Tanganku gemetar saat menempelkan telapak tangan pada panel pemindai biometrik yang sudah retak. Rasa dingin dari logam menyengat kulitku, tapi itu tidak sebanding dengan gemuruh di dadaku. Di sampingku, Maya sedang bertarung dengan waktu. Jari-jemarinya menari di atas papan ketik virtual, memicu serangkaian kode yang memba****i layar hologram dengan warna merah dan hijau yang saling bertab**kan.
"Sepuluh detik lagi, Zaki," bisik Maya. Suaranya serak, napasnya tersengal-sengal setelah pelarian panjang melintasi lorong ventilasi di Lant** 98. "Begitu aku menembus enkripsi inti, frekuensi ini akan mengunci seluruh layar di Menara Langit. Dari apartemen mewah di Lant** 90 sampai barak kumuh di Lant** 1."
Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku yang kering dan perih. Di monitor kecil di sudut ruangan, aku bisa melihat pa**kan pengawalβmanusia-manusia yang menjual jiwa mereka pada Valtharβsedang mendob**k pintu baja di ujung koridor. Dentuman keras logam yang beradu mulai bergema, menggetarkan lant** yang kami pijak.
"Lakukan sekarang," kataku pelan namun tegas.
Maya menekan satu tombol terakhir dengan hentakan keras. "Transmisi dimulai."
Seketika, ruangan sunyi itu meledak dalam cahaya biru. Di depanku, layar utama menampilkan apa yang selama ini mereka sembunyikan. Rekaman yang kuambil secara sembunyi-sembunyi di Lant** 99: sebuah palka raksasa yang terbuka ke ruang hampa udara yang dingin. Tidak ada taman abadi. Tidak ada dewa yang menyambut. Hanya kekosongan gelap yang berfungsi sebagai tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap telah 'matang' untuk dikonsumsi oleh Valthar.
Lalu, gambar berpindah. Aku menyisipkan rekaman dari sensor jarak jauh yang berhasil menembus awan beracun buatan yang menyelimuti bagian bawah menara. Di sana, jauh di bawah kaki kami, terbentang hamparan hijau yang luar biasa. Hutan yang rimbun, sungai yang berkilau seperti urat perak di bawah sinar matahari yang asli, dan kehidupan yang pulih tanpa campur tangan mereka.
"Seluruh Menara sekarang melihat ini," bisik Maya, matanya terpaku pada monitor yang menampilkan umpan balik dari berbagai lant**.
Aku melangkah maju, mendekati mikrofon pemancar. Wajahku kini terpampang di ribuan layar raksasa di alun-alun lant**, di televisi kecil di kamar-kamar sempit, dan di papan iklan holografik. Aku melihat bayanganku sendiri: kotor, penuh luka, tapi mataku menyala dengan amarah yang selama ini kupendam.
"Nama saya Zaki," suaraku bergema, bukan hanya di ruangan ini, tapi ke seluruh struktur raksasa yang kami sebut rumah. "Selama dua ratus tahun, kita diberitahu bahwa Bumi adalah kuburan dan Lant** 100 adalah surga. Kita bekerja sampai mati, kita menyerahkan anak-anak terbaik kita untuk 'Kenaikan', demi sebuah janji kosong."
Aku menjeda sesaat, membiarkan gambar palka pembuangan dan pemandangan Bumi yang hijau bergantian di layar.
"Kenaikan adalah kebohongan. Lant** 100 tidak ada. Kita bukan penghuni tempat perlindungan; kita adalah ternak. Valthar tidak menyelamatkan kita, mereka mengurung kita untuk dipanen saat kita c**up kuat untuk menjadi nutrisi mereka. Dan lihatlah ke bawah... Bumi tidak hancur. Bumi sudah sembuh, sementara kita membusuk di dalam sangkar besi ini."
Keheningan yang mencekam sempat menyelimuti, seolah seluruh Menara sedang menahan napas. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Di layar pantau, aku melihat pemandangan yang membuat bulu kudukku berdiri. Di Lant** 15, sebuah pasar yang biasanya tertib berubah menjadi lautan manusia yang mengamuk. Meja-meja dibalikkan. Orang-orang mulai menyerang petugas keamanan dengan tangan kosong. Di Lant** 80, para elit yang biasanya tenang kini berteriak histeris, beberapa merobek pakaian sutra mereka sementara yang lain mulai menghancurkan konsol kendali.
"Zaki, lihat!" Maya menunjuk ke layar yang menampilkan koridor di luar ruangan kami.
Para pengawal yang tadinya mencoba mendob**k pintu kami tiba-tiba berhenti. Mereka saling pandang. Salah satu dari mereka melepaskan helmnya, menjatuhkannya ke lant** hingga denting logamnya terdengar melalui audio. Wajah pria itu pucat pasi, matanya terpaku pada layar di koridor yang masih menyiarkan rekaman Bumi yang hijau. Ia menjatuhkan senjata laras panjangnya dan jatuh berlutut.
Namun, kekacauan ini memiliki sisi gelap. Tangisan ketakutan berubah menjadi raungan haus darah. Di lant** bawah, kerusuhan mulai memakan korban. Api mulai menyala di beberapa sektor. Manusia-manusia yang baru saja kehilangan tujuan hidup dan kepercayaan mereka kini meledak dalam anarki murni.
"Mereka akan saling membunuh jika kita tidak memberikan jalan keluar," kata Maya, suaranya gemetar melihat seorang wanita di layar sedang memukuli robot penjaga dengan potongan pipa besi.
"Buka kunci lift ekspres. Semua lant**," perintahku.
"Tapi Zaki, gravitasi... jika aku membuka semua akses sekaligus, sistem gravitasi akan tidak stabil!"
"Lakukan saja, Maya! Jika mereka tetap di sini, mereka akan mati terbakar oleh kemarahan mereka sendiri. Kita harus membawa mereka turun!"
Tiba-tiba, seluruh Menara bergetar hebat. Bukan getaran kecil seperti biasanya saat mesin beroperasi, melainkan guncangan struktural yang membuat lampu-lampu di langit-langit berkedip dan meledak. Suara dengung rendah yang menyakitkan telinga mulai terdengar dari arah pusat Menara.
"Apa itu?" tanyaku, berpegangan pada tepian meja.
Maya menatap layar datanya dengan wajah ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Valthar... mereka menyadari sistemnya telah disusupi. Zaki, mereka tidak akan membiarkan ternaknya kabur. Mereka memulai protokol 'Pembersihan'."
Di luar jendela kaca tebal di belakang kami, di tengah kegelapan angkasa, aku melihat titik-titik cahaya mulai bergerak. Armada kapal Valthar yang selama ini bersembunyi di balik bayangan bulan mulai mendekat, seperti predator yang siap menerkam mangsa yang mencoba melompati pagar kandang.
Dan di bawah kami, ribuan orang mulai merangsek ma**k ke dalam lift, tidak menyadari bahwa mereka sedang bergerak menuju jebakan mematikan yang sudah disiapkan oleh para tuan tanah alien kami.
"Kita harus mematikan pusat gravitasi sekarang," kataku sambil menatap langsung ke arah kapal-kapal yang mendekat. "Sebelum mereka mengunci kita semua di dalam peti mati ini."
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!