisik Maya tanpa menoleh. Suaranya serak, penuh dengan kelelahan yang sama dengan yang kurasakan. "Di balik pintu kedap udara ini, kau akan melihat apa yang mereka sembunyikan selama lima ratus tahun."
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terasa kering, seperti baru saja menelan segenggam debu dari lant** bawah. Selama ini, kami dibesarkan dengan dongeng bahwa Bumi adalah bola api yang hangus, sebuah neraka yang tak lagi bisa dihuni. Itulah sebabnya Menara Langit dibangun—sebagai bahtera penyelamat. Tapi setelah apa yang kulihat di palka pembuangan kemarin—tulang belulang manusia yang dikemas seperti limbah industri—semua dongeng itu terasa seperti racun yang manis.
Maya menempelkan telapak tangannya pada panel sensor terakhir. Lampu indikator berubah dari merah menjadi biru pucat. Pintu hidrolik itu bergeser ke samping dengan desisan pelan, mengungkapkan sebuah ruangan berbentuk melingkar yang luas.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh pendar biru dari ribuan kabel serat optik yang menjunt** dari langit-langit seperti tentakel ubur-ubur. Namun, perhatianku langsung tersedot pada dinding melengkung di ujung ruangan. Itu bukan sekadar dinding baja. Itu adalah sebuah jendela observasi raksasa yang terbuat dari kristal bening yang tebal.
Aku melangkah maju, kakiku gemetar. Semakin dekat aku melangkah, semakin lebar mataku terbuka. Cahaya yang ma**k dari jendela itu tidak berwarna merah bara atau hitam pekat seperti yang digambarkan dalam buku sejarah kami. Cahaya itu murni, putih keemasan, dan menyilaukan.
"Lihatlah," suara Maya hampir tidak terdengar, penuh dengan kekaguman yang pedih.
Aku menempelkan telapak tanganku pada kaca dingin itu. Di bawah sana, jauh di bawah kaki kami, terbentang sebuah pemandangan yang meruntuhkan seluruh fondasi duniaku. Bumi tidak hancur. Ia tidak mati.
Hamparan hijau zamrud menyelimuti benua-benua yang luas, dipisahkan oleh samudera biru yang begitu dalam hingga warnanya tampak seperti safir cair. Awan-awan putih berarak lembut, membentuk pola-pola yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tidak ada asap industri, tidak ada api yang melalap daratan. Bumi telah pulih. Ia telah terlahir kembali menjadi surga, sementara kami, sisa-sisa umat manusia, dikurung di dalam tiang besi raksasa ini seperti ternak yang menunggu waktu jagal.
"Dunia itu sudah siap untuk kita," ucap Maya, berdiri di sampingku. "Valthar tidak membiarkan kita turun karena mereka membutuhkan 'nutrisi' dari Menara ini. Mereka membiarkan Bumi menghijau agar mereka punya stok cadangan yang segar di sini."
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang tenang memecah keheningan di belakang kami.
"Indah, bukan? Pemandangan yang bahkan para raja masa lalu pun tidak bisa membayangkannya."
Aku berbalik dengan cepat, tanganku secara refleks meraba belati pendek di pinggangku. Di ambang pintu berdiri Komandan Aris, penguasa keamanan Lant** Atas. Ia tidak datang dengan pa**kan. Ia berdiri di sana sendirian, mengenakan seragam putih bersih tanpa noda, dengan ekspresi yang sangat tenang—hampir seperti seorang ayah yang bangga.
"Jangan bodoh, Zaki," Aris melangkah ma**k, mengabaikan tatapan tajam Maya. "Kau telah melihat kebenaran. Kau sudah terlalu jauh untuk kembali ke bawah sebagai orang yang tidak tahu apa-apa."
"Kebenaran bahwa kau adalah pengkhianat?" desis kutukku. "Kau memberi makan ras alien itu dengan nyawa bangsamu sendiri!"
Aris tertawa kecil, suara yang terdengar sangat beradab untuk seorang algojo. "Aku memastikan kelangsungan hidup spesies kita. Valthar adalah dewa. Mereka membutuhkan energi biologis, dan kita menyediakannya. Sebagai imbalannya, mereka memberikan kita ketertiban. Kau punya potensi, Zaki. Ketahananmu, instingmu... kau bisa menjadi seperti aku."
