Otot paha Zaki bergetar hebat, setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menyeret tumpukan timah panas. Paru-parunya perih, menghirup udara yang kini berbau ozon dan logam terbakar. Di sekelilingnya, struktur Menara Langit mengerangβsuara besi raksasa yang menggeliat karena beban gravitasi yang mulai tidak stabil. Ia seharusnya terus turun, bergabung dengan barisan pengungsi yang merayap menuju kapsul evakuasi di lant** bawah. Namun, langkahnya justru membawa pria itu kembali ke arah maut.
"Maya, jawab aku!" Zaki berteriak ke arah komunikator di pergelangan tangannya, namun hanya suara statis yang menyahut.
Lant** 95 adalah labirin kabel fiber optik dan server raksasa yang berdenyut dengan cahaya ungu pucatβteknologi Valthar yang menyedot energi kehidupan dari bawah. Zaki melompat melewati tumpukan rongsokan robot keamanan yang telah dihancurkan. Di ujung lorong, pintu ruang kendali pusat tampak miring, terhantam ledakan.
Zaki menemukan Maya di sana. Gadis itu terduduk bersandar pada konsol utama, jemarinya yang gemetar masih menari di atas kibor holografik. Darah mengalir dari pelipisnya, mengotori seragam teknisinya yang abu-abu.
"Zaki? Bodoh... kenapa kau kembali?" suara Maya parau, hampir tenggelam oleh dentuman di dinding luar.
"Aku tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Tidak lagi," jawab Zaki tegas. Ia merengkuh bahu Maya, berusaha membantunya berdiri. "Sistem gravitasi sudah kau retas, kan? Ayo pergi!"
Maya meringis, menunjuk ke layar monitor yang berkedip merah. "Belum selesai. Protokol pembalik massanya tertahan. Aku butuh tiga menit lagi untuk memastikan Menara ini tidak menghantam Bumi seperti meteor saat jatuh nanti. Kita harus mendarat, bukan hancur."
Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat bergema dari lorong gelap di belakang mereka. Bukan langkah kaki alien Valthar yang ringan dan berirama, melainkan langkah manusia. Langkah yang penuh keputusasaan.
Zaki membalikkan badan, menyentakkan senjata laras pendeknya ke arah pintu. Dari balik kabut asap, muncul enam orang pria berseragam hitam legam dengan lencana 'Penjaga Puncak'. Mereka adalah Pa**kan Elit, manusia-manusia pilihan yang telah menjual jiwa mereka demi jatah nutrisi ekstra dan kenyamanan di lant** atas. Di depan mereka berdiri Kapten Arkan, pria yang pernah menjadi mentor Zaki sebelum pengkhianatan ini terungkap.
Wajah Arkan tampak pucat, matanya merah karena kurang tidur dan fanatisme yang sakit. Di dadanya, sebuah perangkat peledak sirkuit-pendek terpasang, lampu indikatornya berkedip cepat seirama detak jantung.
"Kau menghancurkan segalanya, Zaki," desis Arkan. Suaranya tidak mengandung kemarahan, melainkan kehampaan yang mengerikan. "Kau pikir dunia di bawah sana adalah surga? Itu hanya kuburan hijau. Di sini, kita adalah dewa bagi mereka yang di bawah. Dan jika kami tidak bisa menjadi dewa, maka tidak akan ada yang boleh hidup."
"Kalian hanya ternak yang diberi makan lebih baik, Arkan!" Zaki membalas, matanya waspada mencari celah. "Valthar akan memanen kalian juga begitu menara ini penuh. Lihat ke atas! Lant** 100 itu kosong!"
"Lebih baik mati sebagai tuan di sini daripada menjadi debu di tanah kotor itu," Arkan mengangkat senjatanya, namun ia tidak membidik Zaki. Ia membidik konsol utama di belakang Maya. "Jika sistem ini meledak sekarang, gravitasi akan melipat lant** ini menjadi satu milimeter. Kita semua akan lenyap dalam sekejap."
