Logam dingin dari dinding lorong ventilasi terasa seperti es yang membakar kulit lenganku. Aku merangkak dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan gema di sepanjang pipa baja ini. Bau oli mesin dan ozon menyengat hidung, sisa-sisa dari sistem sirkulasi udara yang bekerja terlalu keras di wilayah transisi. Ini adalah Lant** 50, wilayah kelas menengah, tempat di mana mereka yang beruntung bisa mencicipi daging sintetis setiap minggu dan tidur di ranjang yang tidak berbau apak.
Aku mengintip melalui celah kisi-kisi ventilasi yang berdebu. Pemandangan di bawah sangat berbeda dengan kekumuhan Lant** 10 tempatku tumbuh besar. Di sini, lampu-lampu neon membiaskan cahaya kebiruan yang lembut pada dinding-dinding putih bersih. Tidak ada coretan dinding, tidak ada tumpukan limbah di sudut jalan. Namun, bagiku, kebersihan ini terasa mencekam—seperti sebuah rumah duka yang baru saja disemprot pengharum ruangan.
"Zaki, kau mendengarku?" Suara desis statis muncul dari alat komunikasi kecil di telingaku. Itu Maya.
"Aku di posisi. Sektor Utara, tepat di atas Aula Grandis," bisikku, memastikan suaraku tidak lebih keras dari dengungan kipas di belakangku.
"Tetap di sana. Upacara Kenaikan akan dimulai lima menit lagi. Pastikan kau merekam semuanya dengan sensor optikmu. Kita butuh bukti visual bahwa mereka tidak sedang menuju surga," sahut Maya. Nada suaranya datar, tapi aku bisa merasakan kecemasan yang tertahan di sana.
Aku menggeser tubuhku, mencari sudut pandang yang lebih baik. Di bawah sana, kerumunan orang mulai berkumpul. Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman emas di bagian kerah—seragam kebanggaan bagi mereka yang terpilih untuk 'naik'. Wajah-wajah itu tampak berseri, atau setidaknya itulah yang ingin ditunjukkan oleh propaganda menara. Mereka percaya bahwa hari ini adalah puncak dari segala pengabdian mereka. Mereka percaya bahwa di atas sana, sebuah utopia menanti.
Pikiranku melayang kembali ke ruang hampa di Lant** 99 yang kulihat beberapa hari lalu. Ruangan dingin dengan palka pembuangan yang terbuka lebar ke arah kegelapan kosmik. Bayangan manusia yang terlempar seperti sampah ke dalam perut kapal-kapal Valthar masih menghantuiku.
Tiba-tiba, suara sangkakala elektronik bergema, mengguncang debu di sekitarku. Pintu aula yang besar terbuka perlahan. Sepuluh orang terpilih berjalan beriringan menuju podium utama. Di atas mereka, sebuah hologram besar menampilkan logo Menara Langit: sebuah tangga menuju bintang-bintang.
"Lihat itu, Maya. Mereka tampak... terlalu tenang," bisikku sambil mengerutkan kening.
Aku memfokuskan pandanganku pada salah satu kandidat, seorang pria paruh baya yang berdiri paling depan. Namanya mungkin sering disebut dalam daftar warga teladan. Namun, saat kamera sensor di mataku melakukan pembesaran (zoom), aku melihat sesuatu yang janggal.
Pria itu tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. Pupil matanya melebar secara tidak wajar, hampir menelan seluruh warna irisnya yang cokelat. Kepalanya miring sedikit ke kanan, seolah otot lehernya tidak c**up kuat untuk menopang beban tengkoraknya sendiri.
"Maya, periksa biometrik mereka jika kau bisa meretas sistem kesehatan lant** ini," perintahku.
"Sedang kucoba... Tunggu. Ini aneh," suara Maya terdengar bergetar. "Detak jantung mereka berada di bawah 40 detak per menit. Itu hampir mustahil untuk orang yang seharusnya merasa sangat bersemangat."