Dia berjalan mendekat ke arah panel kontrol di tengah ruangan. Sebuah hologram muncul—sebuah simulasi dunia yang sempurna. Kota-kota megah dengan teknologi yang tak ma**k akal, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan.
"Aku bisa mema**kkanmu ke dalam program 'Elysium'," tawar Aris, matanya menatapku tajam. "Sebuah simulasi abadi yang terhubung langsung ke sistem sarafmu. Kau akan hidup selamanya dalam kebahagiaan, di dalam dunia yang lebih indah dari Bumi mana pun. Kau tidak akan pernah merasa lapar, tidak akan pernah merasa kehilangan. Kau akan menjadi pengawas elit di Menara ini, abadi di sisi mereka."
Aku melirik ke arah jendela, ke arah Bumi yang asli, yang liar dan tak terjamah. Lalu aku menatap simulasi indah di depan Aris.
"Atau," lanjut Aris dengan nada dingin, "kau bisa memilih untuk menjadi pahlawan yang mati konyol. Jika kau mencoba menghancurkan sistem gravitasi Menara ini, kau tidak akan selamat. Kau akan terbakar di atmosfer bersama ribuan orang yang kau coba selamatkan. Pilihannya sederhana: hidup abadi sebagai tuhan di dalam mesin, atau mati sebagai debu demi sebuah planet yang mungkin tidak akan menerimamu kembali."
Dadaku terasa sesak. Di satu sisi, ada kenyamanan abadi yang ditawarkan—pelarian dari segala trauma masa kecilku yang penuh kemelaratan. Di sisi lain, ada kebebasan yang berdarah-darah, sebuah peluang tipis untuk menginjakkan kaki di atas rumput asli yang kulihat di bawah sana.
Aku melihat bayanganku di kaca jendela. Seorang pemuda yatim piatu dari lant** bawah yang selalu merasa tidak berarti. Menjadi pengawas berarti aku akan diingat, aku akan hidup selamanya. Tapi di saat yang sama, aku teringat wajah teman-temanku yang dikirim ke 'Lant** 100' dengan senyum harapan, tidak tahu bahwa mereka sedang menuju mesin penggiling.
"Zaki, jangan dengarkan dia," bisik Maya, suaranya gemetar. "Dunia di bawah sana nyata. Kehidupan kita di sini adalah dusta."
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan oksigen buatan yang terasa semakin beracun di paru-paruku. Aku menatap Aris, lalu kembali menatap Bumi yang berkilauan di bawah matahari.
"Kau benar, Aris," kataku dengan suara yang kini lebih stabil. "Aku selalu takut menjadi tidak berarti. Aku selalu takut mati tanpa meninggalkan jejak."
Aris tersenyum lebar, mengira dia telah menang. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Kalau begitu, mari kita mulai transisimu ke—"
"Tapi," aku memotongnya, tanganku mencengkeram hulu belatiku dengan erat, "aku lebih takut hidup selamanya sebagai parasit di atas penderitaan orang lain."
Senyum Aris memudar. Di saat yang sama, alarm di seluruh ruangan itu tiba-tiba meraung keras. Lampu merah berputar, menyambar dinding-dinding kaca.
"Deteksi pelanggaran di sektor gravitasi!" suara mekanis komputer menggema.
Maya terkesiap. "Zaki, seseorang telah memicu protokol penghancuran diri lebih awal! Itu bukan aku!"
Aris mengeluarkan alat komunikasi dari sakunya, wajahnya pucat pasi. "Valthar... mereka menyadarinya. Mereka tidak akan membiarkan kita memberontak. Mereka akan menjatuhkan Menara ini sekarang juga ke Bumi!"
Lant** di bawah kaki kami bergetar hebat. Di jendela observasi, aku melihat armada kapal perak berbentuk cakram mulai keluar dari bayang-bayang bulan, meluncur turun menuju atmosfer seperti hujan meteor yang mematikan. Panen raya telah dimulai lebih cepat dari jadwal, dan mereka tidak berniat menyisakan satu pun saksi hidup.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!