"Mereka melakukan serangan bunuh diri," bisik Maya, suaranya tercekat. "Zaki, mereka tidak berencana menang. Mereka hanya ingin kita gagal."
Arkan menerjang maju dengan raungan g***, diikuti oleh anak buahnya. Mereka tidak mencari perlindungan. Mereka berlari lurus menembus hujan peluru yang dimuntahkan Zaki. Satu orang jatuh dengan dada berlubang, namun yang lain terus merangsek maju. Zaki merasakan hantaman keras di bahunya saat salah satu dari mereka menab**knya dengan kecepatan penuh, menjatuhkan senjatanya.
Zaki bergulat di lant** yang dingin, menghantamkan sikunya ke rahang lawan, sementara Arkan semakin dekat dengan Maya dan konsol pembalik massa. Dunia seolah melambat. Zaki melihat Arkan meraih pemicu di dadanya.
"Maya, tiarap!" teriak Zaki.
Dengan kekuatan yang tersisa dari sisa-sisa adrenalinnya, Zaki menendang lawannya hingga terjerembap dan melakukan lompatan putus asa ke arah Arkan. Ia berhasil menangkap pergelangan tangan sang kapten tepat saat jemari pria itu nyaris menekan tombol detonasi.
Mereka berdua menghantam dinding kaca yang memisahkan ruang kendali dengan poros utama menara. Di bawah mereka, lubang hitam tak berdasar dari poros elevator menganga lebar, menunjukkan ribuan meter kegelapan yang menuju ke inti menara.
"Lepaskan, Zaki! Biarkan ini berakhir!" Arkan tertawa g***, darah keluar dari sela giginya.
Zaki menatap mata pria itu, melihat pantulan dirinya sendiri yang penuh luka. "Aku lebih suka mati mencoba untuk hidup, daripada hidup hanya untuk menunggu mati."
Dengan satu sentakan kuat, Zaki merobek perangkat peledak dari dada Arkan. Namun, pada saat yang sama, Arkan menarik kerah baju Zaki, menyeretnya ikut terjatuh saat kaca pelindung di belakang mereka retak dan hancur berkeping-keping akibat tekanan udara yang kacau.
Udara dingin dari luar menyambar mereka. Zaki merasakan gravitasi menariknya ke dalam kehampaan poros menara. Ia berhasil mencengkeram pinggiran besi penyangga dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memegang rompi peledak yang aktif. Di bawahnya, Arkan tergantung pada kaki Zaki, wajahnya kini menunjukkan ketakutan murni saat ia melihat maut yang sebenarnya.
"Zaki!" teriakan Maya terdengar jauh di atas sana.
Di genggaman Zaki, lampu indikator peledak berubah dari kuning menjadi merah solid. Waktu tinggal hitungan detik. Jika ia melempar peledak itu ke atas, ia akan menghancurkan Maya dan harapan terakhir manusia. Jika ia membiarkannya, ia akan hancur berkeping-keping bersama Arkan di dalam poros ini.
Getaran hebat mengguncang seluruh lant** 95. Suara logam yang terpilin terdengar seperti jeritan monster purba. Langit-langit mulai runtuh, dan Zaki tahu, pilihan yang ia ambil dalam beberapa detik ke depan akan menentukan apakah umat manusia akan kembali melihat matahari, atau terkubur selamanya dalam monumen besi ini.
Zaki menatap ke atas, ke arah Maya yang berusaha menggapainya, lalu ke bawah, ke arah kegelapan. Ia mengambil napas dalam-dalam, menguatkan pegangannya pada besi yang licin oleh darah.
"Maya, selesaikan urutan mendaratnya!" teriak Zaki, suaranya bergema di antara deru angin. "Jangan lihat ke bawah!"
Lampu merah di peledak berhenti berkedip. Bunyi *bip* panjang yang melengking memenuhi telinga Zaki. Dan saat itulah, ia melepaskan pegangannya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!