Ruangan itu berbau ozon dan keputusasaan yang disamarkan oleh wangi sintetis bunga lili. Di balik jendela kaca setebal satu meter yang melengkung mengikuti bentuk menara, Zaki bisa melihat lengkungan Bumi yang biru kehijauanβsebuah pemandangan yang selama ini dianggap mitos oleh orang-orang di lant** bawah. Namun, keindahan itu terasa seperti ejekan di hadapan sosok yang berdiri di depannya.
Warden Aris, pria dengan setelan perak yang terlalu licin untuk seseorang yang baru saja mengakui bahwa ia adalah perantara bagi ras alien pemanen manusia, menuangkan cairan berwarna ambar ke dalam gelas kristal.
"Lihat ke bawah, Zaki," suara Aris lembut, hampir kebapakan. "Dunia itu sudah pulih tanpa kita. Alam tidak butuh manusia. Valthar-lah yang memberi kita tujuan. Kita adalah pupuk bagi peradaban yang jauh lebih besar. Tidakkah kau merasa terhormat menjadi bagian dari siklus kosmik ini?"
Zaki merasakan denyut di pelipisnya. Tangannya yang kasar dan penuh luka gores akibat memanjat palka pembuangan di Lant** 99 mengepal di sisi tubuhnya. "Pupuk tidak punya pilihan, Aris. Kami bukan bagian dari siklus. Kami adalah ternak."
"Ternak yang cerdas akan memilih menjadi penggembala daripada menjadi yang disembelih," Aris mendekat, menyodorkan sebuah lencana biometrik yang bersinar kebiruan. "Ambil ini. Kau akan memiliki akses penuh ke Lant** Elit. Kau bisa makan apa pun, tidur tanpa takut kelaparan, dan yang terpenting, kau tidak akan pernah berakhir di 'ruang hampa' itu. Kau terlalu berharga untuk menjadi nutrisi cair, Zaki. Bergabunglah denganku. Bantu aku menenangkan massa di bawah agar transisi panen bulan depan berjalan lancar."
Zaki menatap lencana itu, lalu beralih ke wajah Aris yang tampak sangat tenang. Di mata pria itu, Zaki tidak melihat kemanusiaan; yang ada hanyalah kalkulasi dingin seorang pengkhianat yang telah menukar jiwanya demi kenyamanan fana.
"Kau tahu apa yang paling aku benci selama hidup di lant** bawah?" Zaki melangkah maju, suaranya rendah dan serak.
Aris mengangkat alis, sedikit tersenyum. "Kemiskinan? Kegelapan?"
"Harapan palsu," desis Zaki. "Kalian memberikan kami doa-doa tentang Lant** 100 agar kami tetap patuh dan 'manis' saat daging kami sudah matang untuk diambil. Kau bukan penggembala, Aris. Kau hanyalah an**** penjaga yang menunggu giliran untuk dibuang setelah tugasmu selesai."
Zaki tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang sudah ia latih berkali-kali dalam benaknya bersama Maya, ia menerjang bukan ke arah Aris, melainkan ke konsol pusat di tengah ruanganβsebuah menara kristal berdenyut yang menjadi jantung komunikasi antara Menara Langit dan armada Valthar di orbit.
"Zaki, jangan bodoh!" teriak Aris, menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping.
Zaki menghujamkan belati buatannya yang terbuat dari pecahan logam pembuangan langsung ke celah sensor biometrik. Percikan listrik berwarna ungu menyambar lengannya, membakar kulitnya hingga aroma daging hangus memenuhi ruangan, namun ia tidak melepaskannya. Ia memutar belati itu, menghancurkan sirkuit saraf organik yang tertanam di sana.
"Maya, sekarang!" teriak Zaki ke arah komunikator di pergelangan tangannya.
Cahaya biru di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi merah darah yang berkedip-kedip. Suara dengung rendah yang m****akkan telinga mulai merayap dari dinding-dinding logam.
"Apa yang kau lakukan?!" Aris menerjang Zaki, mencoba menariknya menjauh, namun Zaki menghantamkan sikunya ke rahang pria itu hingga Aris tersungkur.
"Aku memutus kabel jemuran kalian," ujar Zaki dengan napas memburu.
Tiba-tiba, lant** di bawah kaki mereka bergetar hebat. Itu bukan getaran biasa; itu adalah reaksi mekanis yang kasar. Suara logam beradu dengan logam terdengar seperti raungan binatang buas yang sedang kesakitan. Di luar jendela, struktur eksterior Menara Langit mulai mengeluarkan uap putih yang menyembur deras.
Sistem pertahanan otomatis Valthar telah aktif.
Dinding-dinding ruangan mulai bergeser, menyingkapkan meriam-meriam plasma internal yang biasanya digunakan untuk membasmi 'hama' di dalam menara. Suasana berubah menjadi mimpi buruk teknologis. Lant** miring secara drastis, membuat Zaki harus berpegangan pada pinggiran konsol yang hancur.
"Kau baru saja membunuh kita semua!" Aris berteriak di tengah kebisingan, wajahnya pucat pasi saat melihat indikator holografik yang menunjukkan sistem gravitasi menara mulai tidak stabil. "Valthar tidak akan membiarkan pemberontakan. Mereka akan menghancurkan menara ini sebelum membiarkan satu pun dari kita menyentuh tanah!"
Getaran itu semakin menguat, berubah menjadi guncangan hebat yang melemparkan furnitur mewah di ruangan itu seperti mainan. Zaki merasakan perutnya mual karena perubahan tekanan udara yang mendadak. Menara itu berderit, suara gesekan baja raksasa yang seolah-olah hendak patah.
Dari langit di luar jendela, awan-awan hitam mulai berkumpul, bukan karena cuaca, melainkan karena kehadiran fisik kapal-kapal induk Valthar yang mulai turun dari orbit, menanggapi gangguan pada 'peternakan' mereka.
Zaki menatap ke bawah, ke arah ribuan lant** di bawahnya di mana jutaan manusia tidak tahu bahwa dunia mereka akan segera runtuh. Ia mencengkeram komunikatornya erat-erat, meski tangannya gemetar hebat akibat guncangan menara yang semakin liar.
"Maya, kau dengar aku?" Zaki berteriak melawan suara gemuruh menara yang seolah ingin menelan suaranya. "Sistem komunikasinya lumpuh, tapi mereka membangunkan 'penjaga'. Kita tidak punya waktu lagi. Kita harus mulai menjatuhkan menara ini sekarang, atau kita semua akan mati terbakar di atmosfer!"
Tepat saat itu, sebuah dentuman keras menghantam bagian luar Lant** 99. Langit-langit ruangan itu retak, dan untuk pertama kalinya, Zaki melihat sesuatu yang bukan manusia merayap ma**k melalui celah tersebutβsebuah bayangan mekanis dengan mata bercahaya dingin yang menatap langsung ke arahnya.
Menara itu bergoyang sekali lagi, kali ini begitu miring hingga kaca jendela mulai menunjukkan retakan halus. Zaki tahu, pembebasan ini baru saja berubah menjadi perlombaan melawan kematian.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!