Aku terus memperhatikan. Seorang wanita di barisan belakang mulai melangkah limbung. Seorang penjaga berpakaian zirah perak—pa**kan elit pengawas—dengan sigap memegang lengannya. Alih-alih membantu dengan ramah, penjaga itu tampak menyuntikkan sesuatu dari balik sarung tangannya ke pergelangan tangan wanita itu. Dalam sekejap, wanita itu kembali tegak, wajahnya kembali mengenakan topeng kebahagiaan yang kosong.
"Mereka dibius," desisku. Kemarahan mulai membakar dadaku. "Mereka bukan sedang bersiap untuk kenaikan spiritual. Mereka sedang dikalengkan."
"Zaki, lihat lengan mereka," instruksi Maya.
Aku menajamkan penglihatan. Di setiap pergelangan tangan para kandidat, terdapat sebuah gelang logam hitam yang berkedip dengan ritme yang lambat. Itu bukan sekadar perhiasan upacara. Itu adalah alat pemantau kualitas—seperti label pada potongan daging di pasar.
Pemimpin upacara, seorang pria tua dengan jubah yang lebih megah, mulai berbicara tentang pengabdian dan janji kehidupan abadi. Suaranya berat dan berwibawa, memenuhi aula dengan janji-janji palsu yang membuat perutku mual. Dia menyebut mereka sebagai 'Benih Terbaik'.
Benih. Kata itu kini memiliki makna yang jauh lebih mengerikan bagiku. Valthar tidak menginginkan manusia yang memberontak. Mereka menginginkan nutrisi yang stabil, yang pasif, yang tidak akan melawan saat 'dipanen'.
Salah satu kandidat, seorang pemuda yang mungkin usianya beberapa tahun di bawahku, tiba-tiba menoleh ke arah langit-langit—tepat ke arah lubang ventilasiku. Untuk sesaat, mata kami seolah bertemu. Matanya berkaca-kaca, ada secercah ketakutan purba yang berhasil menembus pengaruh obat bius itu. Mulutnya terbuka sedikit, seolah ingin meneriakkan kata 'tolong', tapi yang keluar hanyalah suara erangan pelan yang segera tenggelam oleh musik orkestra yang megah.
"Aku harus turun," kataku tegas.
"Jangan g***, Zaki! Kau sendirian di sana. Jika kau ketahuan sekarang, rencana kita hancur sebelum dimulai!" Maya memprotes lewat alat komunikasi.
"Jika aku membiarkan mereka naik ke lift itu, mereka mati, Maya. Aku bisa melihat botol-botol gas yang mulai keluar dari celah lant** podium."
Aku melihat kepulan uap tipis berwarna ungu pucat mulai menyelimuti kaki para kandidat. Itu adalah gas penenang tingkat tinggi. Mereka mulai berjalan ma**k ke dalam lift besar di tengah podium dengan gerakan mekanis, seperti zombi yang digiring ke tempat penjagalan.
Tiba-tiba, sensor di pergelangan tanganku berbunyi merah. *Peringatan: Kehadiran tidak terdeteksi teridentifikasi di Sektor Ventilasi 4B.*
"Sial," umpatku. "Sistem keamanan lant** ini lebih sensitif dari yang kukira."
"Zaki! Keluar dari sana sekarang! Pa**kan pengawas menuju posisimu!" Teriak Maya.
Aku mendengar suara derap sepatu bot berat di dalam pipa ventilasi, tidak jauh dari belakangku. Mereka tidak mengirim manusia; itu adalah suara drone pemindai tipe 'Spider'. Aku merayap mundur dengan cepat, tapi sebuah kilatan laser merah sudah menyapu dinding di depanku.
Aku terjebak di antara ribuan orang yang sedang dibius menuju kematian mereka di bawah sana, dan mesin pembunuh yang merayap di belakangku. Satu hal yang pasti: Upacara Kenaikan ini adalah sebuah pesta makan malam, dan aku baru saja menyadari bahwa aku sedang berdiri di atas piringnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!