Napas Maya memburu di belakang tengkukku, hangat dan tidak beraturan. Aku bisa merasakan jemarinya yang gemetar mencengkeram erat jaket kulitku yang sudah mengelupas. Di depan kami, koridor Lant** 30 yang biasanya bising oleh suara mesin uap kini mendadak sunyi, kecuali dengung rendah yang membuat bulu kudukku berdiri.
*Zzzzt. Zzzzt.*
Aku menarik Maya lebih dalam ke balik bayang-bayang tumpukan pipa pembuangan yang berkarat. Bau logam oksida dan minyak pelumas menyerbu indra penciumanku. Aku menempelkan jari telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar dia tidak bersuara.
Sesaat kemudian, sebuah bayangan mekanis meluncur pelan di atas lant** logam yang lembap. Drone patroli milik Penjagaβrobot berbentuk cakram dengan sensor optik berwarna merah menyala yang berputar 360 derajat. Sinar merahnya menyapu dinding, membedah kegelapan, mencari jejak panas tubuh manusia yang tidak berada di zona kerja mereka.
Aku menahan napas. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari tulang rusuk. Jika sensor itu menangkap koordinat kami, dalam waktu kurang dari dua menit, pa**kan elit bersenjata akan mengepung lorong ini. Dan aku tahu persis apa yang terjadi pada mereka yang tertangkap "berkeliaran": mereka akan dikirim lebih awal ke Lant** 99 untuk "persiapan".
Setelah cahaya merah itu menghilang di tikungan koridor, aku mengembuskan napas perlahan.
"Kita tidak bisa lewat jalur utama," bisikku, suaraku parau. "Lant** 30 sudah seperti sarang lebah. Mereka tahu ada yang menyusup dari atas."
Maya menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh debu hitam. Mata cokelatnya yang besar menatapku dengan campuran antara ketakutan dan tekad yang keras kepala. "Ada jalur kabel di balik panel sektor D. Itu menuju ke pipa pendingin utama. Kita bisa turun sepuluh lant** lewat sana tanpa terdeteksi."
Aku menyipitkan mata, mengamati gadis teknisi ini. "Kau tahu banyak untuk ukuran seseorang yang seharusnya hanya memperbaiki sirkuit lampu jalan."
"Aku punya alasan untuk belajar navigasi ilegal, Zaki," sahutnya tajam, meski suaranya tetap berbisik. "Sama sepertimu yang nekat memanjat ke atas hanya untuk melihat 'surga' yang mereka janjikan."
Kami bergerak dalam senyap, merayap di antara celah-celah mesin raksasa yang berdenyut seperti jantung monster besi. Tanganku secara otomatis meraba dinding, mencari pegangan, mencari celah sempitβkeahlian yang kupelajari selama belasan tahun bertahan hidup di lant** bawah. Setiap kali ada suara langkah kaki atau gesekan logam, kami membeku, menjadi satu dengan bayangan.
Saat kami berhasil mencapai ruang panel yang tersembunyi di balik tumpukan kargo tua, Maya jatuh terduduk. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding logam yang dingin. Cahaya pendar dari indikator daya yang rusak memberikan rona biru pucat pada wajahnya yang kuyu.
"Kau melihatnya, kan?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya bergetar. "Di Lant** 99. Kau melihat tempat di mana mereka yang 'naik' itu pergi?"
Aku terdiam. Bayangan palka pembuangan yang terbuka ke ruang hampa, tempat di mana tubuh-tubuh manusia yang dianggap 'matang' dijatuhkan seperti sampah ke dalam perut kapal Valthar, kembali menghantuiku. Bau kematian yang steril dan dingin itu seolah masih menempel di bajuku.
"Tidak ada surga di atas sana, Maya," kataku pelan, setiap kata terasa seperti batu berat yang keluar dari mulutku. "Hanya ada ruang hampa. Dan sesuatu yang menunggu untuk memanen kita."
