Keringat dingin bercampur oli mengalir melewati pelipis Zaki, perih saat menyentuh luka gores di pipinya. Di hadapannya, Inti Gravitasi—sebuah bola cahaya biru neon yang terbungkus dalam sangkar elektromagnetik raksasa—berdenyut dengan irama yang tidak beraturan. Setiap denyutannya mengirimkan gelombang kejut yang membuat lant** logam di bawah kakinya mengerang, seolah-olah seluruh Menara Langit ini adalah makhluk hidup yang sedang meregang nyawa.
"Maya, aku sudah di depan konsol utama," napas Zaki tersengal, suaranya parau karena debu dan asap yang memenuhi ruangan. "Berapa lama lagi sampai Valthar menyadari protokol ini aktif?"
Suara Maya terdengar statis dan pecah-pecah melalui earpiece yang dikenakan Zaki. *"Mereka sudah tahu, Zaki! Armada pencegat sudah bergerak dari dok luar. Kau harus memicu urutan pembakaran sekarang, atau gravitasi menara akan menarik kita hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh atmosfer!"*
Zaki menatap jemarinya yang gemetar di atas panel kontrol transparan. Di layar, ribuan titik cahaya mewakili nyawa manusia di lant**-lant** bawah—peternakan yang selama ini mereka sebut rumah. Jika ia gagal, titik-titik itu akan padam selamanya.
"Maafkan aku jika ini terasa kasar," gumam Zaki pada dirinya sendiri.
Ia menghantamkan telapak tangannya ke tuas manual berwarna merah kusam yang selama berabad-abad terkunci oleh segel biometrik Valthar. Dengan bantuan bypass yang dipasang Maya, segel itu pecah. Suara dentuman logam berat bergema dari dasar menara, getaran yang begitu kuat hingga Zaki terlempar ke belakang, punggungnya menghantam dinding besi dengan keras.
Dunia seakan miring.
Seluruh struktur Menara Langit mulai mengerang hebat. Suara decitan logam yang terpelintir m****akkan telinga. Zaki merangkak kembali ke konsol, melihat melalui jendela observasi raksasa di belakangnya. Di luar sana, kegelapan ruang angkasa mulai berubah. Menara seberat jutaan ton itu tidak lagi sekadar menggantung; ia jatuh.
"Protokol Descent aktif!" teriak Zaki, meski ia tahu hanya Maya yang mendengarnya.
Tiba-tiba, guncangan itu berubah menjadi guncangan lateral yang hebat. Di layar monitor, peringatan merah berkedip liar: *STRUCTURAL INTEGRITY COMPROMISED – SECTOR 70-85.*
*"Zaki! Menara ini tidak dirancang untuk ma**k ke atmosfer secara utuh!"* teriak Maya, suaranya tertutup suara ledakan di kejauhan. *"Lapisan pelindung di sektor tengah mulai mengelupas! Gesekan udara akan membakar kita sebelum kita sempat mendarat kalau kau tidak menstabilkan Inti sekarang!"*
Zaki melihat ke arah Inti Gravitasi. Bola cahaya itu kini berubah warna menjadi oranye membara, berputar begitu cepat hingga menciptakan pusaran angin di dalam ruangan kontrol. Batang-batang penyeimbang di sekelilingnya mulai melengkung akibat panas yang ekstrem.
"Apa yang harus kulakukan?"
*"Kau harus menahan batang sinkronisasi secara manual! Jika putarannya tidak stabil, menara ini akan terbelah dua!"*
Zaki tidak berpikir dua kali. Ia berlari menuju platform inti yang panasnya mulai membakar kulit wajahnya. Di sana, sebuah tuas penyeimbang mekanis tersangkut oleh pecahan logam yang jatuh dari plafon. Tanpa alat, Zaki merenggut pecahan logam itu dengan tangan kosong. Ia berteriak saat kulit telapak tangannya melepuh seketika, tercium bau daging terbakar yang memuakkan.
Sambil menggertakkan gigi hingga rahangnya sakit, Zaki menarik tuas penyeimbang itu dengan seluruh kekuatan ototnya.
"Ayo... bertahanlah!" raungnya.
Di luar jendela, pemandangan mulai berubah mencekam. Langit hitam berubah menjadi oranye kemerahan yang membara. Menara itu kini dibungkus oleh api gesekan atmosfer. Potongan-potongan eksterior menara mulai terlihat terbang melewati jendela—lempengan baja raksasa yang terbakar, hancur seperti kertas yang dilempar ke dalam perapian.
Zaki merasa tubuhnya menjadi sepuluh kali lebih berat. Gravitasi Bumi mulai mengklaim kembali apa yang selama ini dicuri oleh Valthar. Setiap persendiannya terasa seolah akan lepas dari tempatnya. Namun, ia tetap bertahan pada tuas itu, meski tangannya sudah tidak lagi terasa, hanya ada rasa kebas yang mengerikan dan kepulan asap dari telapak tangannya.
Cahaya biru di Inti mulai berdenyut selaras kembali. Guncangan hebat itu sedikit mereda, berubah menjadi getaran konstan yang menderu.
"Maya... aku berhasil menstabilkannya," bisik Zaki, napasnya pendek-pendek.
Namun, tidak ada jawaban dari earpiece-nya. Hanya suara statis yang dingin.
Zaki mendongak ke arah layar monitor utama yang masih berfungsi. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Di tengah lautan api atmosfer yang membungkus menara, muncul bayangan-bayangan hitam yang masif. Kapal-kapal tempur Valthar—berbentuk seperti cakram tajam dengan cahaya ungu yang mematikan—mulai menembus awan panas, mengejar menara yang sedang jatuh itu.
Salah satu kapal itu melepaskan tembakan laser. Ledakan besar mengguncang ruangan kontrol, melemparkan Zaki ke lant**. Alarm peringatan baru muncul di layar, lebih buruk dari sebelumnya.
*HULL BREACH DETECTED. ALTITUDE DROPPING RAPIDLY.*
Zaki berusaha bangkit, pandangannya kabur oleh darah yang mengalir dari dahi. Melalui lubang di dinding ruangan yang baru saja meledak, ia bisa melihat hamparan warna hijau di kejauhan, jauh di bawah sana. Bumi yang mereka janjikan telah hancur ternyata sedang menanti mereka dengan hutan dan samudera.
Namun, di antara mereka dan kebebasan itu, armada Valthar telah mengunci sasaran. Kapal utama mereka, sebuah leviathan ruang angkasa yang menutupi sinar matahari, perlahan turun tepat di atas lintasan jatuhnya menara, siap untuk menghancurkan mereka sebelum mereka sempat menyentuh tanah.
"Belum saatnya mati," desis Zaki sambil meraba pisau komandonya, matanya menatap tajam ke arah kapal alien yang mendekat.
Tepat saat itu, pintu ruang kontrol di belakangnya meledak terbuka. Bukan Maya yang muncul, melainkan sosok tinggi dengan baju zirah hitam metalik yang memantulkan cahaya api—seorang Pengawas Elit yang seharusnya sudah tewas di lant** bawah. Pengawas itu mengangkat senjatanya tepat ke arah jantung Zaki.
"Kau seharusnya menerima tawaran kami, Zaki," suara dingin itu menggema di tengah deru api. "Sekarang, kau akan menyaksikan mereka semua terbakar bersamamu."
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!