Guncangan itu bukan lagi sekadar getaran mesin yang biasa kudengar di pipa-pipa ventilasi Lant** Dasar. Ini adalah amukan gravitasi yang mencoba merobek setiap sambungan baja Menara Langit. Aku mencengkeram tuas kendali manual dengan buku jari yang memutih, sementara di sampingku, Maya sibuk menekan rangkaian kode terakhir pada terminal darurat. Keringat mengucur dari pelipisnya, meninggalkan jejak bersih di wajahnya yang jelaga.
"Zaki, tahan! Penyeimbang tekanan di sektor selatan gagal!" teriak Maya di antara deru angin yang ma**k dari celah palka yang retak.
Lalu, sebuah dentuman yang terasa seperti jantung dunia sedang meledak menghantam kami. Tubuhku terlempar ke depan, tertahan hanya oleh sabuk pengaman yang menyentak dadaku hingga napasku terputus sejenak. Gelap menyergap. Sunyi yang mengikuti suara itu jauh lebih mengerikan daripada ledakan mana pun. Hanya ada suara desis uap dan detak jantungku yang berpacu liar di telinga.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mengusir kunang-kunang yang menari di pandanganku. Bau logam terbakar dan ozon menyengat hidung. Pelan-pelan, aku menoleh ke arah Maya. Ia masih bernapas, meski keningnya bersandar pada konsol yang sudah mati.
"Maya?" suaraku serak, nyaris tak terdengar.
"Aku... aku tidak apa-apa," bisiknya, mengangkat kepala dengan gemetar. "Kita mendarat. Kita benar-benar jatuh ke bawah."
Aku melepaskan sabuk pengaman dan berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Lant** di bawah kami tidak lagi datar; ia miring sekitar sepuluh derajat. Aku merayap menuju jendela observasi yang kini retak seribu. Di luar sana, kabut putih asap menutupi pandangan, tapi ada sesuatu yang aneh. Bukan kegelapan ruang hampa, bukan juga api kehancuran yang selama ini diceritakan para pengawas sebagai gambaran permukaan Bumi.
Ada cahaya. Cahaya yang lembut, kekuningan, dan hangat yang merembes ma**k melalui celah-celah pintu palka raksasa di hadapan kami.
"Buka pintunya, Zaki," suara Maya penuh desakan yang ganjil. Ia berdiri di belakangku, memegang bahuku untuk menjaga keseimbangan.
Aku melangkah menuju panel manual. Tanganku gemetar saat menggenggam tuas besi besar itu. Selama dua puluh empat tahun hidupku, aku diajarkan bahwa di balik pintu ini hanya ada kematian, radiasi, dan tanah tandus yang akan menghanguskan paru-paruku. Aku menarik napas panjang, menatap ribuan manusia yang mulai berkumpul di koridor belakang kami—mereka yang selamat, mereka yang ketakutan, mereka yang menatapku seolah aku adalah tuhan yang memegang kunci surga atau neraka.
*Krak.*
Engsel raksasa itu mengerang. Udara dari luar mulai menyelinap ma**k. Aku tersentak, siap untuk merasakan sesak atau kulit yang melepuh. Namun, yang datang justru sesuatu yang asing. Bau tanah yang basah. Wangi dedaunan yang membusuk secara alami. Aroma asin dari air yang sangat luas.
Pintu palka itu turun perlahan, menjadi jembatan antara menara logam yang dingin dan dunia di luar sana. Saat pintu itu menyentuh tanah—atau lebih tepatnya, pasir—cahaya matahari yang murni menghantam wajahku. Aku terpaksa memicingkan mata, menutupi pandanganku dengan lengan.
"Demi langit..." bisik seseorang di belakangku.
Saat mataku mulai terbiasa, napasku tercekat. Kami tidak mendarat di neraka. Menara ini mendarat di sebuah pesisir luas yang berbatasan dengan hutan yang sangat lebat. Pohon-pohon raksasa dengan daun hijau emerald menjulang tinggi, menari ditiup angin yang nyata—bukan angin dari kipas sirkulasi udara. Di sebelah kiri kami, samudera biru membentang tanpa batas, ombaknya menjilati kaki menara yang hangus dengan irama yang menenangkan.
Bumi tidak hancur. Bumi sedang menyembuhkan diri, sementara kami dikurung di atas sana untuk menjadi ternak.
"Zaki, lihat," Maya menunjuk ke atas.
Aku mendongak. Di kejauhan, sisa-sisa Menara Langit menjulang seperti bangkai monster besi yang patah, menghubungkan bumi dengan langit yang kini mulai berwarna jingga karena senja. Namun, di antara awan, aku bisa melihat titik-titik cahaya perak yang bergerak. Armada Valthar. Mereka masih di sana, mengawasi hasil panen mereka yang baru saja tumpah ke tanah.
Aku melangkah keluar dari bayang-bayang menara. Kaki te*******ku menyentuh pasir yang hangat. Rasanya begitu nyata hingga aku ingin menangis, tapi aku tahu ini bukan waktunya untuk emosi. Ribuan orang mulai mengalir keluar di belakangku. Ada yang bersujud mencium tanah, ada yang berteriak histeris, dan ada yang hanya berdiri termangu menatap cakrawala yang begitu luas hingga membuat mereka pening.
"Semuanya, bergerak ma**k ke dalam hutan!" teriakku, suaraku bergema di sepanjang pant**. "Jangan berhenti di sini! Menara ini adalah target terbuka!"
Seorang pria tua menarik ujung bajuku, wajahnya basah oleh air mata. "Apakah ini benar-benar rumah kita, Zaki? Ataukah ini hanya tipuan alien yang lain?"
Aku menatap matanya yang cekung, mencerminkan ketakutan yang sama dengan yang kurasakan. Aku menoleh kembali ke arah reruntuhan menara—monumen kebohongan yang telah mencuri masa kecilku dan nyawa orang-orang yang kusayangi.
"Ini bukan tipuan," kataku tegas, lebih untuk meyakinkan diriku sendiri. "Ini adalah medan tempur yang baru."
Saat aku memimpin mereka menuju rimbunnya pepohonan, sebuah suara dengung rendah mulai terdengar dari arah langit. Bukan suara angin, melainkan suara mesin yang kukenal dengan baik. Kapal pemanen Valthar mulai turun, membelah awan dengan kecepatan tinggi. Mereka tidak akan membiarkan nutrisi mereka melarikan diri begitu saja.
Aku menggenggam erat belati mekanik di pinggangku, menatap hutan gelap di depan kami. Kami memang sudah keluar dari menara, tapi pelarian kami baru saja dimulai. Di bawah rimbunnya pepohonan itu, aku tahu ada sesuatu yang menunggu—entah itu sekutu, atau ancaman lain yang jauh lebih berbahaya dari apa pun yang pernah ada di Lant** 99.
"Lari!" perintahku sambil menarik Maya ma**k ke dalam bayang-bayang hutan, tepat saat sinar laser biru pertama menghantam pasir di belakang kami, mengubah pant** yang indah itu menjadi lautan kaca yang terbakar.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!