Suara derap sepatu bot taktis bergema di koridor logam, memantul di dinding-dinding steril Lant** 99 yang dingin. Bunyi itu bukan lagi sekadar peringatan; itu adalah genderang kematian. Zaki bisa merasakan getaran di bawah telapak kakinya, setiap dentuman menandakan bahwa para pengawal elit—manusia-manusia yang menukar nurani mereka demi jatah nutrisi ekstra dari Valthar—hanya berjarak dua tikungan dari posisi mereka.
"Di sini! Cepat!" Suara Maya terdengar mendesak, hampir tenggelam oleh desis uap dari pipa bocor di langit-langit.
Maya menarik sebuah panel kisi-kisi besi yang tersembunyi di balik bayangan pilar penopang. Lubang di baliknya tampak seperti mulut gelap yang siap menelan apa pun. Itu adalah saluran udara sekunder, sebuah labirin sempit yang hanya dirancang untuk sirkulasi gas limbah, bukan untuk dilewati manusia dewasa.
"Kau bercanda?" Zaki menatap lubang itu dengan dahi berkerut. Lebarnya tidak lebih dari bahunya.
"Pilihannya cuma ini atau kau berakhir di palka pembuangan sebagai pupuk alien, Zaki. Ma**k!" Maya tidak menunggu jawaban. Wanita itu meluncur ma**k lebih dulu dengan kelincahan seorang teknisi yang sudah biasa merayap di sela-sela mesin Menara.
Zaki menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia menoleh ke belakang sekali lagi. Lampu merah darurat berputar-putar di ujung lorong, membiaskan bayangan panjang para pengejar mereka yang semakin mendekat. Tanpa pikir panjang lagi, ia merunduk dan memaksa tubuhnya ma**k ke dalam lubang gelap itu.
Begitu ma**k, dunia seketika berubah. Cahaya neon yang menyilaukan digantikan oleh kegelapan pekat yang hanya dipecahkan oleh pendar kecil dari alat pemindai milik Maya di depan. Ruang itu sangat sempit. Logam dingin menekan bahu Zaki dari kedua sisi. Setiap kali ia bergerak, gesekan jaket sintetisnya pada dinding saluran menghasilkan suara berdecit yang memilukan telinga.
"Terus bergerak," bisik Maya dari kegelapan di depan. Suaranya terdengar teredam, seolah-olah ia bicara dari dalam kubur.
Zaki merayap menggunakan siku dan lututnya. Bau logam berkarat dan ozon menyengat penciumannya. Setelah sepuluh menit merayap, suhu di dalam saluran mulai meningkat. Udara terasa berat, pengap, dan kekurangan oksigen yang segar. Zaki mulai merasa seolah-olah ia sedang menghirup debu panas.
Tiba-tiba, ia berhenti. Bahunya tersangkut di bagian sambungan pipa yang sedikit menonjol.
"Maya..." panggilnya. Suaranya bergetar.
"Jangan berhenti, Zaki. Kita hampir sampai di persimpangan utama."
Zaki mencoba mendorong tubuhnya ke depan, tetapi logam itu terasa seperti sedang mencengkeramnya. Ia mencoba menarik napas, namun paru-parunya seolah menolak udara yang semakin menipis itu. Ruang sempit ini mendadak terasa seperti peti mati yang dirancang khusus untuknya. Bayangan masa kecilnya di panti a**han lant** bawah kembali menghantui—saat ia sering dihukum dikurung di dalam lemari sempit oleh pengawas karena mencuri sepotong roti ekstra.
Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya, ma**k ke matanya, membuatnya perih. Pandangannya mulai mengabur. Ia merasa dinding-dinding logam di sampingnya perlahan-lahan bergerak merapat, hendak meremukkan tulang rusuknya.
"Aku tidak bisa bernapas," gumam Zaki. Napasnya menjadi pendek-pendek dan cepat. Gejala serangan panik itu datang seperti ombak besar yang menghantamnya. "Maya, aku terjepit! Dindingnya... dindingnya menutup!"
"Zaki, dengarkan aku!" Suara Maya terdengar lebih keras sekarang, penuh otoritas. Zaki bisa merasakan tangan Maya meraih pergelangan tangannya dari kegelapan di depan. Genggaman itu kuat dan nyata. "Dindingnya tidak bergerak. Itu hanya pikiranmu. Fokus pada tanganku. Tarik napas perlahan... satu, dua, tiga..."
Zaki memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencoba mengikuti instruksi Maya, namun rasa sesak itu masih mencekik lehernya. Ia merasa seperti bahan pangan yang sedang dikemas, tak berdaya, tak berarti. Ketakutan terbesarnya menjadi nyata: mati tanpa jejak di dalam usus besi milik ras Valthar.
"Zaki! Lihat aku!" Maya mengarahkan senter kecil ke wajahnya sendiri. Wajah wanita itu tampak pucat namun penuh tekad. "Kau bukan sekadar nutrisi bagi mereka. Kau adalah orang pertama yang melihat kebohongan di Lant** 100. Jika kau mati di sini, kebenaran itu ikut mati bersamamu. Kau mau ribuan orang di bawah sana terus mengantre menuju pembant**an karena kau menyerah pada rasa takutmu?"
Kata-kata itu menghantam Zaki lebih keras daripada kurangnya oksigen. Ia membuka mata. Fokusnya perlahan kembali ke arah tangan Maya yang menggenggamnya. Kebenaran yang ia temukan di Lant** 99—ruang hampa yang dingin itu—menjadi api yang mulai membakar rasa takutnya. Ia tidak boleh menjadi tidak berarti. Ia harus menjadi saksi.
Dengan sisa tenaganya, Zaki membuang napas habis-habis untuk mengempiskan rongga dadanya, lalu dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tubuhnya melewati bagian pipa yang menonjol itu. Kulit bahunya tergores logam tajam, menimbulkan rasa perih yang nyata, tapi itu justru membuatnya merasa hidup.
"Bagus," bisik Maya, lega. "Ayo, sedikit lagi."
Mereka terus merayap hingga mencapai sebuah jeruji besi di bawah mereka. Maya menendangnya hingga terbuka, dan mereka jatuh terguling ke sebuah ruangan gelap yang berbau seperti oli mesin. Zaki terengah-engah, menghirup udara yang—meski kotor—terasa seperti anugerah terbesar dalam hidupnya.
Ia bangkit berdiri dengan kaki gemetar, mengusap debu dari pakaiannya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Di sudut ruangan, sebuah layar monitor kecil menyala secara otomatis, menampilkan peta navigasi menara. Sebuah titik merah berkedip tepat di posisi mereka berada sekarang.
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin bergema melalui pengeras suara di dinding.
"Subjek Zaki dan Teknisi Maya terdeteksi di Sektor Pemeliharaan 4-B. Protokol pembersihan dimulai dalam tiga puluh detik."
Zaki dan Maya saling berpandangan. Di langit-langit ruangan, lubang-lubang kecil mulai terbuka, mengeluarkan gas berwarna hijau pucat yang berdesis pelan.
"Itu bukan gas tidur, kan?" tanya Zaki dengan suara serak.
Maya menggeleng, wajahnya mengeras. "Gas saraf. Zaki, lari!"
Namun, saat mereka berbalik menuju pintu keluar, suara dentuman keras terdengar dari balik pintu besi yang terkunci. Seseorang, atau sesuatu, sedang mencoba mendob**k ma**k dari sisi lain. Dan itu bukan suara manusia.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!