Maya menutup matanya. Air mata mengalir, meninggalkan jejak bersih di pipinya yang berdebu. "Kakakku, Aris... dia terpilih dalam Ritual Kenaikan dua bulan lalu. Semua orang di distrik kami bersorak. Mereka bilang dia adalah pahlawan, bahwa dia akan hidup abadi di Lant** 100 dan mengirimkan berkah untuk keluarga yang ditinggalkan."
Ia terisak kecil, namun segera membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak memantul ke koridor. "Dia berjanji akan menungguku di sana. Dia bilang Lant** 100 adalah tempat di mana matahari tidak pernah terbenam dan airnya semurni kristal. Tapi setelah dia naik, tidak ada pesan. Tidak ada tanda. Dia hilang begitu saja, seolah-olah dia tidak pernah ada."
Aku merasakan denyut kemarahan yang akrab di dadaku. Kebohongan ini... kebohongan yang telah membelenggu umat manusia selama berabad-abad. Kami bukan sedang diselamatkan. Kami sedang diternak. Dan para pengkhianat di dewan manusia membantu para Valthar memberikan harapan palsu agar pasokan 'nutrisi' tetap tenang dan patuh.
"Mereka tidak hilang," kataku, suaraku kini lebih dingin, lebih keras. "Mereka dikonsumsi. Kakakmu bukan pahlawan bagi mereka, Maya. Dia hanya bahan bakar. Nutrisi bagi ras yang menganggap kita tidak lebih dari sekadar ternak di dalam kandang vertikal ini."
Maya mendongak, matanya kini memancarkan api yang berbeda. Bukan lagi sekadar kesedihan, tapi kebencian yang murni. "Kalau begitu, Menara ini harus runtuh."
"Tidak semudah itu," balasku pragmatis. "Sistem gravitasi menara ini dikendalikan dari pusat inti. Jika kita menghancurkannya tanpa perhitungan, menara ini akan hancur dan membunuh semua orang di dalamnya sebelum kita sempat menyentuh tanah Bumi."
Baru saja Maya akan membalas, sebuah suara statis terdengar dari perangkat komunikator di pinggangnya yang tadinya mati. Suara itu bukan suara manusia. Itu adalah serangkaian nada tinggi yang menyayat telinga, diikuti oleh suara berat yang terdistorsi.
"Subjek Z-24 dan Teknisi M-12 terdeteksi di Sektor 30-D," suara itu dingin, tanpa emosi, berasal dari pengeras suara darurat di langit-langit. "Prosedur sterilisasi dimulai dalam enam puluh detik. Semua unit, aktifkan protokol pembersihan."
Lant** di bawah kaki kami bergetar. Pintu-pintu baja di kedua ujung koridor tertutup secara otomatis dengan dentuman keras, mengunci kami di dalam ruang sempit ini. Dari lubang ventilasi di atas, asap berwarna hijau pucat mulai merembes keluarβgas syaraf yang digunakan untuk melumpuhkan 'ternak' yang memberontak.
"Zaki!" teriak Maya, terbatuk saat asap itu mulai memenuhi ruangan. "Pintu daruratnya terkunci secara elektronik! Aku tidak bisa meretasnya tepat waktu!"
Aku melihat sekeliling dengan liar, mataku tertuju pada sebuah pipa tekanan tinggi yang menyambung ke langit-langit. Itu bukan pipa air, itu pipa pembuangan limbah panas yang menuju ke poros luar. Berbahaya, panas, dan sempit. Tapi itu satu-satunya jalan keluar.
"Ikuti aku, dan jangan lepaskan peganganmu kalau kau masih ingin melihat Bumi yang sebenarnya," geramku sambil menendang penutup pipa itu hingga jebol.
Saat aku menarik Maya ma**k ke dalam lubang yang gelap, aku menyadari satu hal: kami bukan lagi sekadar pelarian. Kami adalah anomali dalam sistem mereka. Dan Valthar tidak akan membiarkan satu pun anomali tetap hidup. Di kejauhan, aku bisa mendengar suara robotik yang lebih besar mendekatβsesuatu yang jauh lebih mematikan daripada sekadar drone patroli. Mereka baru saja melepaskan unit pemburu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!